Revolusi Energi! Matahari Buatan China Tembus Batas Mustahil di Awal Januari 2026

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 06, 2026


Foto: Nucleus_AI

Teknologi.id – Proyek ambisius reaktor fusi nuklir China, yang sering dijuluki sebagai "Matahari Buatan," baru saja mencatatkan sejarah baru dalam dunia sains global. Laporan terbaru dari Kompas Tekno mengonfirmasi bahwa reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) telah berhasil menembus batas kepadatan plasma yang selama puluhan tahun dianggap sebagai batasan fisik yang mustahil untuk dilampaui secara stabil.

Keberhasilan ini bukan sekadar pemecahan rekor durasi, melainkan pembuktian bahwa teori fisika plasma yang selama ini menjadi penghalang utama komersialisasi energi fusi dapat ditaklukkan. Dengan pencapaian di awal 2026 ini, China semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin dalam perlombaan global menuju energi masa depan yang aman, murah, dan bebas karbon.

Menembus Batas Greenwald: Mengapa Ini Sangat Penting?

Dalam fisika reaktor tokamak, terdapat sebuah panduan aman yang dikenal sebagai Batas Greenwald. Batas ini menetapkan tingkat kepadatan maksimum gas superpanas (plasma) yang dapat dikurung oleh medan magnet sebelum plasma tersebut menjadi tidak stabil dan berisiko merusak komponen reaktor. Selama berdekade-dekade, melampaui batas ini dianggap mustahil tanpa mematikan reaksi fusi secara mendadak.

Namun, tim peneliti EAST melaporkan bahwa mereka berhasil menjalankan plasma dengan tingkat kepadatan mencapai 1,3 hingga 1,65 kali di atas Batas Greenwald secara stabil. Mengapa kepadatan plasma sangat krusial? Hal ini dikarenakan jumlah energi yang dihasilkan dari reaksi fusi meningkat secara kuadratik terhadap kepadatan plasma. Dengan kata lain, sedikit saja kenaikan kepadatan dapat menghasilkan lonjakan produksi energi yang sangat besar tanpa harus memperbesar ukuran fisik reaktor tersebut.

Baca juga: Siap-siap! Fenomena 3 Gerhana Matahari Langka Bakal Hiasi Langit Mulai 2026

Rahasia di Balik Kesuksesan: Teknik Pemanasan dan Kontrol Dinding

Pencapaian luar biasa ini tidak terjadi secara kebetulan. Peneliti di EAST menggunakan pendekatan teknis baru yang melibatkan pengaturan pemanasan awal plasma dan kontrol jumlah gas yang sangat presisi sejak detik pertama reaksi dimulai. Strategi ini memungkinkan bagian tepi plasma—yang biasanya paling rentan terhadap gangguan—tetap stabil dan panas.

Selain itu, para ilmuwan fokus pada interaksi antara plasma dan dinding reaktor. Mereka menemukan bahwa dengan mengelola permukaan dinding secara khusus, plasma dapat "beradaptasi" meski berada dalam kepadatan yang sangat tinggi. Kondisi keseimbangan baru ini memungkinkan reaktor beroperasi jauh di luar batas teori konvensional tanpa memicu kerusakan sistem.


Foto: Southwestern Institute of Physics CNN

Jalan Terjal Menuju Pembangkit Listrik Komersial

Meskipun pencapaian ini disebut sebagai "tembus batas mustahil," para ahli dari Institute of Plasma Physics (ASIPP) di China mengingatkan bahwa perjalanan menuju lampu rumah yang menyala dari energi fusi masih memerlukan waktu. Fokus selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan kondisi kepadatan ekstrem ini dalam durasi yang jauh lebih lama—dari hitungan menit menjadi hitungan jam dan hari.

Eksperimen di EAST ini juga memberikan data yang sangat berharga bagi proyek ITER (reaktor fusi internasional di Perancis), di mana China juga merupakan salah satu mitra utamanya. Keberhasilan menembus batas kepadatan ini memberikan optimisme bahwa desain reaktor masa depan bisa dibuat lebih efisien dan ringkas namun tetap menghasilkan daya yang sangat besar.

Baca juga: NASA Ungkap Asteroid 16 Psyche, Harta Karun Logam yang Bisa Bikin Bumi Kaya Raya

Kesimpulan: Harapan untuk Planet yang Lebih Hijau

Di tengah krisis iklim global, terobosan "Matahari Buatan" China ini menawarkan secercah harapan. Energi fusi adalah impian para ilmuwan karena ia meniru proses yang terjadi di pusat Matahari: menggabungkan inti atom untuk melepaskan energi raksasa tanpa menghasilkan limbah radioaktif jangka panjang atau emisi gas rumah kaca.

Dengan tembusnya batas "mustahil" di awal Januari 2026 ini, impian untuk memiliki sumber energi yang mampu memasok kebutuhan seluruh planet secara berkelanjutan terasa selangkah lebih dekat. Matahari buatan ini tidak lagi hanya menjadi eksperimen laboratorium, melainkan bukti nyata bahwa keterbatasan teknologi manusia dapat terus didorong hingga mencapai batas fungsional yang baru.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar