Awas Penipuan di Google Maps! Ribuan Profil Bisnis "Hantu" Dihapus, Ini Modusnya

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 26, 2026


Foto: Google

Teknologi.id – Di era di mana kita menyerahkan hampir seluruh kepercayaan navigasi kita pada teknologi, sebuah ancaman baru muncul dari tempat yang paling tidak kita duga: Google Maps. Aplikasi peta digital yang menjadi andalan jutaan orang untuk mencari jalan, restoran, hingga layanan darurat, kini dilaporkan telah disusupi oleh ribuan "ranjau" digital yang siap menjerat pengguna yang lengah.

Raksasa teknologi Google baru saja mengambil langkah tegas dengan menghapus lebih dari 10.000 akun bisnis di platform Maps. Tindakan "bersih-bersih" massal ini dilakukan setelah terungkapnya skema penipuan canggih yang melibatkan pembuatan profil bisnis fiktif dan pembajakan akun bisnis yang sah.

Insiden ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan peringatan keras bagi siapa saja yang terbiasa menekan tombol "Call" atau "Rute" di Google Maps tanpa berpikir dua kali.

Modus Operandi: Mengincar Kepanikan Pengguna


Foto: TechnoGIS

Berbeda dengan penipuan phishing biasa yang menyebar lewat tautan email, para penipu di Google Maps ini bermain dengan psikologi urgensi. Google mengidentifikasi bahwa target utama para pelaku adalah sektor layanan "vertikal paksa" (force vertical)—istilah untuk jenis jasa yang biasanya dicari orang dalam keadaan darurat dan panik.

Contoh paling nyata adalah tukang kunci (locksmith), bengkel mobil derek, atau layanan perbaikan pipa bocor.

Dalam skenarionya, pelaku membuat ribuan profil bisnis palsu di Google Maps seolah-olah mereka adalah penyedia jasa lokal yang sah. Mereka bekerja sama dengan sindikat agen tertentu dan bahkan menggunakan media sosial untuk membangun citra palsu agar terlihat meyakinkan. Ketika seorang pengguna yang sedang panik (misalnya, terkunci di luar rumah atau mobil mogok) mencari "tukang kunci terdekat", mereka akan diarahkan ke profil bisnis palsu ini.

Baca juga: Gaji Rp30 Juta Tanpa Wawancara? Waspada 8 Ciri Loker Palsu dan Modus SK Fiktif

Pengalihan Panggilan dan Tarif Mencekik

Bahaya sesungguhnya terjadi saat pengguna menekan tombol telepon yang tertera di profil palsu tersebut. Panggilan tidak tersambung ke penyedia jasa lokal yang asli, melainkan dialihkan (rerouted) langsung ke pusat operasi penipu.

Tanpa curiga, korban akan memesan layanan tersebut. Akibatnya sangat merugikan: korban sering kali dikenakan biaya jasa yang melambung tinggi, jauh di atas harga pasar normal. Dalam beberapa kasus yang lebih ekstrem, data pribadi yang diberikan saat pemesanan dapat disalahgunakan untuk kejahatan siber lanjutan.

Halimah DeLaine Prado, penasihat umum Google, menegaskan bahwa perusahaan merespons ancaman ini dengan sangat serius. "Begitu kami menerima laporan penipuan, kami langsung melakukan langkah agresif untuk mengidentifikasi dan memberangus iklan atau profil palsu lain yang serupa," ujarnya. Kasus ini sendiri mulai terkuak lebar setelah sebuah perusahaan di Texas, Amerika Serikat, melaporkan adanya entitas misterius yang meniru identitas bisnis mereka di Google Maps.

Celah Kepercayaan pada "Crowdsourcing"

Fenomena ini mengeksploitasi celah pada sistem crowdsourcing (kontribusi pengguna) yang selama ini menjadi kekuatan Google Maps. Kemudahan bagi siapa saja untuk menambahkan atau mengedit lokasi bisnis, yang awalnya ditujukan untuk memperkaya data peta, kini menjadi pedang bermata dua yang dimanfaatkan sindikat kriminal.

Para pelaku tidak hanya membuat toko "hantu", tetapi kadang juga membajak profil bisnis asli yang pemiliknya jarang aktif, lalu mengganti nomor telepon resminya dengan nomor penipu.

Tips Bertahan dari Penipuan Google Maps

Agar tidak menjadi korban berikutnya dari "bisnis hantu" ini, pengguna disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan langkah-langkah berikut:

  1. Verifikasi Silang (Cross-Check): Jangan hanya mengandalkan satu sumber. Jika Anda menemukan nomor telepon bengkel atau layanan darurat di Maps, coba cari nama bisnis tersebut di mesin pencari (Search) untuk menemukan situs web resminya. Bandingkan nomor telepon yang tertera.

  2. Waspada Metode Pembayaran: Bisnis yang sah biasanya memiliki prosedur pembayaran yang jelas. Curigailah penyedia jasa yang memaksa meminta pembayaran di muka via transfer ke rekening pribadi atau metode tak lazim lainnya sebelum layanan diberikan.

  3. Periksa Ulasan dengan Jeli: Profil palsu sering kali memiliki ulasan yang "terlalu sempurna" namun generik, atau justru tidak memiliki ulasan sama sekali.

  4. Hati-hati Saat Darurat: Justru di saat panik (ban bocor, kunci hilang), kita paling rentan. Luangkan waktu 1-2 menit ekstra untuk memastikan Anda menghubungi pihak yang benar.

Baca juga: Viral! Gaji Petugas Google Maps Jalan Kaki Rp3 Juta/Hari, Begini Cara Daftarnya

Google Maps tetaplah alat navigasi yang sangat berguna, namun insiden ini mengingatkan kita bahwa di dunia digital, verifikasi adalah tameng terbaik kita. Jangan biarkan urgensi menutup logika Anda.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News



(WN/ZA)

Share :