Rico Usthavia Frans: Menyatukan Operasional, Teknologi, dan AI di CIMB Niaga

muflihmimaduddin . November 02, 2026


Nama sebuah jabatan sering menjelaskan cara organisasi melihat masa depannya. Di CIMB Niaga, Rico Usthavia Frans menjabat sebagai Operations, Technology, Analytics and AI Director sejak 24 Juli 2025, untuk masa jabatan 2025 sampai 2028. Empat bidang yang di banyak bank berjalan di bawah direktorat berbeda, di sini disatukan dalam satu tangan.

Ia memimpin direktorat itu di bank yang adopsi digitalnya termasuk yang paling tinggi di Indonesia. Pada kuartal I 2026, 90,6% transaksi keuangan nasabah CIMB Niaga sudah berjalan lewat kanal digital.

Tiga Dekade di Teknologi, Digital, dan Transaction Banking

Pengangkatan Rico disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan CIMB Niaga pada 14 April 2025. Saat itu, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, menyebut Rico memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang teknologi, digital, dan transaction banking, termasuk di bidang operasional perbankan maupun industri lain.

Riwayat kariernya mencerminkan kombinasi itu:

  • Citibank (1995 sampai 2010): berbagai peran, terakhir sebagai Country Marketing Director.
  • Bank Mandiri (2016 sampai 2021): Direktur Digital Banking, IT & Operations di salah satu bank terbesar di Indonesia.
  • XL Axiata: anggota direksi, sebelum mengundurkan diri pada awal 2025.

Perpaduan pengalaman di bank asing, bank nasional, dan industri telekomunikasi ini jarang dimiliki satu orang. Industri telekomunikasi, seperti perbankan digital, terbiasa mengelola jutaan pengguna aktif dan transaksi bervolume tinggi setiap hari.

Membaca Arti Nama Jabatannya

Bagi pembaca awam, keempat bidang dalam jabatan Rico bisa dijelaskan sebagai berikut:

  • Operations: proses di balik layanan bank, seperti pemrosesan transaksi, kliring, hingga penanganan permintaan nasabah.
  • Technology: sistem dan infrastruktur, mulai dari aplikasi, data center, hingga keamanan siber.
  • Analytics: pengolahan data untuk memahami perilaku nasabah dan mendukung keputusan bisnis.
  • AI: pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mempercepat proses dan mempersonalisasi layanan.

Menurut pandangan tim riset Sagara Technology, penyatuan keempatnya masuk akal. AI hanya bernilai jika datanya rapi. Data hanya berguna jika sistemnya terhubung. Dan sistem hanya bermanfaat jika proses operasional di sekitarnya ikut berubah.

Konteks: Bank yang Hampir Sepenuhnya Digital

Data CIMB Niaga memperlihatkan seberapa jauh bank ini sudah bergerak:

  • Pada kuartal I 2026, 90,6% transaksi keuangan nasabah berjalan lewat kanal branchless banking: OCTO, OCTOBIZ, ATM, dan OCTO Pay. Artinya, dari setiap sepuluh transaksi, sekitar sembilan dilakukan tanpa datang ke kantor cabang.
  • Pengguna aktif aplikasi OCTO naik lebih dari 48% secara tahunan, dan transaksi di OCTO tumbuh 29%.
  • OCTOBIZ, platform digital untuk nasabah korporasi, dipakai lebih dari 20.000 perusahaan pada bulan pertamanya.
  • Presiden Direktur CIMB Niaga menyebut anggaran belanja modal IT bank ini konsisten di sekitar Rp1 triliun per tahun, untuk data center, keamanan siber, layanan digital, dan pengembangan AI.

Tantangan Baru: Skala

Ketika hampir semua transaksi berjalan lewat aplikasi, tantangannya berubah. Bukan lagi mengajak nasabah beralih ke digital, melainkan menjaga agar sistem selalu siap, cepat, dan aman, termasuk di jam-jam sibuk seperti tanggal gajian atau menjelang hari raya.

Di platform digital berskala besar, pekerjaan teknologi tidak berhenti setelah fitur diluncurkan. Tim harus terus mengembangkan customer journey, meningkatkan keandalan, menjalankan pengujian otomatis, dan menjaga kecepatan rilis. Kebutuhan ini mencakup mobile engineering, backend dan API, integrasi sistem, DevOps dan SRE, otomasi QA, serta data dan AI.

Jika jumlah pengguna dan transaksi tumbuh lebih cepat daripada anggaran teknologi yang relatif stabil, muncul jarak antara apa yang ingin dirilis dan apa yang sanggup dikerjakan tim. Tim riset Sagara Technology menyebut jarak ini execution gap.

Penutup

Struktur direktorat di CIMB Niaga memberi petunjuk tentang arah industri perbankan Indonesia: operasional, teknologi, data, dan AI semakin sulit dipisahkan. Dengan pengalaman memimpin digital banking, IT, dan operasional di bank nasional besar, Rico Usthavia Frans kini memegang peran itu di bank yang sudah berada di fase skala. Pertanyaan berikutnya bagi industri adalah apakah kapasitas eksekusi tim ikut tumbuh secepat adopsi digital nasabahnya.

Sumber referensi

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar