
Foto: University Of Illinois Chicago
Teknologi.id – Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa korban penipuan online hanyalah kelompok lansia yang tidak memahami teknologi atau masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Namun, data terbaru yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan anomali yang mengejutkan. Di tahun 2026, korban scam justru banyak berasal dari kalangan profesional muda yang "melek digital" namun terjebak dalam manipulasi psikologis tingkat tinggi. Penipu masa kini tidak lagi hanya menyerang sistem komputer, melainkan menyerang sistem emosi manusia melalui teknik social engineering.
Laporan ini membedah berbagai ciri khas perilaku dan kondisi mental yang membuat seseorang masuk dalam radar para sindikat penipu global. Memahami ciri-ciri ini sangat penting, karena penipuan siber bukan lagi soal seberapa canggih ponsel Anda, melainkan seberapa waspada pikiran Anda.
1. Memiliki "Optimism Bias" yang Tinggi
Salah satu ciri utama orang yang rentan tertipu adalah mereka yang memiliki rasa percaya diri berlebih bahwa dirinya tidak akan pernah tertipu. Fenomena psikologis ini disebut sebagai optimism bias. Orang-orang ini cenderung merasa bahwa berita penipuan yang mereka dengar di media hanya terjadi pada orang lain yang "kurang pintar".
Karena merasa imun, mereka seringkali abai terhadap tanda-tanda peringatan (red flags) yang muncul saat bertransaksi. Mereka lebih mudah mengeklik tautan sembarangan atau memberikan kode OTP karena merasa sedang dalam kendali penuh. Rasa aman palsu inilah yang justru menjadi celah terbesar bagi penipu untuk masuk dan menguras aset digital mereka.
Baca juga: Waspada Penipuan Wangiri 2026: Jangan Telepon Balik Missed Call Kode Negara Asing Ini
2. Terjebak dalam Budaya FOMO (Fear of Missing Out)
Di tahun 2026, tren investasi instan dan barang mewah dengan harga miring semakin menggila. Orang yang memiliki ketakutan akan ketinggalan tren atau kesempatan emas (FOMO) menjadi sasaran utama. Penipu seringkali menciptakan "urgensi buatan", seperti promo yang hanya berlaku dalam hitungan menit atau peluang investasi dengan imbal hasil tinggi yang "hanya tersisa untuk 5 orang lagi".
Ketika seseorang merasa akan kehilangan kesempatan besar, otak bagian emosional akan mengambil alih fungsi otak rasional. Dalam kondisi terburu-buru ini, seseorang kehilangan kemampuan untuk melakukan check and re-check. Mereka akan segera mentransfer uang atau mengisi data pribadi demi mengejar apa yang mereka anggap sebagai "keberuntungan", yang sebenarnya adalah jeratan maut.
3. Sifat Terlalu Patuh pada Otoritas
Penipu seringkali menyamar sebagai pihak berwenang, seperti petugas pajak, kepolisian, atau layanan pelanggan bank. Ciri orang yang sangat menghargai atau takut pada otoritas cenderung lebih rentan dalam skenario ini. Ketika mendapatkan telepon yang bernada mengancam—misalnya ancaman blokir rekening atau keterlibatan dalam kasus hukum—mereka akan langsung panik.
Kepatuhan buta terhadap perintah yang terlihat "resmi" membuat mereka melupakan protokol keamanan dasar. Penipu memanfaatkan rasa takut dan rasa hormat ini untuk memaksa korban menyerahkan kendali atas akun keuangan mereka. OJK mengingatkan bahwa lembaga resmi tidak pernah meminta data sensitif melalui telepon atau pesan singkat, namun bagi orang yang rentan, ancaman dari "petugas" seringkali melumpuhkan logika tersebut.
4. Sedang Mengalami Kesepian atau Isolasi Sosial
Salah satu modus paling merusak di tahun 2026 adalah love scam atau penipuan berbasis asmara. Orang yang secara emosional merasa kesepian atau sedang mencari validasi di dunia maya sangat rentan terhadap modus ini. Penipu akan membangun hubungan emosional selama berminggu-minggu, memberikan perhatian yang intens, hingga korban merasa telah menemukan pasangan sejati.
Setelah ikatan emosional terbentuk, penipu akan mulai memeras korban dengan berbagai alasan, mulai dari biaya rumah sakit mendadak hingga kebutuhan bisnis yang mendesak. Karena sudah "buta" secara emosional, korban seringkali tetap membela pelaku bahkan ketika diperingatkan oleh keluarga terdekat. Kerugian dalam kasus ini tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang sangat dalam.
5. Kurangnya Literasi Keuangan Digital
Meskipun mahir menggunakan media sosial, banyak pengguna internet di Indonesia masih memiliki literasi keuangan digital yang rendah. Mereka mungkin tahu cara belanja online, tetapi tidak tahu cara membedakan URL situs resmi dengan situs phishing. Mereka juga seringkali tidak memahami konsep bunga majemuk atau cara kerja investasi yang legal, sehingga mudah tergiur oleh janji-janji keuntungan yang tidak masuk akal.
Ciri orang dalam kelompok ini adalah mereka yang jarang memperbarui informasi mengenai modus-modus penipuan terbaru. Di tahun 2026, di mana AI digunakan untuk menduplikasi suara dan wajah, ketidaktahuan akan perkembangan teknologi keamanan menjadi titik lemah yang sangat fatal.
Baca juga: Awas Modus Penipuan Link Film Avatar: Niat Nonton Gratis, Rekening Malah Ludes!
Membangun Resiliensi Digital

Foto: Nevacloud
Menghindari penipuan online bukan berarti kita harus berhenti menggunakan teknologi, melainkan kita harus melatih "otot kewaspadaan" kita. Menyadari bahwa kita memiliki salah satu dari ciri-ciri di atas bukanlah sebuah aib, melainkan peringatan untuk lebih berhati-hati.
Pentingnya menerapkan prinsip "Berhenti, Berpikir, dan Bertindak". Jika Anda menemui tawaran yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan, atau ancaman yang mendesak Anda untuk segera bertindak, ambillah waktu sejenak untuk bernapas dan memverifikasi informasi tersebut. Di dunia digital yang penuh manipulasi, skeptisisme yang sehat adalah pelindung terbaik bagi dompet dan ketenangan jiwa Anda.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(WN/ZA)