Krisis Memori Global! Harga STB dan Router Diprediksi Segera Melonjak

Algis Akbar . February 23, 2026


Foto: trenmedia.co.id

Teknologi.id – Konsumen perangkat elektronik di Indonesia nampaknya harus bersiap merogoh kocek lebih dalam dalam waktu dekat. Pasalnya, badai krisis pasokan memori global kini tengah menghantui industri teknologi dunia. Kelangkaan komponen vital ini diprediksi akan memicu kenaikan harga pada berbagai perangkat elektronik konsumen, mulai dari hard disk, router Wi-Fi, hingga Set Top Box (STB). Situasi ini tentu menjadi kabar buruk bagi mereka yang baru saja berniat merakit komputer atau memperbarui sistem hiburan di rumah.

Kondisi ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara permintaan pasar yang melonjak tajam dengan kapasitas produksi produsen memori yang masih terbatas. Krisis ini merupakan efek domino dari meningkatnya kebutuhan memori untuk pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyedot sebagian besar alokasi produksi global, sehingga menyisakan celah sempit bagi perangkat elektronik rumah tangga. Dominasi perusahaan raksasa dalam mengamankan stok memori membuat pabrikan perangkat kecil semakin terjepit dalam persaingan pengadaan bahan baku.

Dampak pada Perangkat Jaringan dan Hiburan


Foto: gramedia.com

Perangkat seperti router dan STB menjadi yang paling rentan terdampak. Kedua perangkat ini sangat bergantung pada komponen memori jenis DRAM dan NAND Flash untuk menjalankan sistem operasinya. Ketika harga chip memori tersebut naik di tingkat produsen, para vendor perangkat keras tidak memiliki pilihan lain selain menyesuaikan harga jual di tingkat ritel demi menjaga margin keuntungan. Lonjakan biaya produksi ini sering kali langsung dibebankan kepada pembeli tanpa adanya masa transisi harga yang cukup lama.

Para analis industri memprediksi bahwa kenaikan harga ini tidak akan terjadi secara perlahan, melainkan bisa melonjak cukup signifikan dalam waktu singkat. Bagi masyarakat yang berencana melakukan upgrade jaringan internet rumah atau membeli STB untuk siaran digital, momentum saat ini mungkin menjadi kesempatan terakhir sebelum label harga baru mulai diberlakukan oleh para distributor resmi di Indonesia. Menunda pembelian hanya akan memperbesar risiko mendapatkan barang dengan harga yang sudah melambung tinggi di pasaran.

Baca juga: Memori HP Penuh? Ini 4 Cara Ampuh Atasi Penyimpanan Android Tanpa Hapus Aplikasi

Hard Disk dan Komponen PC Ikut Terkerek

Tidak hanya perangkat jaringan, media penyimpanan seperti hard disk (HDD) dan Solid State Drive (SSD) juga berada di zona merah. Meskipun teknologi produksi semakin maju, ketergantungan pada material memori tetap membuat harga perangkat ini fluktuatif mengikuti ketersediaan komponen di dunia.

Krisis memori global ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Selain faktor AI, gangguan pada rantai pasok logistik dan kenaikan biaya bahan baku manufaktur turut memperparah keadaan. Hal ini membuat para manufaktur besar harus memprioritaskan pesanan dari perusahaan raksasa teknologi, yang secara tidak langsung menomorduakan produksi komponen untuk perangkat konsumsi massal yang harganya lebih terjangkau.

Strategi Menghadapi Kenaikan Harga

Menyikapi tren kenaikan harga ini, para pengamat menyarankan konsumen untuk lebih selektif dalam membeli perangkat. Melakukan riset harga di berbagai e-commerce dan membandingkan spesifikasi antarmerek bisa menjadi cara untuk mendapatkan harga terbaik di tengah ketidakpastian stok.

Beberapa vendor lokal di Indonesia juga dikabarkan mulai melakukan stok cadangan (stockpiling) untuk menjaga stabilitas harga di pasar domestik selama beberapa bulan ke depan. Namun, langkah ini hanya bersifat sementara. Jika krisis memori global terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, kenaikan harga di level konsumen akhir dipastikan tidak akan terelakkan lagi.

Baca juga: Memori HP Penuh? Hapus Deretan Aplikasi Ini Agar Ponsel Kencang di Tahun Baru!
Tantangan Baru bagi Inklusi Digital

Kenaikan harga perangkat esensial seperti router dan STB tentu menjadi tantangan baru bagi upaya pemerataan akses digital di Indonesia. Di saat masyarakat sedang bersemangat melakukan transformasi ke arah digital, beban biaya perangkat yang lebih mahal bisa menjadi hambatan bagi kelompok masyarakat tertentu untuk tetap terhubung dengan informasi.

Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat bersinergi untuk mencari solusi alternatif, termasuk mengoptimalkan penggunaan komponen lokal atau memberikan insentif tertentu agar harga perangkat elektronik tetap terjangkau. Bagaimanapun, krisis memori global ini adalah pengingat betapa krusialnya kemandirian rantai pasok teknologi bagi sebuah negara agar tidak sepenuhnya terdikte oleh gejolak pasar internasional yang tak menentu. Keberpihakan pada efisiensi industri dalam negeri akan menjadi kunci utama dalam memitigasi dampak buruk dari krisis yang bersifat global ini.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(AA/ZA)

Share :