Iran Incar Kabel Internet Dunia di Selat Hormuz, Big Tech Bisa Kena ‘Pajak Digital’

Yasmin Najla Alfarisi . May 13, 2026

Foto: Magnific/ Freepik

Teknologi.id -  Selat Hormuz telah lama dikenal sebagai urat nadi utama distribusi energi dunia, namun kini Iran mulai memandang kawasan strategis tersebut melalui lensa baru yang lebih modern: sebagai "titik tekanan digital" global. Kantor berita Tasnim, yang memiliki keterkaitan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), baru-baru ini menyerukan agar pemerintah mulai menghasilkan keuntungan ekonomi dari kabel serat optik bawah laut yang melintasi perairan tersebut guna memperkuat kedaulatan digital negara.

Menurut laporan Tasnim dalam artikel berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur fisik bagi kapal tanker, melainkan koridor infrastruktur komunikasi kritis. Setidaknya terdapat tujuh kabel internet bawah laut internasional yang melintasi selat ini, menjadikannya jalur vital untuk koneksi data antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa, termasuk mendukung pusat data cloud dan layanan internet global.

Baca juga: Satelit AI China Diduga Jadi Alat Iran Bidik Pangkalan Militer AS

Potensi Ekonomi dan "Jalan Tol" Tersembunyi

Data yang dihimpun oleh Tasnim menunjukkan urgensi ekonomi yang luar biasa di bawah permukaan laut. Lebih dari US$ 10 triliun transaksi finansial global diperkirakan terjadi setiap hari melalui kabel internet bawah laut yang melewati jalur sempit tersebut. Meski memiliki nilai transaksi yang fantastis, Iran merasa selama ini tidak mendapatkan manfaat ekonomi maupun keuntungan kedaulatan yang adil karena Selat Hormuz masih dipandang secara "tradisional", yakni hanya sebagai jalur pelayaran kapal dan minyak.

Outlet media Fars, yang juga terafiliasi dengan IRGC, memperkuat narasi ini dengan menyebut Hormuz sebagai “jalan tol digital tersembunyi” yang dapat menjadi alat kekuatan baru bagi Iran. Mengingat lebih dari 99% komunikasi internet internasional bergantung pada kabel bawah laut, gangguan pada jalur ini, meskipun hanya untuk beberapa hari, diklaim dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan juta dolar bagi ekonomi regional maupun global. Analisis ini menekankan bahwa ketergantungan dunia pada konektivitas digital kini setara, atau bahkan melampaui, ketergantungan pada minyak mentah.

Tiga Langkah Strategis Iran untuk Menghasilkan Pendapatan

Untuk mengubah Selat Hormuz menjadi pusat penciptaan kekayaan negara yang sah, Tasnim mendorong pemerintah Iran untuk segera mengambil tiga langkah praktis utama:

  1. Pengenaan Biaya Lisensi: Langkah pertama adalah mengenakan biaya lisensi awal serta biaya pembaruan tahunan kepada perusahaan-perusahaan asing yang menggunakan infrastruktur kabel di wilayah tersebut.
  2. Yurisdiksi Hukum bagi Big Tech: Mewajibkan perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Meta, Amazon, dan Microsoft untuk beroperasi di bawah payung hukum Iran saat data mereka melintasi kawasan tersebut.
  3. Kontrol Eksklusif Pemeliharaan: Memberikan kontrol dan hak eksklusif kepada perusahaan-perusahaan Iran untuk menangani seluruh proses pemeliharaan, manajemen, dan perbaikan kabel bawah laut di wilayah yurisdiksi Iran.

Strategi ini secara eksplisit meniru kebijakan yang telah diterapkan oleh Mesir. Negeri Piramida tersebut telah lama memungut biaya transit untuk kabel internet bawah laut yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania, di mana perusahaan milik negara, Telecom Egypt, terlibat langsung dalam bisnis kabel sekaligus menarik biaya transit dari operator global.

Baca juga: Iran Terapkan Tol Bitcoin di Selat Hormuz, Biaya Tembus Rp32 Miliar

Signifikansi Geografis dan Risiko bagi Stabilitas Global

Foto: Tangkapan layar Google Maps

Secara geografis, Selat Hormuz adalah perairan berkelok dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Berdasarkan hukum maritim internasional, setiap negara pantai berhak menguasai hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Karena selat ini relatif sempit, wilayah laut Iran dan Oman saling tumpang tindih, memberikan kedua negara tersebut kontrol langsung atas kawasan tersebut sesuai yurisdiksi hukum masing-masing.

Saat ini, sekitar 20 persen konsumsi minyak global, atau setara 20 juta barel minyak mentah per hari, melewati perairan ini. Selain itu, seperempat atau lebih perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintasi koridor sempit tersebut. Namun, laporan terbaru Tasnim berargumen bahwa negara-negara di sisi selatan Teluk Persia, seperti UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, memiliki tingkat ketergantungan yang jauh lebih besar terhadap infrastruktur internet maritim dibandingkan Iran sendiri.

Analis internasional mengkhawatirkan bahwa jika Iran benar-benar menerapkan kontrol ketat atau pungutan "pajak digital" baru, dampaknya akan meluas dengan cepat ke sistem keuangan global, layanan cloud, hingga operasional harian perusahaan teknologi besar. Keunggulan geografis ini memberi Teheran kemampuan pengawasan dan posisi tawar yang kuat, yang jika disalahgunakan, dapat mengganggu stabilitas arus informasi dan ekonomi digital dunia.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

Share :