Waspada Penipuan Coretax! Rekening Dikuras Ratusan Juta Lewat Telepon dan Link Palsu

Wildan Nur Alif Kurniawan . February 19, 2026


Foto: Gemini

Teknologi.id — Kasus kejahatan siber dan penipuan di ranah internet kembali memakan korban dengan nilai kerugian yang sangat fantastis. Di tengah masa adaptasi masyarakat terhadap digitalisasi layanan perpajakan nasional, komplotan penipu kini menggunakan modus baru yang sangat terstruktur untuk memperdaya korbannya. Baru-baru ini, seorang warga negara Indonesia harus menelan pil pahit setelah kehilangan uang hingga ratusan juta rupiah akibat jebakan penipuan via telepon (phone scam) yang berkedok sebagai pihak pajak dan menyinggung masalah pada platform Coretax.


Foto: Instagram/@mandhabrasika

Kasus penipuan siber berskala besar ini pertama kali mencuat dan menyita perhatian publik setelah korban membagikan pengalaman buruknya melalui media sosial. Pengguna platform Instagram dengan nama akun @mandharabrasika menceritakan secara detail bagaimana dirinya baru saja tertipu ratusan juta rupiah. Melalui keterangan (caption) pada unggahannya, ia meminta masyarakat untuk menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya, dengan harapan besar agar tidak ada lagi masyarakat yang jatuh ke dalam lubang penipuan serupa.

Modus Mencatut Pihak Pajak dan Isu Coretax


Foto: Getty Images

Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh korban, insiden nahas ini bermula ketika dirinya menerima panggilan telepon dari komplotan pelaku yang dengan meyakinkan mengatasnamakan diri sebagai pihak instansi pajak. Dalam melancarkan aksinya, komplotan ini membaca situasi dengan sangat jeli, yakni dengan memanfaatkan kebingungan masyarakat yang tengah beradaptasi dengan sistem layanan perpajakan terbaru, yaitu Coretax.

Di ujung telepon, sang penipu menyampaikan skenario fiktif dengan menyatakan bahwa telah terjadi sebuah kesalahan pada sistem platform Coretax milik korban. Dalih adanya kesalahan teknis ini menjadi pintu masuk utama bagi pelaku untuk mendapatkan kepercayaan dan memancing kepanikan target. Pelaku seolah-olah hadir sebagai pihak resmi yang siap memberikan panduan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Baca juga: Hati-Hati Penipuan Coretax! Ini Daftar Situs Palsu yang Wajib Dihindari

Eksploitasi Lewat Instalasi Aplikasi dan Berbagi Layar

Setelah korban mulai masuk ke dalam perangkap psikologis, pelaku kemudian melanjutkan ke tahapan eksekusi teknis yang sangat krusial. Pelaku mengirimkan sebuah tautan (link) khusus kepada korban dan menginstruksikannya untuk menginstal sebuah aplikasi tertentu di perangkatnya. Tidak berhenti sampai di situ, dengan dalih ingin memberikan bantuan teknis, pelaku menawarkan panduan dengan meminta korban mengaktifkan fitur berbagi layar atau screen sharing.

Tanpa disadari oleh korban, fitur berbagi layar inilah yang menjadi senjata paling mematikan dari modus ini. Pengaktifan fitur tersebut membuat pihak lain dapat melihat secara langsung seluruh tampilan antarmuka dan mengetahui informasi di perangkat korban. Kondisi ini menyebabkan informasi rahasia yang sangat sensitif—mulai dari nama pengguna (username), Personal Identification Number (PIN), hingga kata sandi (password)—terekspos secara penuh kepada pelaku kejahatan.

Peretasan Cepat dan Pengurasan Rekening

Berbekal informasi rahasia yang berhasil didapatkan melalui metode berbagi layar tersebut, komplotan penipu langsung meretas perangkat ponsel pintar (HP) milik korban. Dalam waktu yang sangat singkat, para pelaku dengan leluasa masuk ke dalam sistem keuangan korban dan menguras kosong seluruh isi rekening bernilai ratusan juta rupiah tersebut tanpa sisa.

Keberhasilan pembobolan ini membuktikan betapa berbahayanya memberikan akses visibilitas perangkat kepada pihak yang tidak dikenal, sekecil apa pun instruksi yang diberikan.

Baca juga: Waspada! RI Jadi Negara Penipuan Tertinggi Kedua Dunia, Modus Soceng Capai 70%

Taktik Manipulasi Psikologis yang Sistematis

Selain kecanggihan teknologi, faktor utama lain yang membuat aksi penipuan ini berjalan mulus adalah penggunaan taktik manipulasi psikologis. Selama proses komunikasi berlangsung, pelaku berupaya keras menekan psikologi korban dengan menciptakan situasi yang seolah-olah sangat mendesak.

Dengan menciptakan suasana yang darurat, korban secara tidak sadar terdorong untuk bertindak cepat dan kehilangan kemampuan berpikir rasional. Situasi ini sengaja dirancang agar korban tidak memiliki kelonggaran waktu untuk sekadar berpikir jernih atau bertanya kepada orang lain mengenai kejanggalan instruksi si penelepon.

Proses Hukum Masih Mandek

Merespons kejadian yang telah menguras habis harta bendanya, pihak pengguna akun tidak tinggal diam. Ia telah mengambil langkah prosedural dengan melaporkan tindak kejahatan ini kepada sejumlah otoritas dan lembaga berwenang. Laporan resmi telah diajukan kepada pihak bank terkait, institusi kepolisian, hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sayangnya, upaya pencarian keadilan dan pemulihan dana ini masih harus menempuh jalan buntu. Berdasarkan informasi terkini, semua laporan yang telah dilayangkan kepada pihak berwajib tersebut masih berstatus "dalam proses". Korban menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan atau progres yang berarti terkait penyelesaian kasus penipuan siber tersebut. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak sembarangan mengklik tautan atau membagikan layar perangkat kepada siapa pun.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News


(WN/ZA)

Share :