Lagi Tren di Medsos, Apa Sih Arti Sebenarnya dari Emoji Batu 🗿 Bagi Gen Z?

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 23, 2026


Foto: Gemini

Teknologi.id – Bahasa komunikasi digital terus berevolusi dengan kecepatan yang sulit diprediksi, terutama di tangan Generasi Z. Baru-baru ini, jagat media sosial—khususnya TikTok—diramaikan oleh fenomena unik yang membingungkan banyak pengguna internet dari generasi sebelumnya. Emoji Batu Moai (🗿), yang selama ini dikenal sebagai simbol wajah datar atau ekspresi tabah, mendadak diklaim memiliki arti baru: "Sayang".

Tren ini menyebar luas di kolom komentar dan percakapan aplikasi pesan instan, di mana para remaja mulai menyisipkan emoji batu di akhir kalimat romantis atau saat menyapa pasangan mereka. Namun, benarkah makna emoji ini telah bergeser secara linguistik, ataukah ini hanyalah mitos digital yang terlanjur dipercaya?

Asal-Usul Kebingungan: 'Glitch' Terjemahan yang Menyesatkan 

Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa perubahan makna ini tidak terjadi secara organik karena kesepakatan budaya, melainkan bermula dari sebuah kesalahpahaman teknis yang viral.

Sumber utama kehebohan ini berasal dari sebuah video TikTok yang menunjukkan tangkapan layar (screenshot) laman Google Translate. Dalam video tersebut, ditampilkan bahwa ketika emoji batu (🗿) dimasukkan dan diterjemahkan dari Bahasa Yunani ke Bahasa Indonesia, hasil terjemahan yang muncul adalah kata "Sayang".

Video tersebut dengan cepat menyebar dan ditonton tanpa melakukan verifikasi ulang, banyak pengguna Gen Z yang langsung mempercayai informasi tersebut. Alhasil, narasi bahwa "emoji batu = sayang" menjadi semacam "fakta baru" di lingkaran pergaulan mereka.

Seorang warganet berkomentar dengan polosnya, "Bro baru ingat emot batu bermaksud sayang. Pernah ada video yang jelasin." Sementara pengguna lain mengaku ragu namun tetap ingin mengikutinya, "Iya uda pernah liat VT-nya. Mau pake emot itu takut banget ada yang tau artinya, padahal kan maksud pake emot itu kayak emot ini 😐."

Baca juga: Jangan Salah Kirim! Ini Arti 21 Emoji WhatsApp Terpopuler 2026 yang Wajib Kamu Tahu

Makna Asli dan Sejarah Emoji Moai (🗿)


Foto: Wikimedia Commons

Jika bukan "Sayang", lantas apa arti sebenarnya dari emoji ini?

Emoji yang sering disebut "Kepala Batu" ini sebenarnya merepresentasikan Moai, patung-patung monolitik raksasa yang dibuat oleh orang Rapa Nui di Pulau Paskah (Easter Island). Dalam katalog Unicode, emoji ini resmi diperkenalkan pada tahun 2010 melalui versi Unicode 6.0.

Selain merujuk pada situs bersejarah di Chili tersebut, desain emoji ini di banyak platform (seperti iOS dan Android) juga terinspirasi dari patung Moyai di Stasiun Shibuya, Tokyo. Patung Moyai di Jepang memiliki bentuk yang mirip namun dengan fitur bibir yang lebih menonjol dibandingkan Moai asli di Pulau Paskah.

Dalam budaya internet global sebelum 2026, emoji 🗿 memiliki beberapa lapisan makna:

  1. Wajah Datar (Deadpan): Digunakan untuk merespons lelucon yang garing atau tidak lucu.

  2. Stoik/Tabah: Menunjukkan ketenangan atau ketidakpedulian dalam menghadapi situasi sulit.

  3. Kekuatan/Keteguhan: Kadang diasosiasikan dengan istilah "Chad" atau "Sigma" dalam meme internet, yang menggambarkan sosok maskulin yang kuat dan tidak emosional.

  4. Misteri: Karena ekspresinya yang sulit ditebak.

Psikologi Gen Z dan Pergeseran Makna Simbol

Fenomena "Batu = Sayang" ini menarik untuk dibedah dari sisi psikologi komunikasi digital. Generasi Z dikenal gemar menciptakan "kode" atau bahasa slang yang eksklusif untuk kelompok mereka. Hal ini sering kali dilakukan secara tidak sadar sebagai bentuk enkripsi sosial—cara untuk berkomunikasi tanpa dipahami sepenuhnya oleh orang tua atau generasi di atas mereka (Boomer dan Milenial).

Meskipun asal-usulnya dari informasi palsu, penggunaan emoji batu sebagai tanda kasih sayang menunjukkan betapa cairnya makna simbol di era digital. Jika sebuah komunitas menyepakati bahwa batu berarti sayang, maka dalam konteks komunitas tersebut, maknanya menjadi valid, terlepas dari definisi kamus resmi.

Sifat emoji batu yang "keras" dan "dingin" yang kemudian dimaknai sebagai "sayang" (yang seharusnya lembut/hangat) juga bisa dilihat sebagai bentuk ironi atau humor absurdist yang memang menjadi ciri khas selera humor Gen Z. Mungkin bagi mereka, memberikan emoji hati (❤️) sudah terlalu umum (cringe), sehingga menggunakan emoji batu terasa lebih unik dan lowkey.

Baca juga: Satu Emoji Jempol Bisa Bikin Petani Kanada Bayar Denda Rp 1 Miliar, Begini Ceritanya

Ikuti Tren atau Tetap Logis?

Pada akhirnya, bahasa adalah kesepakatan. Jika Anda menerima pesan "Selamat malam 🗿" dari pasangan Gen Z Anda, jangan buru-buru tersinggung atau mengira mereka sedang marah (muka batu). Besar kemungkinan, mereka sedang berusaha bersikap romantis dengan cara mereka yang unik dan quirky.

Namun, bagi Anda yang mengutamakan ketepatan berbahasa, perlu diingat bahwa secara harfiah dan historis, tidak ada kaitan antara patung purbakala di Pasifik dengan ungkapan cinta. Tren ini adalah bukti nyata betapa mudahnya misinformasi diubah menjadi budaya pop hanya lewat satu video pendek yang viral. Silakan saja menggunakannya untuk seru-seruan, namun pahami juga bahwa di luar gelembung media sosial Indonesia, dunia masih melihat 🗿 sebagai wajah batu yang diam seribu bahasa.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News




(WN/ZA)

Share :