Ubah Selokan Jadi Kolam Lele, Ketua RT di Jaktim Ini Diundang TV China ke Beijing!

Yasmin Najla Alfarisi . January 26, 2026

Foto: Istimewa The Asian Post

Teknologi.id -  Siapa sangka, sebuah gang sempit di wilayah Jakarta Timur kini bertransformasi menjadi sorotan dunia internasional. Sosok di baliknya adalah Taufiq Supriadi, Ketua RT 008/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai inovasi lingkungan yang radikal. Berkat dedikasinya dalam membangun komunitas, Taufiq diundang secara resmi oleh pemerintah Cina untuk tampil di stasiun televisi pemerintah, CCTV, di Beijing.

Pencapaian ini tergolong sangat fenomenal dalam sejarah administrasi tingkat terkecil di Indonesia. Duta Besar Indonesia untuk Cina, Djauhari Oratmangun, menyatakan bahwa belum pernah terjadi sebelumnya seorang pimpinan masyarakat di tingkat RT mendapatkan kehormatan undangan resmi dari pemerintah Cina. Hal ini menegaskan bahwa diplomasi rakyat yang dimulai dari lorong sempit Malaka Jaya mampu memberikan dampak global dan menjadi inspirasi lintas bangsa.

Inovasi "Selokan Dua Lantai" yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Foto: Kementerian PKP

Ide brilian Taufiq bermula dari keterbatasan lahan hijau di pemukiman padat Jakarta. Terinspirasi dari saluran air di Tokyo, Jepang, serta sistem drainase di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia menyulap saluran air bawah tanah (u-ditch) di lingkungannya menjadi kolam lele produktif. Ia memodifikasi beton saluran setinggi 60 cm tersebut menjadi sistem "dua lantai": 35 cm bagian bawah tetap berfungsi mengalirkan air hujan, sementara 25 cm bagian atas dimanfaatkan sebagai kolam ikan.

Inovasi ini tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi mesin ekonomi warga yang sangat menjanjikan. Satu kolam mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram ikan lele dalam sekali panen. Dengan harga jual Rp25.000 per kilogram, satu kolam bisa menghasilkan Rp20 juta sekali panen. Mengingat dalam setahun bisa dilakukan empat kali panen, potensi pendapatan kotor dari selokan ini mencapai Rp80 juta. Keuntungan tersebut dibagi secara transparan: kelompok tani menerima Rp2 juta, pemilik rumah Rp400 ribu, kas RT/RW Rp400 ribu, dan sisanya untuk koordinator serta penjaga kolam.

Baca juga: Tanpa Bimbel, Siswa Kudus Raih Nilai 100 Fisika TKA Berkat Bantuan AI

Memberdayakan Warga dan Mendukung Ketahanan Gizi

Foto: Liputan6

Dampak sosial dari gerakan ini sangat nyata di Gang 8 Nusa Indah IV. Taufiq menginisiasi lebih dari 43 inisiatif hijau, termasuk komposter komunal, akuaponik, hingga pemasangan CCTV dan lampu tenaga surya. Program ini berhasil menciptakan lapangan kerja lokal bagi warga yang sebelumnya menganggur. Setidaknya enam warga yang tergolong unemployed kini memiliki penghasilan tetap sebagai pengelola dan penjaga keamanan kolam.

Tak hanya fokus pada aspek komersial, Taufiq juga membangun "Kolam Gizi Warga". Berbeda dengan lele yang dijual untuk bisnis, kolam ini berisi ikan nila dan bawal yang diberikan secara gratis khusus untuk balita dan lansia di lingkungannya. Langkah ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam mencegah stunting dan menjamin ketahanan pangan perkotaan.

Taufiq juga memastikan bahwa proyek ini ramah lingkungan dan tidak menyebabkan banjir; selama 22 tahun, saluran air tersebut tetap berfungsi optimal meski mengangkut beban budidaya ikan.

“Kami akan terus belajar dan berbenah. Target kami adalah swasembada energi dan pangan di tingkat RT sebagai dukungan nyata terhadap SDGs (Sustainable Development Goals/ Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), Asta Cita Pemerintah, serta komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk ‘Jaga Jakarta’,” ujarnya.

Baca juga: Lagi Tren di Medsos, Apa Sih Arti Sebenarnya dari Emoji Batu 🗿 Bagi Gen Z?

Menjadi Laboratorium Hidup dan Destinasi Belajar Dunia

Foto: Dok. Istimewa Kumparan

Kehebatan RT 08 Malaka Jaya kini telah terekam secara simbolik dalam sebuah buku berjudul "Suara-suara dari Pos Ronda". RT ini juga telah mengelola data warga secara digital melalui website resmi yang menjadi bagian penting dari "Pusat Data Nasional Pencegah Krisis Planet". Website tersebut memungkinkan pengelolaan data dari akar rumput menjadi bahan pertimbangan strategi nasional dalam menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim di masa depan.

Keberhasilan ini menarik kunjungan dari berbagai pihak penting, mulai dari Yayasan Al Iman hingga komunitas disabilitas Precious One. Bahkan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) melalui Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan, Dr. Sri Haryati, datang langsung untuk mengapresiasi bagaimana kebijakan nasional SDGs didefinisikan secara nyata oleh warga. Dengan diraihnya rekor MURI hingga sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Amerika Serikat, Taufiq Supriadi membuktikan bahwa diplomasi manusia sejati lahir dari aksi lokal yang tulus untuk kemajuan bangsa.



Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)




 

Share :