
Foto: Instagram resmi SMAN 1 Kudus
Teknologi.id – Di era di mana pendidikan sering kali identik dengan biaya bimbingan belajar (bimbel) yang mahal, seorang siswa dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, membuktikan bahwa ketekunan dan teknologi bisa menjadi penyeimbang yang ampuh. Tanpa menginjakkan kaki di lembaga bimbel, Muhammad Agha Nazih, siswa SMAN 1 Kudus, berhasil mencatatkan prestasi gemilang: meraih nilai sempurna 100 pada mata pelajaran Fisika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Capaian Agha bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah pembuktian validitas metode belajar baru. Di saat banyak pihak mengkhawatirkan dampak negatif Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) terhadap integritas akademik, Agha justru menjadikan AI sebagai "mentor pribadi" yang membawanya memecahkan salah satu mata pelajaran tersulit di bangku sekolah menengah.
Strategi "Prompt" Terstruktur: Kunci Menjinakkan AI
Rahasia keberhasilan Agha bukanlah sekadar menyalin jawaban dari chatbot, melainkan bagaimana ia berinteraksi dengan teknologi tersebut. Agha mengungkapkan bahwa ia telah menggunakan AI, termasuk ChatGPT, sebagai pendamping belajar sejak duduk di bangku kelas XI. Baginya, AI bukan mesin penjawab soal instan, melainkan mitra diskusi untuk mendalami konsep.
"Kunci utamanya ada pada prompt (perintah teks) yang kita berikan. Prompt harus jelas, terstruktur, dan spesifik," ungkap Agha.
Alih-alih hanya meminta jawaban, Agha menggunakan pendekatan yang lebih analitis. Ia sering meminta AI untuk bertindak sebagai pembuat soal ujian. Contoh perintah yang ia gunakan adalah: "Buatkan saya 10 soal pilihan ganda dengan 5 opsi jawaban tentang materi Dinamika Rotasi, urutkan dari tingkat kesulitan mudah hingga sangat sulit."
Dengan cara ini, Agha melatih nalarnya secara bertahap. Ia juga memanfaatkan fitur "Mode Penalaran" (Reasoning Mode) pada model AI terbaru, yang menurutnya memberikan penjelasan langkah demi langkah yang jauh lebih logis dan mendalam dibandingkan mode percakapan biasa. Pendekatan ini memungkinkannya memahami "mengapa" sebuah jawaban benar, bukan hanya "apa" jawaban yang benar.
Disiplin Tanpa Bimbel: Efisiensi Waktu adalah Kunci

Foto: CHITKARA UNIVERSITY
Metode belajar mandiri berbasis AI ini terbukti sangat efisien dari segi waktu. Berbeda dengan siswa bimbel yang mungkin menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan dan kelas tambahan, Agha memiliki jadwal belajar yang fleksibel namun disiplin.
Rutinitas belajarnya cukup sederhana namun konsisten. Ia biasanya mulai belajar setelah waktu Maghrib dengan durasi rata-rata hanya dua hingga tiga jam per hari, atau maksimal empat jam jika materi sedang padat.
Alur belajarnya pun sistematis:
Pemahaman Konsep: Menonton video pembelajaran di YouTube untuk mendapatkan gambaran visual dan penjelasan dasar.
Latihan Terarah: Meminta AI membuatkan soal latihan berdasarkan materi yang baru ditonton.
Evaluasi Mandiri: Mengerjakan soal, lalu meminta AI mengoreksi dan memberikan pembahasan detail pada bagian yang salah.
Review Berkala: Melakukan tinjauan ulang materi secara rutin untuk menjaga ingatan jangka panjang.
Strategi ini ia terapkan secara intensif selama tiga bulan penuh menjelang pelaksanaan TKA. Agha menekankan pentingnya persiapan dini untuk menghindari kepanikan dan sistem kebut semalam yang sering kali tidak efektif.
Baca juga: Belajar Jadi Lebih Seru! Ini AI Tools yang Bantu Guru Mengajar Lebih Interaktif
Hasil yang Berbicara: Dominasi di Berbagai Mata Pelajaran
Ketekunan Agha membuahkan hasil yang luar biasa. Nilai 100 pada TKA Fisika adalah pencapaian langka, mengingat Fisika sering dianggap sebagai "momok" bagi sebagian besar siswa karena perpaduan kompleks antara konsep abstrak dan perhitungan matematis.
Namun, dominasi Agha tidak berhenti di Fisika. Metode belajar terstruktur yang ia terapkan juga berdampak positif pada mata pelajaran lain. Ia tercatat meraih nilai impresif pada mata pelajaran wajib lainnya: Matematika (83,20), Bahasa Indonesia (80,13), dan Bahasa Inggris (57,63). Bahkan pada mata pelajaran pilihan Matematika Tingkat Lanjut, ia masih mampu mencetak skor 62,97.
Prestasi ini sebenarnya bukan kejutan bagi mereka yang mengenal rekam jejak Agha. Sejak sekolah dasar, ia telah aktif berkompetisi di berbagai olimpiade sains. Di bangku SMA, ia pernah menyabet juara dua dan juara empat Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten untuk bidang Matematika selama dua tahun berturut-turut. Ketertarikannya pada Fisika tumbuh karena ia melihat pelajaran ini sebagai irisan sempurna antara kemampuan numerik matematika dan pemahaman konseptual tentang alam semesta.
Baca juga: SMP di Bali Ajarkan Coding dan AI, Bukti Pembelajaran Teknologi Bisa Ramah Anak
Implikasi bagi Masa Depan Pendidikan
Kisah sukses Muhammad Agha Nazih ini mengirimkan sinyal kuat tentang masa depan pendidikan di tahun 2026 dan seterusnya. Ini adalah bukti nyata demokratisasi pendidikan yang dibawa oleh teknologi. Siswa di daerah kini memiliki akses terhadap kualitas "mentoring" yang setara dengan siswa di kota besar, asalkan mereka memiliki literasi digital yang baik.
Keberhasilan Agha mengajarkan bahwa AI tidak akan menggantikan peran belajar keras, tetapi dapat melipatgandakan efektivitasnya. Siswa yang mampu memadukan disiplin diri dengan kemampuan prompt engineering yang cerdas akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.
Bagi para pendidik dan orang tua, fenomena ini menjadi panggilan untuk mulai merangkul teknologi bukan sebagai musuh, melainkan sebagai alat bantu. Daripada melarang penggunaan AI karena takut kecurangan, lebih baik mengajarkan siswa cara berdialog dengan AI secara kritis—seperti yang dilakukan Agha—untuk membedah konsep sulit menjadi materi yang mudah dicerna. Agha telah membuktikan bahwa dengan cara yang tepat, "guru privat" terbaik abad ini mungkin hanyalah sebuah aplikasi di dalam saku.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News

Tinggalkan Komentar