
Foto: UMSIDA
Teknologi.id – Kebiasaan pengguna media sosial, khususnya Generasi Z (Gen Z), yang sering berlindung di balik akun kedua (second account) di platform seperti Instagram dan TikTok kini menghadapi ancaman privasi baru. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) kini memiliki kemampuan untuk membongkar identitas asli di balik akun-akun samaran tersebut secara mudah dan akurat.
Selama ini, akun alternatif tanpa nama asli kerap dimanfaatkan sebagai ruang aman bagi pengguna untuk mencurahkan isi hati, mengeluhkan tugas kuliah atau pekerjaan, hingga mengunggah konten humor tanpa takut dihakimi oleh keluarga maupun rekan kerja. Sebagian besar pengguna merasa privasi mereka terjamin hanya dengan menggunakan foto profil palsu dan nama pengguna samaran. Namun, ilusi privasi tersebut berpotensi segera berakhir.
Dua peneliti AI, Simon Lermen dan Daniel Paleka, menyoroti bahaya laten di balik Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLM). LLM merupakan teknologi fondasi yang menggerakkan berbagai sistem AI modern saat ini. Menurut para peneliti, LLM mampu mengabaikan status anonimitas pengguna dan secara proaktif mengungkap identitas asli mereka.
Baca juga: Bikin Heboh! Bos Instagram Sebut Main IG 16 Jam Bukan Kecanduan, Kok Bisa?
Cara kerja AI dalam membongkar identitas ini tidak bergantung pada nama, melainkan dengan cara menggali kepingan konteks yang tersebar dari berbagai unggahan pengguna. Peneliti memberikan sebuah contoh skenario lazim: pemilik sebuah second account mengeluh di TikTok mengenai sulitnya ujian di kampus, lalu pada video berbeda ia menyebutkan nama kucing peliharaannya, dan di unggahan lain tak sengaja memperlihatkan kedai kopi tempat ia sering berkumpul.
Rangkaian informasi yang tampak tak berkaitan tersebut akan dikumpulkan. Tanpa disadari pengguna, sistem AI akan menyapu internet untuk mencari kepingan detail serupa di platform lain. Hasilnya, AI mampu merangkai teka-teki jejak digital tersebut dan mencocokkan second account dengan akun utama pengguna secara presisi.

Foto: Kompas.com
Kemampuan AI melacak jejak digital ini memunculkan ancaman keamanan siber yang masif. Bagi pengguna awam, identitas akun kedua yang terbongkar ke publik dapat berujung pada perundungan siber (cyberbullying) hingga praktik penyebaran data pribadi secara ilegal (doxing), terutama jika akun tersebut pernah mengunggah opini kontroversial.
Dalam skenario yang lebih fatal, penulis studi memperingatkan bahwa peretas (hacker) dapat merancang skema penipuan yang sangat personal. Berbekal profil yang dikumpulkan oleh AI, peretas dapat melakukan serangan spear-phishing. Mereka menyamar sebagai teman tongkrongan yang mengetahui rahasia spesifik korban, lalu memanipulasi korban agar bersedia mengeklik tautan berbahaya.
Baca juga: Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik
Pakar keamanan siber dari University of Edinburgh, Dr. Marc Juarez, memberikan peringatan keras terkait temuan ini. Ia menyebutkan bahwa kemampuan AI telah menembus batasan media sosial. "Ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan bahwa kita harus memikirkan kembali praktik privasi kita," tegas Juarez.
Meskipun teknologi LLM tampak sangat canggih, sistem ini bukanlah mesin yang sempurna. Profesor Ilmu Komputer dari University College London (UCL), Peter Bentley, mengingatkan bahwa AI memiliki kecenderungan untuk berhalusinasi dan membuat kesalahan pencocokan akun.
Bentley memperingatkan bahwa orang-orang nantinya dapat dituduh melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan. Artinya, AI bisa saja secara keliru menuduh seseorang sebagai pemilik dari sebuah akun anonim yang problematik. Kesalahan sasaran ini bisa terjadi hanya karena target dan pemilik akun anonim tersebut kebetulan menyukai grup musik yang sama atau sering melontarkan keluhan serupa di internet.
Sebagai langkah pencegahan, para ilmuwan mendesak perusahaan media sosial untuk segera mengambil tindakan struktural. Platform diminta menerapkan pembatasan kecepatan unduh dan memblokir seluruh aktivitas pengumpulan data otomatis (scraping) oleh bot.
Kendati demikian, Profesor Marti Hearst dari UC Berkeley menegaskan bahwa benteng pencegahan paling ampuh tetap berada di tangan pengguna. Ia mengingatkan bahwa AI hanya mampu melacak dan mencocokkan identitas apabila pengguna membagikan informasi yang konsisten di kedua akun yang mereka miliki.
Baca Berita dan Artikel Lainnya di Google News
(wn/sa)