Riset Harvard Buktikan Penggunaan AI Berlebihan Picu Kelelahan Mental Akut!

Wildan Nur Alif Kurniawan . March 11, 2026


Foto: nusawork

Teknologi.id – Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di tempat kerja kini semakin meluas karena dinilai mampu membantu menyelesaikan tugas harian karyawan. Banyak perusahaan mulai mewajibkan pekerjanya untuk menggunakan berbagai perangkat lunak berbasis AI. Namun, sebuah riset terbaru yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review (HBR), menemukan temuan yang berlawanan dengan ekspektasi awal. Penggunaan AI yang berlebihan dan tidak terarah di lingkungan kerja justru terbukti memicu kondisi kelelahan mental yang parah bagi para pekerja.

Fenomena kelelahan mental akibat terlalu sering berinteraksi dengan AI ini diperkenalkan oleh para peneliti dengan istilah "AI Brain Fry". Kondisi ini secara spesifik merujuk pada rasa kelelahan kognitif ekstrem yang dialami oleh pekerja. Hal ini terjadi karena kapasitas otak manusia dipaksa untuk terus memproses informasi baru dari berbagai perangkat AI secara terus-menerus. Otak manusia pada dasarnya memiliki batasan alamiah dalam memproses data, dan ketika dipaksa bekerja untuk mengimbangi kecepatan mesin secara terus-menerus, kelelahan mental yang akut menjadi hasil akhirnya.

Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group sekaligus penulis studi tersebut, Julie Bedard, memberikan catatan penting terkait penerapan teknologi ini. Ia mengingatkan bahwa kemampuan perangkat keras maupun lunak komputer memang bisa diperbarui dan ditingkatkan dengan sangat cepat, namun kondisi biologis manusia tidak demikian.

“AI bisa berkembang sangat cepat, tetapi kita masih memiliki otak yang sama seperti kemarin,” kata Bedard. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kemampuan adaptasi otak manusia tidak berkembang secepat teknologi AI itu sendiri. Memaksakan pekerja untuk terus-menerus mengikuti ritme kerja AI tanpa jeda akan berdampak buruk pada kondisi psikologis mereka.

Baca juga: Mitos atau Fakta? Puasa Ternyata Tidak Menurunkan Fungsi Otak, Ini Penjelasan Sains

Metodologi dan Temuan Kasus

Untuk memetakan dampak penggunaan AI terhadap pekerja secara lebih jelas, studi HBR melakukan survei dengan melibatkan sekitar 1.500 pekerja purnawaktu (full-time) di Amerika Serikat. Hasil survei tersebut menunjukkan angka yang perlu mendapat perhatian serius dari pihak manajemen perusahaan. Dari total keseluruhan pekerja yang disurvei, sebanyak 14 persen responden mengaku secara langsung bahwa mereka pernah mengalami kondisi brain fry di tempat kerja.

Kelelahan mental ini rupanya tidak menimpa semua jenis pekerjaan secara merata. Kasus ini paling banyak ditemukan pada industri atau divisi yang sehari-harinya menuntut pekerja untuk terus berinteraksi dengan komputer. Studi tersebut memetakan lima bidang pekerjaan teratas yang paling banyak melaporkan kasus brain fry. Kelima bidang pekerjaan tersebut secara berurutan adalah:

  1. Pemasaran (Marketing)

  2. Pengembangan Perangkat Lunak (Software Development)

  3. Sumber Daya Manusia (HR)

  4. Keuangan (Finance)

  5. Teknologi Informasi (TI)

Pekerja di kelima sektor di atas umumnya memiliki tanggung jawab untuk mengolah banyak data. Mereka juga kelompok yang paling sering dituntut oleh perusahaan untuk menggunakan alat bantu digital terbaru.

Baca juga: Gempur Neuralink! China Kini Balap Teknologi Implan Otak untuk Produksi Massal

Pemicu dan Gejala Brain Fry


Foto: Openup

Studi ini juga merinci kapan tepatnya alat AI berubah fungsi dari sekadar alat bantu menjadi beban kerja yang memberatkan. Peneliti menemukan bahwa AI sebenarnya terbukti mampu menurunkan tingkat stres pekerja, asalkan teknologi tersebut murni digunakan untuk mengambil alih tugas-tugas yang sifatnya rutin. 

Namun, batas toleransi kognitif pekerja mulai terlewati ketika mereka diwajibkan menggunakan tiga atau lebih tools AI secara bersamaan. Tuntutan untuk terus berpindah-pindah fokus kerja antar-perangkat AI inilah yang memicu terjadinya brain fry.

Pekerja yang mengalami kondisi ini melaporkan sejumlah gejala spesifik yang mengganggu pekerjaan mereka. Beberapa keluhan utamanya meliputi munculnya mental fog atau kabut mental yang membuat pikiran terasa tidak jernih. Pekerja juga mengeluhkan kepala yang terasa penuh, kesulitan untuk mempertahankan fokus pada satu pekerjaan spesifik, hingga melambatnya kemampuan mereka dalam mengambil keputusan sehari-hari.

Dampak bagi Stabilitas Perusahaan

Dampak dari fenomena brain fry tidak hanya berhenti pada masalah kesehatan individu karyawan. Kondisi ini secara langsung memengaruhi performa pekerja dan stabilitas operasional perusahaan secara keseluruhan. Studi HBR mencatat bahwa penggunaan AI yang berlebihan memicu lonjakan angka decision fatigue—yakni kelelahan akut dalam mengambil keputusan—hingga mencapai angka 33 persen. Saat pekerja kelelahan dalam mengambil keputusan, operasional kerja menjadi melambat.

Lebih jauh lagi, tekanan mental yang terus-menerus ini turut memengaruhi tingkat retensi karyawan. Data riset menunjukkan bahwa niat pekerja untuk mengundurkan diri (resign) dari perusahaan meningkat hampir 10 persen akibat fenomena brain fry ini. Temuan ini menjadi peringatan bahwa penggunaan AI di tempat kerja perlu diimbangi dengan pengaturan beban kerja yang tepat. Perusahaan disarankan untuk lebih bijak dalam menentukan berapa banyak perangkat AI yang wajib digunakan oleh satu pekerja agar efisiensi yang diharapkan tidak justru berbalik merugikan perusahaan.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News


(WN/ZA)

Share :