.jpg)
Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi
Teknologi.id - OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, kini tengah berada di bawah tekanan besar. Laporan terbaru menyebutkan bahwa salah satu pendirinya, Greg Brockman, bersama istrinya, Anna, menyumbangkan dana fantastis sebesar US$25 juta (sekitar Rp419 miliar) untuk mendukung Presiden AS Donald Trump dan super PAC “MAGA Inc.”, sebagaimana dilaporkan The Verge.
Temuan ini memicu gelombang besar-besaran untuk memboikot ChatGPT yang dikenal dengan #QuitGPT. Brockman menambah daftar panjang bos teknologi yang merapat ke lingkaran Trump, menyusul nama-nama besar seperti Jeff Bezos (Amazon), Mark Zuckerberg (Meta), dan Zhang Yiming (TikTok) yang terlihat mendukung Trump saat pelantikan 2025.
Jika sebelumnya kampanye boikot juga sempat menyasar platform-platform besar tersebut, kali ini tekanan terhadap ChatGPT dinilai lebih signifikan, mengingat peran AI yang semakin luas dalam kehidupan publik.
Baca juga: Solusi atau Ancaman? OpenAI Siapkan Media Sosial Bebas Bot
Tuduhan Kolaborasi dengan ICE
Kemarahan publik tidak hanya dipicu oleh donasi politik. OpenAI juga dituding terlibat dalam operasi pemerintah yang kontroversial. Aktivis melaporkan bahwa U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) menggunakan teknologi GPT-4 untuk menyaring résumé dalam operasi deportasi massal.
Sejarawan sekaligus penulis dan pendiri The School of Moral Ambition, Rutger Bergman, secara terbuka mengajak masyarakat untuk melakukan boikot. Dalam sebuah video di LinkedIn, ia menyatakan, "Cara paling berdampak untuk melawan kebijakan deportasi Trump adalah dengan membatalkan akun ChatGPT Anda," katanya
.jpg)
Foto: Tangkapan layar unggahan akun LinkedIn Rutger Bregman
Dalam unggahan panjang, Bergman juga mengkritik OpenAI yang disebut memimpin upaya menentang regulasi AI yang lebih ketat serta menyerang politisi yang mendukung aturan tersebut.
Bergman juga menyoroti penurunan pangsa pasar OpenAI dari 87% ke 65% dalam setahun terakhir sebagai bukti bahwa pengguna mulai melirik alternatif lain seperti Claude, Gemini, atau model open-source lainnya.
“Sebagian besar orang yang mencobanya mengatakan hasilnya sama atau bahkan lebih baik,” tulisnya.
Baca juga: OpenAI Rilis Aplikasi Codex macOS! Solusi Coding Cepat Lewat Pasukan Agen AI
Momentum Gerakan #QuitGPT
Gelombang boikot yang mengusung tagar #QuitGPT mulai menunjukkan taringnya sejak akhir Januari. Platform diskusi seperti Reddit dibanjiri oleh kesaksian para pengguna yang memutus langganan mereka. Alasan yang muncul cukup beragam, mulai dari kekecewaan terhadap performa model GPT-5.2 yang dianggap menurun, hingga protes keras atas kedekatan OpenAI dengan lingkaran kekuasaan Donald Trump.
Alfred Stephen, seorang pengembang software asal Singapura, menjadi salah satu wajah dari eksodus ini. Ia memutuskan berhenti berlangganan layanan ChatGPT Plus seharga US$20 (sekitar Rp335 ribu) per bulan tepat setelah kabar donasi Greg Brockman mencuat ke publik. Dalam kolom survei pembatalan, Stephen menyematkan alasan yang lugas: "Jangan mendukung rezim fasis."
Hingga saat ini, gerakan QuitGPT telah mengonsolidasi lebih dari 700.000 orang yang mendaftar melalui situs resmi mereka. Kendati demikian, OpenAI masih memiliki benteng pertahanan yang kuat dengan catatan hampir 900 juta pengguna aktif mingguan pada akhir 2025.
Foto: Tangkapan layar situs web QuitGPT.org
Profesor pemasaran dari New York University, Scott Galloway, menilai fenomena ini sebagai bentuk aktivisme ekonomi yang nyata. Menurutnya, ketika kegelisahan publik terhadap etika AI bertemu dengan sentimen politik, konsumen akan mulai "bertindak lewat dompet mereka." Galloway berpendapat bahwa eksodus pelanggan secara massal berpotensi mengguncang harga saham perusahaan dan memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi OpenAI.
Tekanan Internal dan Aliansi Anti-AI
Resistensi terhadap OpenAI tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam jantung industri teknologi itu sendiri. Sejumlah pekerja di Silicon Valley mulai mendesak perusahaan masing-masing untuk segera memutus kerja sama dengan badan imigrasi ICE. Menariknya, memo internal menunjukkan adanya ketegangan di level eksekutif; CEO OpenAI Sam Altman sempat menyebut tindakan ICE "bertindak terlalu jauh," sementara CEO Apple Tim Cook menyerukan langkah "deeskalasi" dalam catatan internalnya.
Gerakan QuitGPT kini menjadi bagian dari gelombang protes yang lebih besar bertajuk "Resist and Unsubscribe". Kampanye ini mengajak masyarakat untuk membatalkan langganan berbagai platform Big Tech sepanjang bulan Februari sebagai bentuk perlawanan terhadap perusahaan yang dianggap memfasilitasi agenda politik tertentu.
Sosiolog dari American University, Dana Fisher, mengingatkan bahwa efektivitas gerakan semacam ini sangat bergantung pada partisipasi massa yang masif. Ia berpendapat bahwa pembatalan langganan jarang bisa mengubah kebijakan perusahaan kecuali jika skalanya benar-benar mengganggu arus kas secara signifikan. "Titik tekannya adalah ketika uang benar-benar digunakan sebagai instrumen untuk mengekspresikan opini politik," ungkapnya.
Di sisi lain, David Karpf, pakar media dari George Washington University, melihat bahwa kontroversi donasi Brockman telah menciptakan momentum yang tepat bagi lahirnya gerakan sosial jangka panjang. Ia memprediksi bahwa ke depan, publik akan semakin selektif dan tidak lagi merasa nyaman dengan dominasi Big Tech yang terlalu masuk ke ranah politik praktis.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)