
Foto: the scientist
Teknologi.id - Cara manusia memperlakukan jenazah setelah kematian terus berkembang seiring perubahan zaman. Jika selama ini pemakaman dan kremasi menjadi pilihan utama, kini muncul alternatif baru yang mulai menarik perhatian: pengomposan jasad manusia. Metode ini disebut-sebut lebih ramah lingkungan dan memberikan makna baru bagi keluarga yang ditinggalkan.
Alternatif Baru yang Lebih “Hijau”
Pengomposan jasad manusia pada dasarnya meniru proses alami yang terjadi saat tubuh terurai di dalam tanah. Bedanya, metode ini mempercepat proses tersebut dalam kondisi yang terkontrol.
Menurut Tom Harries dari Earth Funeral, metode ini hanyalah percepatan dari mekanisme alami. Tubuh manusia diubah menjadi tanah dalam waktu yang relatif singkat tanpa bahan kimia tambahan.
Dibandingkan kremasi yang membutuhkan energi besar, atau pemakaman konvensional yang sering menggunakan bahan pengawet seperti formaldehida, pengomposan dinilai jauh lebih bersahabat dengan lingkungan. Emisi karbon yang dihasilkan juga lebih rendah, sehingga dianggap sebagai solusi pemakaman masa depan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Mirip Avatar Ilmuwan China Ciptakan Tanaman Bercahaya Tanpa Listrik
Kisah Keluarga yang Memilih Pengomposan
Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Laura Muckenhoupt. Ia memilih metode ini untuk putranya, Miles, yang meninggal di usia muda.
Bagi Laura, tanah hasil pengomposan bukan sekadar sisa jasad, melainkan simbol kehidupan yang terus berlanjut. Tanah tersebut kemudian dibagikan dan digunakan untuk menanam berbagai tanaman di berbagai belahan dunia.
Sebagian digunakan untuk menumbuhkan pohon markisa di Portugal, sementara bagian lainnya membantu pertumbuhan tanaman di wilayah seperti Hawaii dan bahkan Indonesia. Di rumahnya sendiri, tanah itu digunakan untuk menanam semak mawar.
Setiap kali bunga mawar tersebut mekar, Laura merasakan kehadiran putranya dalam bentuk yang berbeda. Pengalaman ini memberikan makna emosional yang dalam, sekaligus cara baru dalam mengenang orang tercinta.
Bagaimana Prosesnya Bekerja?
Proses pengomposan jasad manusia dilakukan dalam wadah khusus yang dirancang untuk mempercepat penguraian alami. Jenazah terlebih dahulu dibungkus dengan kain yang mudah terurai, lalu ditempatkan dalam kapsul logam memanjang.
Di dalam kapsul tersebut, tubuh dikelilingi oleh campuran bahan organik seperti serpihan kayu, jerami, mulsa, dan bunga liar. Mikroba alami kemudian mulai bekerja memecah tubuh.
Dalam kondisi tertutup, suhu akan meningkat karena aktivitas mikroba. Oksigen disuplai secara berkala, dan wadah diputar untuk memastikan proses berjalan merata. Selama proses ini, tubuh menghasilkan nitrogen, sementara bahan tambahan menyediakan karbon sebagai kombinasi ideal untuk pengomposan.
Dalam waktu sekitar 45 hari, tubuh akan terurai menjadi tanah kaya nutrisi dengan berat mencapai sekitar 136 kilogram. Tanah ini kemudian bisa dibawa pulang oleh keluarga atau digunakan untuk proyek konservasi lingkungan.
Baca juga: Canggih! Ilmuwan Buat AI yang Bisa Deteksi Pengemudi Mabuk Hanya Lewat Wajah
Mengapa Metode Ini Mulai Populer?
Popularitas pengomposan manusia tidak lepas dari meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan. Kremasi, yang selama ini dianggap praktis, ternyata menghasilkan emisi karbon cukup besar karena membutuhkan pembakaran dengan gas dalam jumlah tinggi.
Sementara itu, pemakaman tradisional juga memiliki dampak lingkungan, terutama dari penggunaan bahan kimia dalam proses pembalseman serta penggunaan lahan yang luas.
Data dari Cremation Association of North America menunjukkan bahwa kremasi telah menjadi pilihan mayoritas di Amerika Serikat. Namun, tren baru mulai bergeser ke arah opsi yang lebih ramah lingkungan, termasuk pengomposan.
Saat ini, praktik pengomposan jasad manusia telah dilegalkan di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat.
Perspektif Baru tentang Kehidupan dan Kematian
Pengomposan jasad manusia bukan hanya soal teknologi atau lingkungan, tetapi juga cara baru dalam memaknai kematian. Metode ini menawarkan gagasan bahwa akhir kehidupan manusia dapat kembali menjadi bagian dari siklus alam.
Bagi sebagian orang, konsep ini memberikan ketenangan bahwa mereka tidak benar-benar “hilang”, melainkan menjadi bagian dari kehidupan baru di bumi. Seiring berkembangnya teknologi dan kesadaran lingkungan, bukan tidak mungkin metode ini akan menjadi pilihan umum di masa depan.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(ir/sa)