10 Tahun Berlalu! Ingat 5 Momen Ikonik 2016 yang Bentuk Tren Digital Masa Kini?

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 22, 2026


Foto: Gemini

Teknologi.id – Di tengah riuhnya pembicaraan mengenai tren kilas balik (throwback) di media sosial belakangan ini, tahun 2016 menjadi salah satu periode yang paling banyak disorot. Bukan tanpa alasan, satu dekade lalu ternyata menjadi titik balik revolusioner bagi industri teknologi global. Tahun tersebut bukan sekadar angka di kalender, melainkan momen dimulainya pergeseran besar dalam cara manusia berinteraksi, menikmati hiburan, hingga berbagi momen pribadi.

Menilik kembali ke belakang, banyak teknologi yang kita anggap "normal" hari ini—seperti headset nirkabel atau fitur Stories 24 jam—sebenarnya bermula dari keputusan-keputusan berani (dan kadang kontroversial) yang terjadi tepat sepuluh tahun silam. Berikut adalah lima momen teknologi paling ikonik di tahun 2016 yang membentuk lanskap digital kita di tahun 2026 ini.

1. Kelahiran Format 'Stories': Awal Mula Era Konten Ephemeral


Foto: IDB

Pada Agustus 2016, sebuah fitur baru meluncur di salah satu platform berbagi foto terbesar dunia yang mengubah segalanya: Stories. Fitur yang memungkinkan pengguna mengunggah foto dan video vertikal yang menghilang otomatis dalam 24 jam ini awalnya dicibir sebagai tiruan mentah dari Snapchat.

Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Kehadiran Stories justru menjadi magnet utama yang membuat pengguna betah berlama-lama di dalam aplikasi. Sebelum 2016, media sosial dipenuhi oleh konten yang dikurasi dengan sangat rapi dan estetik (feed aesthetic). Kehadiran Stories mendobrak kaku tersebut, mengajak pengguna untuk lebih spontan, kasual, dan "apa adanya".

Satu dekade kemudian, format ini telah berevolusi menjadi alat komunikasi yang sangat powerful. Dari sekadar fitur berbagi keseharian, Stories kini menjadi ladang bisnis raksasa melalui fitur Close Friends berbayar, stiker interaktif, hingga integrasi belanja langsung. Bahkan, format ini begitu sukses hingga diadopsi oleh hampir semua aplikasi pesan instan modern seperti WhatsApp (Status) dan Facebook.

2. Keberanian Menghapus 'Audio Jack': Revolusi Nirkabel


Foto: Getty Images

Salah satu momen paling kontroversial di tahun 2016 adalah ketika raksasa teknologi asal Cupertino, Apple, merilis iPhone 7 tanpa lubang colokan earphone standar (audio jack 3,5 mm). Keputusan ini memicu gelombang protes global. Pengguna merasa dipersulit karena harus menggunakan adaptor atau membeli perangkat audio baru yang harganya tidak murah.

Meski dihujani kritik, langkah berani ini ternyata visioner. Penghapusan jack audio memaksa industri dan konsumen untuk beralih ke teknologi nirkabel. Hal ini memicu ledakan pasar True Wireless Stereo (TWS) yang kini menjadi aksesori wajib bagi setiap pemilik smartphone. Di tahun 2026, menemukan ponsel flagship atau bahkan mid-range dengan lubang audio jack justru menjadi hal yang langka. Apple sukses "memaksa" dunia untuk memotong kabel dan beralih ke masa depan audio Bluetooth.

3. Demam 'Pokémon Go': Saat Dunia Nyata dan Virtual Menyatu


Foto: TeeChu

Juli 2016 akan selalu dikenang sebagai bulan di mana jutaan orang di seluruh dunia mendadak keluar rumah, berjalan menyusuri trotoar, taman, hingga masuk ke pelosok gang demi berburu monster digital. Fenomena Pokémon Go adalah bukti nyata pertama dari kekuatan teknologi Augmented Reality (AR) yang sukses diadopsi secara massal.

Game hasil kolaborasi Niantic dan Nintendo ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menciptakan fenomena sosial yang unik. Orang-orang yang biasanya mengurung diri di kamar, tiba-tiba berkumpul di PokéStop (titik kumpul dalam game) dan berinteraksi dengan sesama pemain. Meskipun kini hype-nya telah stabil, Pokémon Go meletakkan dasar bagi pengembangan teknologi AR dan metaverse berbasis lokasi yang kini semakin canggih.


4. Algoritma Menggeser Kronologi: Akhir dari Lini Masa yang Urut


Foto: Digital RosoGulla
Sebelum 2016, kita melihat unggahan teman di media sosial secara berurutan berdasarkan waktu tayang (chronological order). Namun, tahun itu menjadi akhir dari kesederhanaan tersebut. Platform media sosial mulai memperkenalkan feed berbasis algoritma.

Perubahan ini memprioritaskan konten berdasarkan relevansi dan minat pengguna, bukan waktu unggah. Meskipun awalnya diprotes karena pengguna merasa "kehilangan" unggahan teman dekat, sistem ini terbukti efektif meningkatkan waktu penggunaan aplikasi. Algoritma inilah yang kini menjadi "otak" di balik hampir semua platform digital, yang mampu menebak apa yang ingin kita lihat bahkan sebelum kita mencarinya—meski kadang memicu perdebatan mengenai gelembung informasi (filter bubble).

Baca juga: Apa itu Algoritma dalam Ilmu Komputer? Ini Penjelasannya

5. Netflix Offline: Menonton Tanpa Tergantung Sinyal


Foto: Hybrid

Bagi penikmat film, November 2016 adalah momen yang melegakan. Netflix akhirnya merilis fitur Download yang memungkinkan pengguna menonton konten secara offline. Langkah ini terlihat sederhana namun dampaknya sangat masif, terutama bagi pengguna di negara berkembang dengan koneksi internet yang tidak stabil atau kuota data terbatas.

Fitur ini mengubah budaya menonton (binge-watching). Orang-orang mulai terbiasa mengunduh serial favorit mereka di rumah saat terhubung Wi-Fi, lalu menontonnya di kereta, pesawat, atau saat bepergian tanpa takut kehabisan kuota. Kebijakan ini kemudian menjadi standar industri layanan streaming video di seluruh dunia.

Baca juga: Siap Guncang Dunia Metaverse! Netflix Akuisisi Ready Player Me

Tahun 2016 mengajarkan kita bahwa inovasi sering kali diawali dengan resistensi. Dari hilangnya lubang earphone hingga perubahan algoritma yang membingungkan, semua perubahan tersebut pada akhirnya membentuk kenyamanan digital yang kita nikmati hari ini. Kilas balik ini bukan sekadar nostalgia, tetapi pengingat bahwa teknologi akan terus bergerak maju, sering kali dengan cara yang mengejutkan dan mengubah kebiasaan manusia secara permanen.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

Share :