China Resmi Operasikan CHIEF1900: Mesin Hipergravitasi Terkuat di Dunia Tahun 2026

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 08, 2026


Foto: X/@PLA_MilitaryUpd dan X/@Rainmaker1973

Teknologi.id – Di awal tahun 2026, Tiongkok kembali membuktikan ambisinya untuk menjadi pemimpin absolut dalam sains dan teknologi global. Melalui laporan terbaru yang dirilis oleh CNBC Indonesia, pemerintah Tiongkok secara resmi memperkenalkan pengoperasian penuh fasilitas CHIEF1900 (Centrifugal Hyper-gravity and Interdisciplinary Experiment Facility) di Hangzhou. Mesin raksasa ini diklaim memiliki kekuatan gravitasi hingga 100 kali lipat lebih kuat dibandingkan gravitasi Bumi, sebuah pencapaian yang menempatkan Tiongkok jauh di depan negara-negara Barat dalam simulasi lingkungan ekstrem.

Bukan hanya soal kekuatan fisik, mesin ini disebut-sebut oleh para ilmuwan sebagai "mesin pemampat ruang dan waktu". Terletak jauh di bawah tanah Universitas Zhejiang, fasilitas ini dirancang untuk menjawab tantangan besar manusia dalam memprediksi masa depan infrastruktur dan fenomena alam yang biasanya membutuhkan waktu pengamatan selama puluhan hingga ratusan tahun.

Revolusi CHIEF1900: Bagaimana "Mesin Waktu" Ini Bekerja?

Mesin hipergravitasi pada dasarnya adalah sebuah sentrifugasi raksasa dengan kapasitas muatan yang sangat besar. Nama CHIEF1900 merujuk pada kapasitasnya yang mencapai 1.900 g-ton. Secara sederhana, angka ini menunjukkan kemampuan mesin untuk memutar beban seberat satu ton dengan percepatan gravitasi ribuan kali lipat, atau menggerakkan beban yang jauh lebih berat pada kecepatan tinggi untuk menciptakan tekanan fisik yang ekstrem.

Profesor Chen Yunmin, kepala ilmuwan proyek CHIEF sekaligus pakar teknik sipil di Universitas Zhejiang, menjelaskan bahwa di bawah kondisi hipergravitasi, proses fisik yang lambat di dunia nyata akan terakselerasi secara drastis. Sebagai contoh, sebuah aliran limbah atau polutan yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk meresap ke dalam lapisan tanah di lapangan, dapat disimulasikan secara akurat hanya dalam waktu 3,65 hari di dalam laboratorium CHIEF.

"Kami menciptakan lingkungan di mana satu meter model laboratorium dapat mewakili skala 100 meter di dunia nyata. Ini memungkinkan kami 'melihat' masa depan keamanan bendungan atau stabilitas lereng pegunungan dalam hitungan jam," ujar Chen Yunmin dalam keterangannya yang dikutip oleh CNBC Indonesia.

Menembus Batas Simulasi: Dari Bencana Alam hingga Sumber Daya Deep-Sea

Aplikasi dari teknologi CHIEF1900 sangat luas dan krusial bagi kedaulatan energi serta keselamatan publik Tiongkok. Salah satu fokus utama penggunaan mesin ini adalah simulasi kegagalan struktur raksasa seperti Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam). Dengan menciptakan gaya gravitasi yang sangat kuat, ilmuwan dapat menguji titik jenuh beton dan tanah di bawah tekanan air yang ekstrem tanpa harus menunggu terjadinya bencana nyata.

Selain itu, mesin ini menjadi tulang punggung bagi eksplorasi sumber daya di laut dalam (deep-sea) dan bumi dalam (deep-earth). Tiongkok tengah gencar mencari deposit gas hidrat dan mineral di kedalaman samudra yang memiliki tekanan penghancur. Melalui CHIEF1900, para insinyur dapat menguji peralatan bor dan struktur anjungan lepas pantai dalam kondisi tekanan yang identik dengan kedalaman 10.000 meter di bawah permukaan laut.

Bagi sektor sipil, mesin ini digunakan untuk memitigasi risiko gempa bumi. Tiongkok sering dilanda bencana seismik yang menghancurkan infrastruktur kota. Dengan simulasi hipergravitasi, para peneliti dapat merancang struktur bangunan yang lebih tahan terhadap guncangan dengan akurasi yang belum pernah dicapai oleh perangkat lunak komputer manapun sebelumnya.

Baca juga: Revolusi Energi! Matahari Buatan China Tembus Batas Mustahil di Awal Januari 2026

Ungguli Amerika Serikat dalam Perlombaan Teknologi Ekstrem


Foto: NewsBytes

Kehadiran CHIEF1900 menandai kekalahan telak fasilitas serupa milik Amerika Serikat. Sebelumnya, rekor fasilitas hipergravitasi terkuat dipegang oleh US Army Corps of Engineers di Vicksburg, Mississippi, dengan kapasitas sekitar 1.200 g-ton. Tiongkok tidak hanya melampaui rekor tersebut dengan selisih yang signifikan, tetapi juga membangun ekosistem riset yang lebih terintegrasi dengan enam kabin eksperimen yang mencakup pemrosesan material hingga geologi planet.

Investasi sebesar 2 miliar yuan (sekitar Rp4,78 triliun) yang digelontorkan sejak tahun 2021 kini mulai membuahkan hasil. Dunia melihat Tiongkok bukan lagi sebagai pengikut teknologi, melainkan penentu standar baru. CHIEF1900 adalah bukti nyata dari strategi "Sains Besar" (Big Science) yang dijalankan oleh Beijing, di mana fasilitas fisik raksasa menjadi kunci untuk menemukan teori-teori fisika baru yang tidak mungkin ditemukan di laboratorium konvensional.

Masa Depan: Eksplorasi Luar Angkasa dan Material Baru

Di luar aplikasi bumi, CHIEF1900 juga dipersiapkan untuk mendukung misi luar angkasa Tiongkok menuju Bulan dan Mars. Gravitasi ekstrem yang dihasilkan mesin ini dapat mensimulasikan kondisi peluncuran roket yang sangat berat atau kondisi gravitasi tinggi pada planet-planet tertentu. Ini membantu ilmuwan dalam mempelajari bagaimana sel-sel biologi manusia atau struktur material kristal tumbuh dan bereaksi dalam lingkungan non-bumi.

Para ilmuwan material berharap dapat menciptakan paduan logam baru yang lebih ringan dan kuat melalui proses pemadatan di bawah tekanan hipergravitasi. Dengan kemampuan memampatkan waktu dan ruang, CHIEF1900 bukan sekadar mesin; ia adalah jendela menuju kemungkinan-kemungkinan baru yang akan mendefinisikan peradaban manusia di pertengahan abad ke-21.

Baca juga: China Raup US$65 Miliar dari Ekspor Baterai dan Dominasi Rantai Pasok Energi Dunia

Kesimpulan: Era Baru Dominasi Teknologi Tiongkok

Pengaktifan CHIEF1900 di awal Januari 2026 ini mengirimkan pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Tiongkok telah menguasai salah satu alat paling krusial untuk menghadapi tantangan masa depan. Dari perubahan iklim, mitigasi bencana, hingga eksploitasi energi ekstrem, "mesin masa depan" ini memberikan Tiongkok keunggulan strategis yang sulit dikejar. Bagi dunia sains, ini adalah awal dari era di mana batasan antara simulasi dan realitas semakin tipis, berkat kemampuan manusia untuk "memutar" gravitasi sesuai keinginan mereka.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

Share :