AS Temukan Fakta Baru, Sebut COVID-19 Berasal dari Lab Wuhan

Stefanie Tanaki . January 19, 2021

Foto: Wall Street Journal

Teknologi.id - Sudah setahun lamanya pandemi COVID-19 mewabah di seluruh dunia. Sampai saat ini, asal usul virus tersebut pun masih menjadi misteri. Namun, baru-baru ini Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan laporan dengan judul "Fact Sheet: Activity at The Wuhan Institute of Virology" yang berisikan tudingan asal mula COVID-19 dan perjalanan penelitiannya.

Pemerintah Amerika Serikat merilis laporan tersebut karena mereka percaya bahwa virus Corona pertama kali berasal dari Lab Wuhan. Hal ini didukung dengan fakta bahwa sejumlah peneliti di Wuhan Institute of Virology (WIV) sakit sesaat sebelum virus corona merebak di kota tersebut. 

"Virus tersebut dapat muncul alami dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi, kemudian menyebar sesuai dengan pola epidemi alami. Alternatifnya, kecelakaan laboratorium dapat menyerupai wabah alami jika paparan awal hanya melibatkan beberapa orang dan diperparah dengan infeksi tanpa gejala." tulis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dikutip pada Selasa (19/01/2021). 

Menurut laporan tersebut, setidaknya ada 3 poin utama tentang asal usul COVID-19 yang membutuhkan pengawasan lebih lanjut. Berikut penjelasan dari 3 poin utama tersebut.

1. Penyakit Didalam Wuhan Institute of Virology (WIV)

Foto: BBC.com

Pada musim gugur 2019, sebelum kasus wabah pertama diidentifikasi, sejumlah peneliti di Wuhan Institute of Virology (WIV) diketahui jatuh sakit. Peneliti yang jatuh sakit tersebut memiliki gejala yang sama dengan COVID-19 dan penyakit musiman pada umumnya.

Hal ini menimbulkan pertanyaan akan kredibilitas peneliti senior WIV, Shi Zhengli yang menyatakan bahwa tidak ada infeksi di antara staf WIV dan siswa SARS-COV-2 atau SARS terkait virus. Infeksi yang tidak disengaja di laboratorium sebelumnya telah menyebabkan virus merebak di China dan di tempat lain termasuk wabah SARS di Beijing pada tahun 2004.

Selain itu, Partai Komunis China (CCP) juga disebut menghalangi jurnalis independen, penyelidik dan otoritas kesehatan global untuk mewawancarai peneliti di WIV termasuk mereka yang sakit pada musim gugur 2019. 

Baca juga: 16 Kriteria Orang yang Tak Boleh Divaksin Corona

2. Penelitian di Wuhan Institute of Virology (WIV)

Foto: Voice of America

Penelitian pengembangan COVID-19 ternyata sudah dilakukan sejak 2016. Peneliti WIV melakukan eksperimen RaTG13 atau virus Corona kelelawar yang diidentifikasi pada Januari 2020 lalu.

WIV juga menjadi titik fokus untuk penelitian virus Corona internasional setelah wabah SARS 2003 dan sejak saat itu telah mempelajari hewan termasuk tikus, kelelawar dan trenggiling. WIV dianggap tidak transparan soal penelitian virus mirip COVID-19 ini. Temasuk sampel RaTG13 yang telah diambil dari sebuah gua di Provinsi Yunan tiga tahun sebelum penelitian dimulai.

Menurut pemerintah Amerika Serikat, penyelidik WHO harus memiliki akses ke laporan penelitian WIV terkait penelitian kelelawar dan virus Corona lainnya sebelum COVID-19 mewabah. Penyelidik WHO juga harus melakukan perhitungan mengapa WIV menghapus catatan online terkait penelitian RaTG13 dan virus lainnya. 

Baca juga: Fuse, Karakter Baru di Apex Legends

3. Aktivitas Militer Rahasia di Wuhan Institute of Virology (WIV)

Foto: Financial Times

Terakhir, kerjasama militer rahasia antara WIV dengan militer China. Menurut pemerintah Amerika Serikat, Wuhan Institute of Virology berkedok sebagai lembaga sipil padahal mereka bekerja sama dengan militer China.

Pemerintah Amerika Serikat mengklaim bahwa WIV melakukan penelitian hewan atas nama militer sejak tahun 2017. Amerika Serikat yang menggelontorkan dana untuk laboratorium menyatakan harus mengetahui aktivitas WIV di luar sebagai lembaga sipil. 

China Membantah Bahwa Virus Corona Berasal dari Lab Wuhan

China melalui juru bicara Menteri, Hua Chunying membantah laporan tersebut dan mengatakan bahwa Amerika Serikat hanya menyebarkan kebohongan dan teori konspirasi. Dia juga menyebutkan bahwa China sangat kooperatif dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

(st)

Share :