Bukan Letusan Biasa! Erupsi Kimberlit Bawa Berlian ke Permukaan Bumi

Yasmin Najla Alfarisi . January 13, 2026

Foto: ThermoFisher.

Teknologi.id -  Alam selalu penuh kejutan, dan salah satu rahasia fenomenalnya baru saja diungkap sains. Untuk beberapa dekade, geologis memikirkan bagaimana berlian, yang terbentuk di bawah tekanan ekstrem jauh di dalam Bumi, dapat mencapai permukaan tanpa berubah menjadi grafit biasa. Jawabannya ada pada peristiwa geologis langka dan luar biasa yang diketahui sebagai erupsi kimberlit.

Penelitian terbaru, salah satunya hasil terobosan  yang dipimpin oleh Profesor Thomas Gernon dari University of Southampton dan peneliti dari University of Oslo, telah memecahkan misteri "semburan berlian". Ternyata, perjalanan sebuah berlian adalah perlombaan berkecepatan tinggi dan meledak-ledak yang dipicu oleh pergerakan seluruh benua.

Perpisahan Benua Besar

Kisah dari erupsi berlian sebenarnya berawal dari hancurnya superkontinen. Saat daratan besar seperti Gondwana (yang sebelumnya termasuk bagian Arika dan Amerika Selatan) mulai berjauhan jutaan tahun lalu, menciptakan efek riak jauh di bawah tanah.

Penelitian Profesor Gernon, yang diterbitkan di jurnal Nature, menemukan pola konsisten: erupsi berlian yang biasanya terjadi sekitar 22 sampai 30 juta tahun setelah superkontinen mulai berpisah. Saat lempengan Bumi berjauhan, mantel atas dan kerak bawah jadi tercampur dan mengalir. Pergerakan ini menciptakan ketidakstabilan besar, yang berperan sebagai "pemicu" sehingga mendorong material dari inti Bumi ke permukaan.

Baca juga: Temuan Baru! Minyak Goreng Bekas Bisa Jadi Lem Super yang Sanggup Tarik Mobil

Kimberlit: "Pipa Berlian" Berkecepatan Tinggi

Foto: Alex Streikesen.

Berlian terbentuk sekitar 150 kilometer di bawah permukaan. Untuk membawanya ke permukaan, Bumi menggunakan "pipa" yang disebut kimberlit. Tidak seperti gunung berapi pada umumnya, yang lava-nya mengalir dengan lambat, magma kimberlit bergerak seperti roket.

Peneliti menemukan kalau erupsi ini dapat mencapai kecepatan luar biasa sampai 133 kilometer per jam. Kecepatan ekstrem ini sangat penting; karena berperan sebagai "misi penyelematan" untuk berlian. Karena perjalanannya begitu cepat, berlian-berlian ini tidak memiliki waktu cukup lama untuk tetap berada di zona bersuhu tinggi, untuk berubah menjadi ujung pensil (grafit). Berlian ini diluncurkan ke permukaan dengan ledakan dahsyat, hingga akhirnya muncul menjadi batu permata berharga yang kita kenal.

Komposisi Rahasia: CO2 dan Air

Apa yang menyebabkan erupsi ini memiliki kekuatan luar biasa? Rahasianya berada pada "volatiles (zat yang dapat menguap)", khususnya karbon dioksida (CO2) dan air.

Sebuah studi yang dipimpin Ana Anzulović dan diterbitkan di Geology menggunakan simulasi molekuler untuk memahami campuran "proto-kimberlit". Mereka menemukan untuk magma memiliki "kemampuan mengapung" yang cukup untuk mengambang ke atas melalui batuan berat, magma harus mengandung setidaknya 8,2% CO2.

Karbon dioksida berperan layaknya buih dalam botol soda, menciptakan tekanan yang dibutuhkan untuk meletuskan magma ke atas. Air membuat campurannya tetap cair dan tipis (low viscosity), menyebabkannya bergerak jauh lebih cepat melalui celah dalam kerak Bumi.

Tanpa CO2 yang cukup, magmanya akan menjadi terlalu berat dan padat, yang menyebabkannya terjebak jauh di bawah tanah, dan berlian akan selamanya terjebak.

Baca juga: Temuan Baru! Tanaman Paku Bisa Olah Logam Berat Jadi Bahan Baku Teknologi

Jendela Menuju Kedalaman Bumi

Erupsi kimberlit lebih dari sekedar sumber kekayaan, namun tambang emas ilmiah. Karena magmanya berjalan dengan sangat cepat, sering kali ia membawa pecahan batu-batu lain, yang diketahui sebagai xenolit, sepanjang jalan. Batu-batu ini layaknya "time capsule" yang memberikan peneliti informasi tentang kondisi di dalam mantel Bumi yang tidak dapat kita gapai.

Terlebih lagi, pipa-pipa ini hampir hanya dapat ditemukan di kraton, yang merupakan bagian tertua dan paling stabil dari benua-benua Bumi. Retakan-retakan kecil dalam struktur kuno ini memberikan "jalur cepat" yang sempurna agar kimberlit dapat mencapai permukaan dengan efisien.

Peta Untuk Eksplorasi Masa Depan

Dengan memahami timing dan chemistry ledakan-ledakan ini, geologis sekarang memiliki "peta" yang jauh lebih baik untuk menemukan endapan berlian yang masih tersembunyi. Dibandingkan mencari sembarangan, mereka dapat mencari area di mana superkontinen kuno pernah terpisah dan mengidentifikasi jejak kimiawi dari kimberlit yang kaya akan CO2.

Penemuan ini mengingatkan kita bahwa berlian bukan sekedar batuan cantik, namun juga berhasil melewati perjalanan kasar berkecepatan tinggi dari interior jauh di dalam planet kita, dibawa ke permukaan oleh kekuatan tekanan tektonik yang sama yang membentuk benua-benua tempat kita tinggal saat ini.


Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)


Share :