
Foto: Britannica Money
Teknologi.id – Menandai dimulainya tahun 2026, Elon Musk melalui perusahaan rintisan kecerdasan buatannya, xAI, kembali menghebohkan dunia teknologi dengan mengumumkan ekspansi masif pusat data (data center) miliknya. Proyek yang berlokasi di Memphis, Amerika Serikat, ini diklaim akan menjadi pusat pelatihan AI terbesar di dunia. Investasi yang digelontorkan tidak main-main, yakni mencapai nilai fantastis Rp300 triliun (setara dengan kurang lebih US$19-20 miliar). Langkah ini dipandang sebagai upaya "all-in" Musk untuk menyalip dominasi OpenAI, Google, dan Microsoft dalam perlombaan senjata AI global.
Pusat data ini bukan sekadar gudang server biasa, melainkan jantung dari pengembangan model AI Grok yang terintegrasi dengan platform X. Dengan skala investasi sebesar ini, Musk ingin memastikan bahwa xAI memiliki infrastruktur komputasi paling kuat di muka bumi, yang mampu memproses data dalam skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya guna mencapai target kecerdasan buatan umum (Artificial General Intelligence).
Ekspansi Colossus: Mengakuisisi 'MACROHARDRR' di Mississippi Inti dari laporan terbaru ini adalah akuisisi gedung ketiga oleh xAI untuk memperluas kompleks pusat data yang dikenal dengan nama Colossus. Gedung baru ini terletak di Southaven, Mississippi, yang berbatasan langsung dengan lokasi operasional xAI saat ini di Memphis, Tennessee. Menariknya, Musk memberikan nama "MACROHARDRR" pada gedung ketiga tersebut—sebuah nama yang secara luas dianggap sebagai sindiran khas Musk terhadap rival beratnya, Microsoft.
Langkah perluasan ke Southaven ini sangat strategis karena memungkinkan xAI untuk memperluas kluster komputasinya secara fisik tanpa harus memindahkan infrastruktur yang sudah ada di Memphis. Dengan penambahan gedung seluas 810.000 kaki persegi ini, kompleks Colossus bertransformasi dari sebuah pusat data regional menjadi sebuah "behemoth" infrastruktur digital yang membentang di perbatasan dua negara bagian, menciptakan salah satu konsentrasi daya komputasi tertinggi di dunia.
Baca juga: Pecahkan Rekor Dunia! Harta Elon Musk Tembus Rp12.500 Triliun
Kekuatan Komputasi 2 Gigawatt dan Ratusan Ribu Chip Nvidia
Salah satu poin paling mencolok dari berita ini adalah target kapasitas daya yang ingin dicapai oleh Musk. Ekspansi ini diproyeksikan akan membawa total kapasitas komputasi xAI mendekati angka 2 Gigawatt (2 GW). Sebagai perbandingan, daya sebesar itu cukup untuk memasok energi listrik bagi sekitar 750.000 hingga 1,5 juta rumah tangga di Amerika Serikat. Skala ini menempatkan proyek xAI dalam liga yang berbeda, jauh melampaui standar pusat data hyperscale saat ini.
Untuk menjalankan infrastruktur raksasa ini, xAI dilaporkan tengah mengincar pengadaan hingga 550.000 chip grafis (GPU) terbaru dari Nvidia Corp. Chip-chip ini akan ditempatkan di dalam fasilitas "Colossus 2" dan gedung baru MACROHARDRR. Investasi pada prosesor tingkat tinggi inilah yang menyedot sebagian besar dana Rp 300 triliun tersebut. Dengan jumlah chip yang masif, xAI berharap dapat melatih model bahasa besar (Large Language Models) dengan kecepatan yang berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan kompetitornya, sehingga mampu menghadirkan pembaruan Grok secara hampir real-time.

Strategi Pendanaan dan Kemandirian Energi xAI
Membangun infrastruktur senilai Rp 300 triliun membutuhkan dukungan finansial yang sangat kuat. Sepanjang akhir tahun 2025, xAI dilaporkan telah melakukan penggalangan dana besar-besaran, termasuk diskusi untuk mendapatkan pendanaan utang dan ekuitas sebesar US$20 miliar. Dukungan ini datang dari berbagai pemodal ventura papan atas dan investor yang percaya pada visi Musk untuk menciptakan AI yang lebih transparan dan "mencari kebenaran".
Selain tantangan finansial, masalah energi menjadi hambatan utama. Mengingat konsumsi listrik 2 GW yang sangat besar, xAI tidak bisa hanya bergantung pada jaringan listrik publik yang sudah ada. Oleh karena itu, bagian dari rencana besar ini mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga gas alam mandiri di lokasi proyek. Strategi kemandirian energi ini diambil untuk memastikan stabilitas operasional 24/7 dan menghindari gangguan pada grid listrik lokal yang sering kali dikritik oleh aktivis lingkungan karena dianggap membebani infrastruktur publik.
Baca juga: Grok Imagine Rilis! AI Baru Elon Musk Bikin Gambar & Video 15 Detik, Plus Spicy Mode
Dampak Ekonomi dan Persaingan dengan Raksasa Teknologi
Pembangunan pusat data terbesar dunia ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan, tidak hanya bagi industri teknologi tetapi juga bagi wilayah Memphis dan Southaven. Proyek ini menciptakan ribuan lapangan kerja di bidang konstruksi, teknik listrik, hingga teknik perangkat lunak tingkat tinggi. Musk secara terbuka menyatakan bahwa xAI tengah merekrut insinyur terbaik dunia dengan tawaran kompensasi yang "luar biasa" untuk mengelola fasilitas ini.
Dari sisi kompetisi, langkah Musk ini adalah serangan langsung terhadap aliansi Microsoft dan OpenAI. Dengan membangun infrastruktur sendiri, Musk ingin memutus ketergantungan pada penyedia layanan cloud pihak ketiga. Jika berhasil, xAI akan memiliki kontrol penuh atas seluruh tumpukan teknologi mereka, mulai dari chip dan server hingga algoritma dan antarmuka pengguna. Ini merupakan pola klasik Elon Musk: melakukan integrasi vertikal untuk mencapai efisiensi maksimal dan kecepatan inovasi yang tidak bisa diikuti oleh birokrasi perusahaan besar lainnya.
Tantangan Lingkungan dan Kritik Keamanan Siber
Meskipun disambut baik oleh para investor dan penggiat teknologi, proyek "Rp 300 triliun" ini bukannya tanpa kritik. Konsumsi energi yang sangat besar dan penggunaan pembangkit listrik tenaga gas alam telah menarik perhatian aktivis lingkungan yang khawatir akan emisi karbon yang dihasilkan. Selain itu, kecepatan pembangunan yang sangat agresif menimbulkan pertanyaan mengenai dampak kebisingan dan beban panas terhadap ekosistem lokal di Memphis dan Mississippi.
Di sisi lain, pakar keamanan siber juga menyoroti risiko konsentrasi daya komputasi yang begitu besar di satu lokasi fisik. Fasilitas seperti Colossus akan menjadi target utama bagi serangan siber tingkat negara. Namun, bagi Elon Musk, risiko-risiko ini tampaknya merupakan harga yang pantas dibayar untuk memenangkan perlombaan menuju AI masa depan. Bagi dunia, proyek ini adalah bukti bahwa di tahun 2026, data dan daya komputasi telah menjadi komoditas paling berharga, melebihi minyak dan emas.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)