Indonesia Kembangkan Baterai Sodium, Solusi Murah untuk Kendaraan Listrik

Algis Akbar . February 10, 2026


Foto: inikami.id

Teknologi.id – Di tengah ambisi besar Indonesia menjadi pelopor kunci ekosistem kendaraan listrik (EV) dunia, sebuah inovasi baru mulai mencuat ke permukaan. Industri komponen otomotif nasional kini tidak hanya terpaku pada lithium, melainkan mulai melirik pengembangan baterai berbasis sodium (natrium) sebagai alternatif masa depan. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menciptakan solusi penyimpanan energi yang lebih terjangkau, melimpah secara bahan baku, dan tentunya lebih berkelanjutan bagi lingkungan.

Potensi Sodium Menggeser Dominasi Aki Konvensional

Salah satu pelopor utama yang tengah serius mengkaji dan mendalami inovasi teknologi ini adalah PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA). Perusahaan komponen lokal ini melihat peluang bahwa meski saat ini pasar didominasi oleh baterai lithium, sodium memiliki keunggulan spesifik tersendiri yang tidak dimiliki oleh teknologi lain, terutama dalam menggantikan aki timbal (lead-acid) yang selama ini digunakan pada kendaraan konvensional.

Head of Business Development DRMA, Eko Maryanto, mengungkapkan bahwa posisi baterai sodium berada di titik tengah yang sangat strategis. “Posisinya memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibandingkan dengan lead acid.

Untuk aki, sebenarnya sodium ini yang paling cocok,” ujar Eko saat ditemui di JIExpo Kemayoran beberapa waktu lalu. Karakteristik sodium yang stabil menjadikannya kandidat kuat untuk merevolusi komponen starter kendaraan maupun sistem penyimpanan energi skala kecil lainnya.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Teknologi yang Bisa Buat Baterai Tahan Seumur Hidup

Tantangan Teknologi Mahal dan Kesiapan Pasar

Foto: ChatGpt

Namun, perjalanan menuju komersialisasi massal baterai sodium di Indonesia masih harus melalui jalan terjal. Tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya biaya produksi serta kesiapan teknologi yang belum sematang Lithium Iron Phosphate (LFP). Saat ini, meskipun natrium sebagai bahan baku sangat melimpah di alam, proses pengolahannya menjadi sel baterai yang efisien masih memerlukan biaya tinggi.

“Sekarang teknologinya masih mahal. Energinya juga lebih rendah dibanding LFP, tapi harganya justru masih lebih tinggi,” kata Eko, menjelaskan kondisi pasar saat ini. Hal inilah yang membuat masyarakat maupun pelaku industri belum sepenuhnya beralih ke sodium.

Ketergantungan pada satu jenis teknologi, yaitu lithium, memang dinilai berisiko dalam jangka panjang terkait keterbatasan mineral langka. Oleh karena itu, pengembangan sodium tetap diperlukan sebagai "rencana cadangan" agar industri otomotif nasional memiliki fleksibilitas di masa depan.

Keunggulan Keamanan dan Daya Tahan di Cuaca Ekstrem

Baterai sodium-ion tidak hanya unggul dari sisi ketersediaan bahan baku, tetapi juga menawarkan standar keamanan yang lebih tinggi untuk pemakaian pengguna. Berbeda dengan lithium yang cenderung reaktif, natrium memiliki stabilitas kimia yang lebih baik sehingga meminimalisir risiko kebakaran pada mesin kendaraan. Dalam berbagai pengujian ekstrem, baterai ini terbukti tetap stabil meski mengalami tekanan fisik yang besar.

Selain faktor keamanan, baterai sodium-ion memiliki performa yang luar biasa pada suhu rendah. Saat baterai lithium konvensional sering kali kehilangan kapasitas daya dalam kondisi dingin, sodium-ion justru relatif stabil dan tetap mampu menyalurkan energi secara maksimal.

Kemampuan pengisian cepat (fast charging) dan siklus hidup yang panjang menjadikannya teknologi yang sangat menjanjikan. Produsen global seperti CATL bahkan sudah mulai menguji teknologi ini pada mobil penumpang, menandakan bahwa tinggal menunggu waktu hingga teknologi ini menjadi standar baru di jalan raya.

Baca juga: China Bikin Baterai Nuklir Seukuran Koin, Tahan 50 Tahun Tanpa Dicas

Kontribusi Negeri untuk Kemajuan Teknologi Transportasi 

Pengembangan baterai sodium di Indonesia adalah langkah visioner untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada mineral langka yang harganya kian fluktuatif. Meski saat ini masih terkendala faktor biaya dan efisiensi energi yang belum mengalahkan lithium, potensi sodium sebagai solusi energi hijau yang lebih aman dan melimpah tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sinergi antara pelaku industri lokal seperti PT Dharma Polimetal Tbk. Dukungan regulasi pemerintah akan menjadi kunci utama. Jika tantangan biaya produksi dapat ditekan melalui riset yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pemimpin dalam penggunaan baterai sodium di kawasan regional. Masa depan energi hijau Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada satu jenis baterai, melainkan pada keberagaman inovasi yang mampu menjawab tantangan zaman secara berkelanjutan.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(AA/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar