
Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi
Teknologi.id - Persaingan dalam pengembangan artificial intelligence (AI) yang kian intens menuntut para pemimpin teknologi memiliki pendekatan unik dalam produktivitas. Jika mayoritas CEO seperti Sundar Pichai (Google), Tim Cook (Apple), hingga Mark Zuckerberg (Meta) dikenal memiliki rutinitas tidur teratur pada malam hari, CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, justru menjalani pola yang berbeda. Hassabis mengungkapkan bahwa ia menerapkan sistem dua waktu kerja yang memisahkan aktivitas operasional dengan eksplorasi kreatif.
Hassabis mengaku hanya tidur sekitar enam jam per hari. Namun, waktu tidurnya bukan pada malam hari, melainkan dimulai setelah subuh.
"Saya mencoba tidur enam jam, tetapi kebiasaan tidur saya tidak biasa. Saya mengaturnya di siang hari," ujar Hassabis dalam wawancara dengan Fortune.
Pola ini memungkinkannya tetap memimpin perusahaan raksasa sekaligus tetap aktif melakukan riset mendalam di bidang sains.
Baca juga: Putus HP 3 Tahun! Cucu Pendiri Samsung Tembus SNU dan Bongkar Rahasianya
Siklus Kerja Ganda: Manajemen dan Riset
Dalam kesehariannya, Hassabis menghabiskan waktu kerja pertama di kantor untuk berbagai aktivitas operasional dan rapat yang dilakukan tanpa jeda. Baginya, siang hari adalah waktu untuk manajemen manusia dan koordinasi tim. Setelah urusan kantor selesai, ia akan pulang untuk makan malam dan menghabiskan waktu bersama keluarga demi menjaga keseimbangan hidup.
Namun, alih-alih beristirahat setelah hari yang panjang, Hassabis justru memulai "hari kerja kedua" sekitar pukul 22.00 hingga 04.00 pagi. Pada waktu dini hari inilah ia fokus berpikir, melakukan riset, dan mengerjakan pekerjaan kreatif yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Menurutnya, ia bukan tipe orang yang produktif saat pagi atau siang hari, melainkan lebih optimal bekerja pada dini hari saat dunia sedang terlelap. Ia mengaku baru benar-benar merasa "hidup" untuk berkreasi sekitar pukul 01.00 pagi. Sekitar pukul 04.00 subuh, ia baru akan tidur hingga sekitar pukul 10.00 pagi sebelum kembali beraktivitas di kantor.
Rutinitas ini bukan sekadar preferensi sesaat, melainkan metode yang telah ia asah selama sekitar satu dekade memimpin DeepMind. Perusahaan ini didirikan pada 2010 sebagai laboratorium AI sebelum akhirnya diakuisisi Google pada 2014. Akuisisi tersebut bahkan memicu dinamika di antara para petinggi teknologi; tawaran CEO Meta Mark Zuckerberg yang lebih tinggi sempat ditolak, dan hal ini pula yang memicu Elon Musk meluncurkan OpenAI sebagai langkah tandingan atas kesepakatan tersebut.
Evolusi DeepMind dan Tekanan Inovasi AI

Foto: CoinGeek
Pada 2023, DeepMind digabung dengan Google Brain untuk membentuk Google DeepMind. Divisi ini menjadi tulang punggung pengembangan berbagai produk AI Google, termasuk LLM (Large Language Models/ model bahasa besar) Gemini. Selain memimpin unit AI raksasa tersebut, Hassabis juga mengelola Isomorphic Labs, sebuah startup yang bertujuan menyelesaikan masalah penyakit dengan bantuan kecerdasan buatan melalui pemodelan protein.
Di tengah jadwal yang sangat padat dan tanggung jawab memimpin perusahaan triliunan dolar tersebut, Hassabis bahkan berhasil meraih Penghargaan Nobel Kimia pada tahun 2024. Prestasi ini menunjukkan bahwa meski ia sibuk mengurus manajemen perusahaan, ia tetap aktif berkontribusi dalam dunia sains murni melalui waktu kerja dini harinya yang sunyi dari gangguan eksternal maupun distraksi operasional kantor.
Baca juga: Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik
Antara Performa dan Kesehatan
Meskipun pola kerja ini terbukti efektif dalam memacu inovasi, Hassabis menyadari bahwa pola tidurnya tidak ideal menurut standar kesehatan umum. Ia mengakui bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak kurang baik bagi otak, mengingat anjuran medis untuk orang dewasa berkisar antara 7 hingga 9 jam per hari. Baginya, keheningan dini hari adalah laboratorium terbaik untuk merancang masa depan kecerdasan buatan, meskipun ada harga kesehatan yang harus ia perhatikan secara pribadi.
Pola kerja serupa juga pernah diungkap oleh petinggi teknologi lain pada fase awal pembangunan perusahaan mereka. CEO Tesla, Elon Musk, mengaku tidur sekitar enam jam agar tetap optimal bekerja. Musk bahkan sempat bercerita bahwa ia pernah tidur di lantai pabrik Tesla selama periode produksi tertentu demi memastikan target tercapai. Bagi para tokoh di balik kemudi teknologi dunia, pendekatan non-konvensional terhadap waktu tidur seolah menjadi strategi wajib untuk tetap unggul di tengah persaingan yang kian kompetitif dan cepat.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)