
Foto: abc NEWS
Teknologi.id – Dalam imajinasi kolektif masyarakat global, menjadi miliarder sering kali dianggap sebagai puncak pencapaian hidup. Dengan kekayaan bersih yang ditaksir mencapai Rp14.000 Triliun (sekitar US$ 300 Miliar), Elon Musk secara teori memiliki akses ke segala bentuk kenikmatan duniawi. Ia bisa membeli pulau pribadi, perusahaan media sosial, hingga tiket perjalanan ke luar angkasa kapan pun ia mau.
Di balik citra jenius teknologi yang visioner, Elon Musk ternyata terjebak dalam pusaran ketidakbahagiaan, kesepian akut, dan ketergantungan zat untuk menstabilkan emosinya. Fakta ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa saldo rekening bank—sebesar apa pun jumlahnya—tidak pernah berbanding lurus dengan ketenangan jiwa.
Baca juga: Elon Musk Jadi Orang Terkaya di Dunia, Harta Tembus Rp14.000 Triliun!
Pengakuan Jujur: "Uang Tak Bisa Beli Bahagia"
Poin paling menohok dari laporan ini adalah pengakuan langsung dari Elon Musk sendiri. Sering kali, kita mendengar pepatah "Uang tak bisa membeli kebahagiaan" sebagai kalimat penghibur bagi mereka yang tidak kaya. Namun, ketika kalimat itu keluar dari mulut orang terkaya di planet ini, maknanya menjadi sangat literal dan menyedihkan.
Dalam sebuah momen kerentanan yang jarang terjadi, Musk menuliskan perasaannya melalui platform miliknya, X (Twitter).
"Whoever said money can't buy happiness really knows what they are talking about."
(Terjemahan): "Siapapun yang bilang uang tak bisa membeli kebahagiaan benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan."

Foto: X/@elonmusk
Musk bahkan menyematkan emoji wajah menangis (😢) di akhir kalimat tersebut. Cuitan ini bukan sekadar status media sosial biasa, melainkan sebuah jeritan minta tolong dari seseorang yang menyadari bahwa semua pencapaian materialnya gagal mengisi kekosongan emosional dalam dirinya. Ia memvalidasi kebenaran pahit bahwa kebahagiaan adalah variabel yang tidak bisa dibeli dengan Dolar maupun Bitcoin.
Sisi Gelap Sang Jenius: Fenomena "Demon Mode"
Walter Isaacson sebagai penulis biografi pribadi juga mengungkapkan sesuatu. Isaacson, yang mengikuti keseharian Musk selama dua tahun penuh, menemukan sebuah fenomena psikologis yang ia sebut sebagai "Demon Mode" atau "Mode Iblis".
Apa itu Demon Mode? Ini adalah keadaan di mana Musk berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan.
Produktivitas Tanpa Empati: Dalam mode ini, otak Musk bekerja sangat cepat dan tajam untuk menyelesaikan masalah teknis di Tesla atau SpaceX. Namun, harga yang harus dibayar adalah hilangnya rasa kemanusiaan. Ia menjadi dingin, kasar, dan tidak peduli pada perasaan orang lain.
Dampak Destruktif: Isaacson menggambarkan bahwa saat Demon Mode aktif, Musk bisa mencaci maki karyawan setianya atau membuat keputusan impulsif yang menyakiti orang-orang terdekatnya. Setelah mode ini berlalu, Musk sering kali tidak ingat atau tidak merasa bersalah atas kekacauan emosional yang ia buat.
Kekayaan Rp14.000 triliun tersebut ternyata tidak mampu "membeli" kendali diri atau stabilitas emosi. Justru, tekanan untuk mempertahankan kekayaan dan ambisi itulah yang sering memicu munculnya sisi gelap ini.
Baca juga: Dokumen Rahasia Jeffrey Epstein Dirilis! Nama Elon Musk & Bill Gates Jadi Sorotan
Ketergantungan pada "Obat" Penenang
Lebih jauh lagi, artikel ini menyoroti dugaan penggunaan obat-obatan sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism). Mengutip investigasi dari Wall Street Journal, Musk dilaporkan menggunakan zat Ketamine.
Penggunaan ini terbagi menjadi dua tujuan yang mengkhawatirkan:
Microdosing untuk Depresi: Musk disebut menggunakan dosis kecil ketamine untuk mengobati depresi klinis yang ia derita. Ini menunjukkan bahwa akses ke dokter dan terapi terbaik dunia sekalipun tetap tak bisa membebaskannya dari 'iblis' di dalam kepala yang harus ia lawan secara kimiawi.
Dosis Penuh untuk Rekreasi: Laporan tersebut juga menyebutkan penggunaan dosis penuh dalam pesta-pesta tertentu. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk "lari" dari realitas, sebuah tanda umum dari ketidakbahagiaan yang mendalam.
Isolasi di Puncak Dunia
Salah satu aspek paling tragis yang diangkat adalah kesepian. Biografi dan laporan berita tersebut menggambarkan Musk sebagai sosok yang sering tidur sendirian di rumah-rumah mewahnya yang kosong, atau memilih tidur di lantai pabrik karena tidak memiliki seseorang untuk pulang.
Hubungan asmaranya dengan penyanyi Grimes yang putus-nyambung, serta keretakan hubungan dengan anak-anaknya (terutama putrinya yang memutuskan kontak sepenuhnya), menambah beban mental tersebut. Uang triliunan rupiah mungkin bisa membiayai pesta termewah di dunia, namun tidak bisa memaksakan kehadiran cinta yang tulus atau keluarga yang harmonis.
Sebuah Peringatan Mahal
Kisah Elon Musk ini bukan sekadar berita selebriti, melainkan sebuah studi kasus psikologis tentang batas kemampuan materi.
Kita sering berpikir, "Jika saya punya uang Rp1 Miliar saja, masalah saya selesai." Namun Elon Musk, dengan Rp14.000.000.000.000.000 di tangannya, membuktikan sebaliknya. Ia memiliki segalanya, namun di saat yang sama ia merasa tidak memiliki apa-apa dalam hal ketenangan batin.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar