
Foto: The Verge
Teknologi.id - Pernyataan mengejutkan datang dari bos Instagram, Adam Mosseri, dalam sebuah persidangan besar di Amerika Serikat. Kasus ini menjadi sorotan dunia karena menyangkut masa depan regulasi media sosial dan perlindungan terhadap pengguna di bawah umur.
Di hadapan hukum, Mosseri memberikan pembelaan yang memicu perdebatan panas terkait tudingan bahwa Instagram merusak kesehatan mental anak muda secara sistematis. Isu ini mencuat setelah banyak pihak menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi atas algoritma yang dinilai terlalu mengikat pengguna. Mosseri hadir sebagai saksi kunci untuk menjelaskan kebijakan perusahaan di tengah gempuran gugatan hukum yang semakin masif.
Ia menegaskan bahwa durasi main media sosial yang sangat lama, bahkan hingga 16 jam sehari, tidak otomatis berarti seseorang sudah kecanduan secara medis. Menurutnya, angka durasi waktu di depan layar tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk mendiagnosis gangguan kesehatan jiwa tanpa melihat faktor pendukung lainnya.
Pembelaan ini langsung memancing reaksi dari para ahli hukum dan aktivis perlindungan anak yang menganggap durasi tersebut sudah jauh melampaui batas kewajaran aktivitas harian manusia normal. Perdebatan ini kini berfokus pada definisi nyata antara antusiasme penggunaan aplikasi dan gangguan perilaku yang memerlukan intervensi medis secara profesional di era digital yang semakin kompleks.
Beda Antara Asyik Main dan Sakit karena Kecanduan
Dalam persidangan tersebut, Mosseri ditanya soal seorang remaja yang menghabiskan waktu 16 jam sehari hanya untuk scrolling Instagram. Mosseri mengakui bahwa angka itu memang terlihat sebagai penggunaan yang bermasalah, tapi ia menolak menyebutnya sebagai penyakit kecanduan secara langsung.
Menurut Mosseri, batasan waktu terlalu lama itu berbeda bagi setiap orang. Ia menekankan perlunya melihat masalah ini dari sudut pandang medis yang lebih dalam. “Penting untuk membedakan antara kecanduan klinis dan penggunaan yang bermasalah,” kata Mosseri sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
Ia mengibaratkan hal ini dengan hobi menonton film secara maraton di Netflix sampai larut malam. “Saya yakin kita semua pernah bilang kecanduan nonton serial Netflix saat maraton sampai larut malam. Tapi menurut saya itu tidak sama dengan kecanduan klinis,” ujar Mosseri. Baginya, selama pengguna masih merasa baik saja dan tidak terganggu fungsi hidupnya, durasi lama adalah hal yang personal.
Baca juga: Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik
Tudingan Bahwa Instagram Berbahaya Bagi Anak Muda
Persidangan ini sebenarnya bertujuan untuk menguji apakah perusahaan media sosial harus bertanggung jawab atas kesehatan mental penggunanya. Muncul fakta bahwa banyak remaja merasa tertekan karena perundungan (bullying) dan filter wajah yang membuat mereka tidak percaya diri.
Bahkan terungkap data bahwa ada pengguna yang sudah mengirim lebih dari 300 laporan perundungan ke Instagram, namun masalahnya tetap terjadi. Selain soal durasi waktu, fitur filter yang bisa mengubah bentuk fisik secara drastis juga dikritik karena dianggap menciptakan standar kecantikan yang tidak masuk akal bagi anak muda.
Bos Instagram: Saya Bukan Dokter

Foto: webhostdiy.com
Walaupun sudah meminimalkan dampak negatif dengan berbagai fitur, Mosseri berulang kali menegaskan bahwa dirinya bukan ahli kesehatan atau spesialis kecanduan. Ia menekankan bahwa urusan menentukan seseorang kecanduan atau tidak adalah tugas dokter atau psikolog, bukan tugas bos teknologi. Diagnosis kecanduan merupakan kewenangan profesional yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Hal ini dipertegas dalam persidangan bahwa penilaian mengenai batas wajar penggunaan sangat bergantung pada latar belakang masing-masing pengguna. Mosseri menyatakan bahwa klasifikasi kecanduan memerlukan indikator khusus yang berada dalam ranah profesional kesehatan mental dan bukan sekadar melihat durasi aplikasi yang terbuka.
Baca juga: Fitur Your Algorithm Dirilis! Ini Cara Setting Reels Instagram Agar Lebih Relevan
Jadi, berapa jam yang sehat dalam bermain IG?
Pernyataan Adam Mosseri ini membuka mata kita bahwa durasi waktu di depan layar masih menjadi perdebatan panjang. Di satu sisi, perusahaan merasa durasi yang lama adalah bukti bahwa aplikasi mereka menarik. Namun, di sisi lain, orang tua dan ahli hukum melihatnya sebagai ancaman nyata bagi mental generasi muda.
Persidangan ini masih terus berlanjut dan akan menjadi penentu apakah nantinya akan ada aturan baru yang lebih ketat seperti pembatasan waktu otomatis atau penghapusan filter tertentu. Untuk saat ini, pesan terbaik bagi kita adalah tetap bijak mengatur waktu dan ingat bahwa kehidupan di dunia nyata jauh lebih penting daripada sekadar angka di layar ponsel.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(AA/ZA)