Mitos atau Fakta? Puasa Ternyata Tidak Menurunkan Fungsi Otak, Ini Penjelasan Sains

Yasmin Najla Alfarisi . February 23, 2026

Foto: Freepik/ pressfoto

Teknologi.id -  Selama bulan Ramadan, muncul kekhawatiran bahwa menjalankan puasa dapat menyebabkan kepala pusing saat bekerja, memicu emosi yang tidak stabil, hingga menurunkan produktivitas. Narasi bahwa lapar identik dengan penurunan fungsi otak sering diperkuat oleh iklan makanan yang membawa pesan bahwa seseorang tidak menjadi dirinya sendiri saat lapar. Seolah-olah, asupan makanan merupakan satu-satunya syarat agar ketajaman mental tetap terjaga sepanjang hari.

Namun, benarkah puasa mengorbankan ketajaman mental demi manfaat fisik? Pertanyaan besar inilah yang berusaha dijawab oleh David Moreau, Associate Professor of Psychology di University of Auckland, bersama timnya. Mereka melakukan tinjauan ilmiah paling komprehensif hingga saat ini mengenai dampak puasa terhadap kinerja kognitif manusia untuk melihat apakah performa otak benar-benar merosot saat perut kosong.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Penyebab Pembekuan Darah Langka Usai Vaksin COVID-19

Mekanisme Biologis dan Peralihan Metabolik

Puasa sebenarnya bukan sekadar tren diet, melainkan praktik yang berkaitan erat dengan sistem adaptasi manusia yang telah berkembang selama ribuan tahun. Secara biologis, saat kita makan secara teratur, otak menggunakan glukosa sebagai bahan bakar utama yang disimpan tubuh dalam bentuk glikogen. Namun, setelah sekitar 12 jam tanpa asupan makanan, cadangan glikogen tersebut mulai menipis.

Pada titik inilah tubuh melakukan peralihan metabolik yang krusial. Tubuh mulai memecah lemak menjadi badan keton, seperti asetoasetat dan beta-hidroksibutirat, yang menjadi energi alternatif bagi otak. Fleksibilitas metabolik ini dulunya penting bagi kelangsungan hidup nenek moyang manusia saat makanan langka. Kini, mekanisme tersebut diketahui memicu autofagi atau proses pembersihan sel, yang membantu membuang komponen rusak dalam tubuh dan mendukung penuaan yang lebih sehat serta meningkatkan sensitivitas insulin.

Bukti Ilmiah dari Ribuan Partisipan

Moreau dan timnya melakukan meta-analisis dengan mengidentifikasi 63 artikel ilmiah yang mencakup 71 studi independen. Penelitian ini melibatkan total 3.484 partisipan dengan 222 ukuran kognitif yang berbeda, mencakup periode riset dari tahun 1958 hingga 2025. Tujuan utama dari studi besar ini adalah membandingkan kinerja kognitif orang saat berpuasa dan saat dalam keadaan kenyang.

Hasilnya sangat melegakan bagi banyak orang. Riset menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kinerja kognitif antara orang dewasa sehat yang berpuasa dan yang baru saja makan. Tes yang mengukur perhatian, daya ingat, hingga fungsi eksekutif menunjukkan performa yang relatif sama. Data ilmiah ini membuktikan bahwa bagi sebagian besar orang dewasa sehat, puasa dapat dijalani tanpa perlu takut kehilangan ketajaman berpikir atau kemampuan memecahkan masalah.

Faktor yang Memengaruhi Kinerja Mental

Foto: Freepik/ jcomp

Meski secara umum performa tetap stabil, analisis Moreau menemukan faktor penting yang dapat memengaruhi dampak puasa. Salah satunya adalah jenis tugas kognitif yang dilakukan. Saat tugas melibatkan simbol atau bentuk yang netral, peserta yang berpuasa bekerja dengan sama baiknya, bahkan terkadang sedikit lebih baik. Namun, ketika tugas melibatkan isyarat terkait makanan, performa peserta yang lapar cenderung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa rasa lapar tidak membuat otak berkabut, melainkan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi oleh rangsangan yang berkaitan dengan makanan.

Penting untuk dicatat bahwa puasa mungkin tidak cocok bagi semua kelompok. Anak-anak dan remaja tetap membutuhkan asupan makanan teratur untuk mendukung perkembangan otak dan performa belajar mereka. Selain itu, individu dengan kondisi medis khusus tetap memerlukan pendampingan profesional agar puasa tidak mengganggu kesehatan mereka secara keseluruhan.

Baca juga: Susah Tidur? Ini Cara Cepat Tidur yang Terbukti Efektif Menurut Sains

Memahami Gejala Ramadan Brain Fog

Bagi mereka yang tetap merasa kurang fokus atau merasa lemot selama Ramadan, kondisi ini sering disebut sebagai Ramadan brain fog. Fenomena ini sebenarnya bukan penurunan fungsi otak permanen, melainkan gangguan kejernihan mental yang bersifat sementara. Penyebab utamanya sering kali bukan karena tidak makan, melainkan faktor dehidrasi ringan, perubahan pola tidur akibat bangun sahur, hingga penurunan glukosa darah pada individu yang sensitif.

Untuk mengatasinya, strategi sederhana seperti mengoptimalkan hidrasi saat malam hari dan mengonsumsi sahur dengan komposisi seimbang sangatlah efektif. Prioritas pada protein dan karbohidrat kompleks akan menjaga stabilitas energi lebih lama. Dengan memahami sinyal tubuh dan hasil riset ini, kita dapat menjalankan puasa dengan penuh keyakinan bahwa ketajaman mental tetap bisa terjaga secara optimal.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar