
Foto: Freepik/ jcomp
Teknologi.id - Masa depan keselamatan berkendara kini memasuki babak baru berkat integrasi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih. Peneliti dari Edith Cowan University (ECU), Australia, tengah mengembangkan teknologi revolusioner yang mampu mendeteksi kondisi fisik dan mental pengemudi hanya melalui analisis wajah. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi non-invasif untuk menekan angka kecelakaan akibat pengemudi mabuk, lelah, hingga emosional.
Penelitian ini dipimpin oleh Abdullah Tariq, kandidat PhD dari ECU, yang menyoroti fakta mengkhawatirkan di jalan raya. Menurut Tariq, sekitar 30 persen kecelakaan fatal di Australia disebabkan oleh pengaruh alkohol. Angka ini menjadi motivasi utama tim peneliti untuk menciptakan sistem pemantauan real-time yang lebih praktis dibandingkan metode konvensional.
Baca juga: AI Makin Ngeri! Claude Bongkar Celah Keamanan di Kode Milik Bos Microsoft Azure
Model Deep Learning 3D: Satu Sistem untuk Banyak Risiko
Berbeda dengan model AI pada umumnya yang hanya fokus pada satu tugas khusus, inovasi yang dikembangkan di ECU menggunakan model deep learning 3D tunggal. Sistem ini mampu mengidentifikasi tiga faktor risiko utama secara bersamaan: kadar alkohol dalam darah (blood alcohol concentration), tingkat kelelahan (fatigue), dan ekspresi emosional seperti kemarahan.
Dalam pengujian awal, sistem ini menunjukkan tingkat akurasi yang luar biasa. Deteksi rasa kantuk atau kelelahan mencapai akurasi 95 persen, sementara identifikasi kadar alkohol dalam darah menyentuh angka hampir 90 persen. Menariknya, teknologi ini tidak hanya mendeteksi keberadaan alkohol, tetapi juga mengklasifikasikan tingkat gangguan pengemudi ke dalam tiga kategori: sadar (sober), moderat, hingga berat (severe).
Melampaui Metode Breathalyzer Konvensional

Foto: Kent Law Firm LLC
Selama ini, metode deteksi alkohol seperti breathalyzer (alat tiup) atau tes darah memang dikenal akurat, namun memiliki keterbatasan besar. Metode tersebut bersifat invasif, membutuhkan kerja sama aktif dari subjek, dan tidak memungkinkan untuk pemantauan terus-menerus selama perjalanan.
"Wajah manusia menyimpan kekayaan informasi, mulai dari emosi, perilaku kognitif, hingga kondisi fisiologis," ujar Abdullah Tariq.
Melalui algoritma cerdas, sistem AI ini dapat membedakan antara pengemudi yang benar-benar mengantuk, pengemudi yang hanya sekadar berekspresi wajah tertentu, atau mereka yang memang berada di bawah pengaruh alkohol.
Dr. Syed Zulqarnain Gilani dari Centre of AI and Machine Learning ECU menjelaskan bahwa ketiga kondisi tersebut—lelah, mabuk, dan marah—saling berkaitan erat dalam literatur psikologi. Kelelahan ekstrem sering kali memberikan efek fisik yang mirip dengan kondisi mabuk, sementara kemarahan dapat memicu road rage yang sangat berbahaya bagi pengguna jalan lain.
BiFuseNet: Akurasi Tinggi di Kondisi Minim Cahaya
Untuk menyempurnakan teknologi ini, para peneliti memperkenalkan model bernama BiFuseNet. Teknologi ini memanfaatkan pendekatan multimodal dengan menggabungkan data video warna normal (RGB) dan inframerah (IR). Penggunaan sensor inframerah sangat krusial agar sistem tetap bisa bekerja optimal dalam kondisi pencahayaan rendah atau malam hari.
BiFuseNet secara otomatis menangkap dinamika wajah yang beragam, termasuk frekuensi kedipan mata, gerakan wajah halus, hingga perubahan geometri wajah yang progresif. Metode otomatis ini jauh lebih unggul dibandingkan metode lama yang harus dilakukan secara manual melalui pengamatan pelebaran pupil atau rasio penutupan mata.
Hasil eksperimen luas menunjukkan bahwa teknologi ini mencapai akurasi klasifikasi sebesar 88,41 persen. Temuan ini telah dipresentasikan dalam ajang bergengsi British Machine Vision Conference (BMVC 2025) dan International Conference on Multimodal Interaction (ICMI 2025).
Baca juga: Masa Depan AI! Singapura Bangun Pusat Data Berbasis Sel Otak Pertama di Dunia
Menuju Asisten Keselamatan Digital Masa Depan
Implementasi teknologi ini di masa depan sangat menjanjikan. Sistem berbasis AI ini berpotensi diintegrasikan langsung ke dalam dashboard kendaraan pintar sebagai "asisten keselamatan digital". Dengan pemantauan tanpa henti yang tidak mengganggu aktivitas mengemudi, AI dapat memberikan peringatan dini atau bahkan mengunci sistem kendaraan jika pengemudi terdeteksi berada dalam kondisi berbahaya.
Inovasi dari ECU ini menawarkan cara baru yang non-invasif untuk memerangi mengemudi dalam keadaan mabuk dan lelah. Dengan terus berkembangnya visi komputer (computer vision), jalan raya di masa depan diharapkan menjadi tempat yang jauh lebih aman bagi semua orang.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar