
Foto: freepik
Teknologi.id - Sejak awal pandemi COVID-19, vaksin menjadi salah satu solusi utama untuk menekan penyebaran virus dan menurunkan angka kematian. Namun, di balik keberhasilan program vaksinasi global, sempat muncul kekhawatiran terkait efek samping langka yang dikaitkan dengan beberapa jenis vaksin tertentu. Kini, setelah melalui penelitian panjang, para ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap penyebab di balik fenomena tersebut.
Efek samping langka yang dimaksud dikenal sebagai vaccine-induced immune thrombocytopenia and thrombosis (VITT), yaitu kondisi serius yang menyebabkan pembekuan darah disertai penurunan jumlah trombosit. Kondisi ini sempat menjadi perhatian karena dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Awal Mula Kekhawatiran
Pada masa awal distribusi vaksin COVID-19, dunia mengandalkan berbagai jenis vaksin, termasuk vaksin berbasis adenovirus seperti yang dikembangkan oleh University of Oxford bersama AstraZeneca, serta vaksin dari Johnson & Johnson.
Vaksin ini digunakan secara luas karena lebih mudah disimpan dan didistribusikan dibandingkan vaksin berbasis mRNA.
Namun, setelah jutaan dosis diberikan, laporan tentang VITT mulai bermunculan di sejumlah negara. Para ilmuwan dan tenaga medis pun berupaya keras mencari tahu penyebab pasti kondisi ini, karena pada awalnya mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Baca juga: Terobosan Baru! Vaksin HIV Berbasis DNA Origami Bantu Imun Temukan Virus Bermutasi
Peran Sistem Imun yang “Keliru”
Penelitian terbaru yang dipimpin oleh tim dari Flinders University berhasil mengungkap mekanisme biologis yang mendasari VITT. Studi tersebut dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, salah satu jurnal medis terkemuka di dunia.
Dari hasil analisis, diketahui bahwa kondisi ini dipicu oleh munculnya autoantibodi yang menyerang protein tubuh bernama platelet factor 4 (PF4). Protein ini sebenarnya berperan penting dalam proses pembekuan darah normal. Namun, pada kasus tertentu, sistem imun justru menganggapnya sebagai ancaman.
Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa pada sebagian kecil individu, sistem imun “salah mengenali” protein dari adenovirus sebagai PF4. Kesalahan identifikasi ini kemudian memicu produksi autoantibodi yang berlebihan, yang pada akhirnya menyebabkan pembekuan darah yang tidak normal.
Faktor Genetik dan Pemicu Alami
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran penting dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap kondisi ini. Artinya, tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Selain itu, ilmuwan juga menemukan bahwa respons serupa ternyata bisa terjadi setelah seseorang terpapar adenovirus alami, seperti virus penyebab flu biasa. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pemicu utama bukanlah vaksin secara keseluruhan, melainkan karakteristik tertentu dari adenovirus itu sendiri.
Implikasi untuk Pengembangan Vaksin
Penemuan ini membawa kabar baik bagi dunia medis. Dengan memahami mekanisme pasti di balik VITT, para ilmuwan kini memiliki peluang untuk mengembangkan vaksin yang lebih aman di masa depan.
Salah satu pendekatan yang sedang dipertimbangkan adalah memodifikasi atau menghilangkan bagian tertentu dari protein adenovirus yang memicu reaksi imun berlebihan. Dengan cara ini, vaksin tetap dapat memberikan perlindungan optimal tanpa meningkatkan risiko efek samping langka.
Selain itu, hasil penelitian ini juga membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan strategi distribusi vaksin yang lebih tepat, terutama bagi kelompok dengan risiko tertentu.
Baca juga: Lawan Kanker dengan AI! Peneliti Korsel Buat Model Vaksin Kustom
Masa Depan Vaksin Adenovirus
Meskipun saat ini vaksin berbasis mRNA lebih banyak digunakan, teknologi vaksin adenovirus tetap memiliki potensi besar, terutama dalam menghadapi pandemi di masa depan.
Dengan adanya pemahaman baru ini, risiko efek samping seperti VITT dapat diminimalkan melalui inovasi desain vaksin yang lebih canggih. Para ilmuwan optimistis bahwa teknologi ini akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan global.
Pada akhirnya, temuan ini menegaskan bahwa sains terus bergerak maju, menjawab pertanyaan yang sebelumnya belum terpecahkan. Meski efek samping seperti VITT sangat jarang terjadi, penelitian ini memastikan bahwa setiap risiko dapat dipelajari dan dikendalikan demi keamanan masyarakat luas.
Lebih dari itu, hasil riset ini juga memberikan harapan baru bahwa teknologi vaksin akan terus berkembang menjadi lebih aman, presisi, dan adaptif terhadap berbagai tantangan kesehatan di masa depan. Dengan pemahaman yang semakin mendalam, masyarakat pun dapat memiliki kepercayaan lebih terhadap inovasi vaksin yang terus disempurnakan oleh para ilmuwan di seluruh dunia.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)

Tinggalkan Komentar