
Foto: Getty Images
Teknologi.id – Memasuki tahun 2026, tantangan kesehatan mental di era digital telah mencapai titik yang sangat krusial. Aktivitas yang terlihat sepele, seperti melakukan "scrolling" tanpa henti di layar ponsel, kini diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama kelelahan psikis yang disebut sebagai Social Media Fatigue. Arus informasi yang tak terbendung, notifikasi yang terus-menerus memborbardir, hingga tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan publik digital, perlahan-lahan menguras energi mental manusia.
Banyak individu kini mulai menyadari bahwa interaksi di platform berbagi foto dan video populer tidak lagi memberikan kegembiraan atau inspirasi, melainkan kecemasan dan rasa jenuh yang mendalam. Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan "potongan hidup terbaik" orang lain yang sudah melewati berbagai filter estetika seringkali memicu perasaan tidak cukup atau rendah diri. Di sinilah detoks media sosial menjadi relevan dan mendesak.
Detoks media sosial bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan langkah tegas untuk mengambil kembali kendali atas perhatian, waktu, dan ketenangan batin. Memberi jarak antara diri sendiri dengan layar adalah bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental agar hidup tidak terus-menerus didikte oleh algoritma.
Mengenali Sinyal Bahaya: Kapan Harus Berhenti?
Langkah awal dalam melakukan detoksifikasi adalah dengan mengenali tanda-tanda kelelahan. Jika Anda merasa sulit fokus pada pekerjaan di dunia nyata, merasa cemas saat tidak memeriksa ponsel selama sepuluh menit, atau merasa sedih setelah melihat unggahan orang lain, itu adalah sinyal bahwa ruang mental Anda sudah terlalu penuh.
Kondisi ini seringkali diperparah oleh fenomena "infinite scrolling" atau guliran tanpa batas, di mana otak dipaksa untuk terus memproses informasi baru tanpa ada waktu untuk beristirahat. Akibatnya, individu kehilangan kemampuan untuk menikmati momen saat ini karena perhatiannya selalu terbagi dengan dunia maya.
Baca juga: Apa Itu Doomscrolling? Simak Cara Efektif Melindungi Kesehatan Mental di Era Digital
Strategi Menghilang Sejenak: Penonaktifan Sementara
Bagi mereka yang merasa sangat lelah namun belum siap untuk benar-benar meninggalkan jejak digitalnya, fitur penonaktifan sementara adalah jalan tengah yang paling bijak. Langkah ini memungkinkan pengguna untuk "menghilang" dari peredaran tanpa menghapus kenangan, foto, atau daftar pengikut yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Secara teknis, ketika sebuah akun dinonaktifkan sementara, seluruh profil, foto, komentar, dan tanda suka akan disembunyikan dari publik. Akun tersebut seolah-olah tidak pernah ada, namun data pengguna tetap tersimpan dengan aman di server platform tersebut.
Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan penonaktifan sementara melalui Pusat Akun yang lebih terintegrasi:
Akses menu profil dan masuk ke pengaturan yang ditandai dengan ikon garis horizontal.
Temukan bagian "Pusat Akun" dan pilih menu "Detail Pribadi".
Masuk ke opsi "Kepemilikan dan Kontrol Akun".
Pilih fitur "Penonaktifan atau Penghapusan" dan tentukan akun yang ingin diistirahatkan.
Pilih opsi "Nonaktifkan Akun" dan ikuti instruksi konfirmasi keamanan dengan memasukkan kata sandi.
Penting untuk diingat bahwa penonaktifan ini bersifat fleksibel. Anda dapat mengaktifkan kembali akun tersebut kapan saja hanya dengan melakukan masuk kembali (login). Namun, untuk mencegah penyalahgunaan fitur, platform biasanya membatasi tindakan ini hanya sekali dalam seminggu.

Foto: Popular Science
Memutus Rantai Digital: Penghapusan Permanen
Bagi sebagian orang, jeda sementara mungkin tidak cukup. Ada kalanya seseorang menyadari bahwa dampak negatif media sosial sudah jauh melampaui manfaatnya. Dalam kondisi seperti ini, menghapus akun secara permanen menjadi pilihan radikal untuk memulai lembaran hidup yang benar-benar baru dan bebas dari tekanan digital.
Namun, langkah ini harus dipertimbangkan dengan sangat matang. Menghapus akun secara permanen berarti menghilangkan seluruh foto, video, pengikut, dan pesan yang pernah ada untuk selamanya. Berikut adalah prosedurnya:
Buka pengaturan akun melalui menu Pusat Akun.
Masuk ke Detail Pribadi dan pilih Kepemilikan serta Kontrol Akun.
Ketuk opsi Penonaktifan atau Penghapusan, lalu pilih "Hapus Akun".
Ikuti seluruh instruksi hingga sistem mengonfirmasi permintaan penghapusan.
Perlu dicatat bahwa setelah permintaan diajukan, platform biasanya memberikan masa tenggang selama 30 hari. Selama periode ini, akun Anda tidak akan dapat dilihat oleh siapa pun, namun proses penghapusan belum bersifat final. Jika dalam waktu tersebut Anda merasa menyesal, Anda masih bisa membatalkannya dengan cara masuk kembali ke akun. Namun, jika melewati batas 30 hari, seluruh data akan dihapus secara bertahap dalam waktu hingga 90 hari dan tidak dapat dipulihkan kembali.
Baca juga: Rekomendasi 5 Aplikasi untuk Jaga Kesehatan Mentalmu
Membangun Kebiasaan Baru Pasca-Detoks
Memberi jarak dengan media sosial adalah langkah awal, namun mempertahankan kesehatan mental membutuhkan konsistensi. Setelah melakukan detoks, penting bagi kita untuk mengatur ulang hubungan dengan teknologi. Misalnya, dengan menetapkan batasan waktu penggunaan harian, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, atau lebih memilih interaksi tatap muka dibandingkan komentar di kolom digital.
Kesehatan mental adalah prioritas utama. Di dunia yang semakin bising ini, keheningan adalah sebuah kemewahan yang harus diupayakan. Dengan mengambil jeda, kita memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat, memproses emosi dengan lebih jernih, dan kembali menghargai kedalaman hubungan manusia di dunia nyata yang seringkali luput dari pandangan karena kita terlalu sibuk menatap layar.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)