
Foto: idntimes.com
Teknologi.id – Dunia sains pernah diguncang oleh pengumuman yang luar biasa tepat satu hari setelah Natal, 26 Desember 2002. Brigitte Boisselier, Direktur Ilmiah perusahaan bioteknologi Clonaid, mengklaim bahwa bayi bernama "Eve" telah lahir sebagai manusia hasil kloning pertama di dunia. Kabar ini seketika memicu gelombang kontroversi global, antara kekaguman atas pencapaian teknologi dan kecaman moral yang tajam.
Eve disebut sebagai hasil dari kloning sel kulit ibunya yang dipicu oleh impuls listrik. Teknik ini diklaim sebagai adaptasi dari metode yang melahirkan domba Dolly pada tahun 1997. Namun, berbeda dengan Dolly yang memiliki bukti genetik yang jelas, sosok Eve tetap menjadi misteri besar yang tak pernah terpecahkan hingga lebih dari dua dekade kemudian.
Jejak Kultus di Balik Laboratorium

Foto: wrldrels.org
Keraguan publik semakin menguat ketika mengetahui siapa di balik Clonaid. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1997 oleh Raël, pemimpin sebuah sekte apokaliptik bernama International Raëlian Movement.
Raël, mantan bintang pop dan jurnalis otomotif asal Prancis, mengklaim bahwa manusia diciptakan oleh makhluk luar angkasa melalui rekayasa genetika.
Boisselier sendiri secara terbuka mengakui Raël sebagai pemimpin spiritualnya. Hal ini membuat banyak ilmuwan curiga bahwa pengumuman kelahiran Eve hanyalah strategi pemasaran untuk sekte tersebut guna menarik anggota dan pendanaan.
Terlebih lagi, Clonaid mengklaim ada empat bayi kloning lainnya yang lahir di berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Eropa, namun tak satu pun dari mereka pernah muncul ke permukaan.
Baca juga: MIT Temukan Cara Awet Muda dengan Terapi Sel Imun Berbasis mRNA
Skeptisisme Ilmuwan: "Benar-Benar Tidak Masuk Akal"
Dunia akademis merespons klaim ini dengan sinis. Rudolf Jaenisch, ahli biologi MIT dan pionir ilmu transgenik, menyebut klaim tersebut sebagai bualan yang gila. Salah satu alasan utamanya adalah tingkat keberhasilan yang tidak masuk akal.
- Angka Keberhasilan: Harry Griffin dari Roslin Institute (tim pembuat domba Dolly) menyoroti bahwa Clonaid mengklaim tingkat implantasi 100%. Padahal, teknologi IVF paling maju saat itu hanya mencapai 20%.
- Risiko Kloning: Proses kloning pada mamalia sangatlah rumit. Domba Dolly saja membutuhkan 227 percobaan sebelum akhirnya berhasil. Itu pun ia menderita arthritis di usia muda.
- Absennya Bukti: Clonaid berulang kali berjanji akan memberikan bukti DNA melalui pakar independen, namun janji tersebut tidak pernah ditepati.
Hingga saat ini, tidak ada satu pun jurnal ilmiah yang memverifikasi keberadaan Eve. Bayi yang seharusnya kini sudah beranjak dewasa tersebut tidak pernah terlihat, meninggalkan situs web Clonaid sebagai satu-satunya "jejak" yang masih menawarkan jasa kloning manusia dengan harga selangit.
Sisi Gelap dan Harapan Rekayasa Genetika
Meskipun kisah Eve dicurigai sebagai hoaks, diskursus yang dipicu tetap memberikan dampak besar bagi dunia medis. Teknik kloning secara teoretis menawarkan harapan bagi masa depan pengobatan, seperti penggunaan sel punca untuk regenerasi jaringan saraf atau pemahaman lebih dalam tentang sel kanker.
Namun, para ilmuwan memperingatkan adanya risiko mengerikan pada kloning manusia, mulai dari malformasi (cacat fisik), penuaan dini pada level kromosom, hingga risiko kanker unik seperti choriocarcinoma pada ibu yang mengandung janin kloning.
Karena alasan etika dan keselamatan inilah, banyak negara, termasuk Amerika Serikat di era Bill Clinton, mengeluarkan moratorium ketat terhadap riset kloning manusia.
Baca juga: MIT Ciptakan Ultrasound Otak Non-Invasif, Membuka Misteri Kesadaran Manusia
Sebuah Misteri yang Menjadi Legenda Urban
Kisah bayi Eve tetap berdiri di garis abu-abu antara terobosan sains dan rekayasa media. Tanpa bukti genetika yang nyata, dunia sains cenderung menggolongkan kisah ini sebagai salah satu hoaks terbesar dalam sejarah teknologi modern. Eve mungkin tidak pernah benar-benar ada di dunia nyata, namun namanya akan selalu diingat sebagai pengingat tentang betapa tipisnya batas antara ambisi ilmiah dan fanatisme sebuah kepercayaan.
Kini, setelah lebih dari 20 tahun, pertanyaan "Di mana Eve?" mungkin tidak lagi relevan bagi sains arus utama. Fokus dunia telah beralih pada pengeditan genetik yang lebih aman. Namun, misteri ini tetap menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa dalam sains, klaim luar biasa selalu membutuhkan bukti yang luar biasa pula demi menjaga integritas ilmu pengetahuan.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(AA/ZA)