
Foto: Liu Shuting via CNN
Teknologi.id - Pemandangan futuristik layaknya planet Pandora dalam film Avatar tampaknya bukan lagi sekadar imajinasi layar lebar. Sekelompok ilmuwan di China berhasil menciptakan terobosan bioteknologi berupa tanaman yang mampu memancarkan cahaya alami (bioluminescent) di kegelapan. Inovasi ini diklaim sebagai tanaman bercahaya paling terang dan berwarna-warni yang pernah dibuat, dengan potensi besar untuk mengubah wajah pencahayaan kota di masa depan.
Teknologi ini dikembangkan oleh Magicpen Bio, sebuah perusahaan bioteknologi yang dipimpin oleh Dr. Li Renhan, lulusan doktoral dari China Agricultural University. Melalui rekayasa genetika yang presisi, para peneliti berhasil menyisipkan instruksi biologis penghasil cahaya ke dalam sel tanaman, memungkinkan mereka bersinar tanpa bantuan sumber energi listrik.
Baca juga: Mengerikan! AI Berhasil Retas FreeBSD Secara Mandiri, Era "Cyber Hyperwar" Dimulai
Rekayasa Genetika: Gabungan Gen Kunang-Kunang dan Jamur
Berbeda dengan eksperimen tanaman bercahaya di masa lalu yang redup, tim Dr. Li Renhan menggunakan teknik penyuntingan gen mutakhir. Mereka mentransfer gen penghasil cahaya dari hewan seperti kunang-kunang dan jenis jamur bercahaya (luminous fungi) ke dalam genom tanaman.
Hingga saat ini, lebih dari 20 jenis tanaman telah berhasil dimodifikasi, termasuk bunga populer seperti anggrek, bunga matahari, krisan, hingga tanaman sukulen. Keberhasilan pada berbagai spesies ini merupakan lompatan besar dibandingkan produk serupa seperti "Firefly Petunia" yang sempat viral di Amerika Serikat pada 2024, yang saat itu hanya terbatas pada satu spesies saja. Kemampuan untuk mengaplikasikan gen ini ke banyak spesies memungkinkan pembuatan taman tematik yang seluruh ekosistemnya dapat berpendar secara mandiri.
Solusi Pencahayaan Ramah Lingkungan Tanpa Listrik

Foto: AP/ CGTN via Euronews
Selain aspek estetika yang memukau, fokus utama dari penelitian ini adalah keberlanjutan lingkungan. Dr. Li menekankan bahwa tanaman ini tidak membutuhkan infrastruktur listrik sama sekali untuk berfungsi sebagai sumber cahaya.
"Tanaman ini hanya membutuhkan air dan pupuk. Mereka menghemat energi, mengurangi emisi, dan dapat menerangi kota pada malam hari," jelas Li dalam wawancaranya dengan Euronews.
Teknologi ini diproyeksikan untuk mendukung "ekonomi malam" dan sektor pariwisata budaya. Bayangkan taman kota atau lembah di kawasan wisata yang dipenuhi tanaman berwarna-warni yang menyala secara alami, memberikan pencahayaan lembut yang lebih ramah di mata dibandingkan lampu jalanan yang menyilaukan. Cahaya organik ini juga dianggap lebih menenangkan secara psikologis bagi penduduk kota yang sering terpapar polusi cahaya lampu LED yang tajam, sekaligus memangkas biaya operasional listrik publik secara signifikan.
Inovasi Alternatif: Suntikan Nanopartikel Logam
Menariknya, kompetisi pengembangan tanaman bercahaya di China tidak hanya berhenti pada rekayasa genetika. Tim peneliti lain dari South China Agricultural University juga memperkenalkan metode berbeda dengan menyuntikkan nanopartikel logam, seperti stronsium dan aluminium, ke dalam daun tanaman.
Logam-logam ini bertindak layaknya baterai alami yang "mengisi daya" menggunakan sinar matahari di siang hari dan melepaskan pendaran (afterglow) di malam hari. Dengan mengatur campuran logam tersebut, para peneliti bahkan bisa menentukan warna cahaya yang dihasilkan, memberikan lebih banyak opsi palet warna bagi arsitek lanskap kota untuk merancang ruang publik yang dinamis namun tetap hemat energi.
Baca juga: Canggih! Bird of Prey Milik Airbus Bisa Tembak Jatuh 8 Drone Musuh Sekaligus
Pemanfaatan di Bidang Medis dan Pertanian
Lebih dari sekadar dekorasi kota, teknik rekayasa genetik yang digunakan dalam proyek ini memiliki implikasi luas di bidang sains lainnya. Dalam dunia medis, metode serupa membantu ilmuwan mengamati perkembangan penyakit pada tingkat sel secara real-time, yang mempercepat penemuan obat-obatan baru. Penanda cahaya ini memungkinkan peneliti melacak pergerakan virus atau sel kanker di dalam jaringan dengan lebih presisi.
Di sektor pertanian, pemahaman mendalam tentang penyuntingan gen ini telah membantu pengembangan varietas padi baru yang tahan terhadap hama. Dengan memodifikasi gen kerentanan, para ilmuwan mampu memperkuat ketahanan pangan global. Demonstrasi publik tanaman ini pada Forum Zhongguancun baru-baru ini membuktikan bahwa sinergi antara alam dan teknologi dapat memberikan solusi nyata bagi tantangan energi dan pangan di masa depan, mengubah cara manusia berinteraksi dengan alam secara fundamental.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(YNA/ZA)

Tinggalkan Komentar