Studi Ungkap Manusia Kini Semakin Jarang Berbicara karena Pengaruh Gadget

Irmanon Riandina . May 11, 2026


Foto: Magnific/Freepik

Teknologi.id - Perkembangan teknologi gadget memang membuat hidup semakin praktis. Banyak aktivitas kini bisa dilakukan hanya lewat sentuhan jari, mulai dari memesan makanan, berbelanja, hingga berbicara dengan orang lain melalui aplikasi pesan instan. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul dampak lain yang mulai menjadi perhatian para peneliti: manusia kini semakin jarang berbicara secara langsung.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa jumlah kata yang diucapkan manusia dalam interaksi sehari-hari mengalami penurunan cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini disebut berkaitan erat dengan meningkatnya penggunaan gadget dan perubahan gaya hidup serba online.

Baca juga: Anak Sering Main Medsos? Studi Ungkap Risiko Gangguan Membaca

Jumlah Kata yang Diucapkan Turun Drastis

Penelitian dilakukan oleh tim peneliti dari University of Missouri-Kansas City dan University of Arizona. Mereka membandingkan pola komunikasi manusia dari tahun 2005 hingga 2019. Dalam riset tersebut, para peneliti menganalisis data dari 22 studi berbeda yang melibatkan lebih dari 2.000 peserta. Seluruh peserta merekam audio aktivitas sehari-hari mereka untuk melihat seberapa banyak percakapan yang dilakukan secara langsung.

Hasilnya cukup mengejutkan. Pada tahun 2005, rata-rata seseorang masih mengucapkan sekitar 16.632 kata setiap hari. Namun angka itu terus menurun seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki tahun 2019, jumlah rata-rata kata yang diucapkan manusia turun menjadi sekitar 11.900 kata per hari. Penurunan ini mencapai hampir 28 persen hanya dalam kurun waktu lebih dari satu dekade. Para peneliti menilai perubahan gaya hidup modern menjadi salah satu penyebab utama. Kini banyak orang lebih memilih mengirim pesan teks dibanding menelepon atau berbicara langsung. Bahkan aktivitas sederhana seperti memesan makanan atau membayar tagihan kini tidak lagi membutuhkan percakapan dengan orang lain.

Generasi Muda Jadi Kelompok yang Paling Terpengaruh

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa anak muda menjadi kelompok yang paling terdampak oleh tren menurunnya interaksi verbal ini. Kelompok usia di bawah 25 tahun tercatat mengalami penurunan rata-rata sekitar 451 kata per hari setiap tahunnya. Sementara kelompok usia di atas 25 tahun mengalami penurunan sekitar 314 kata per hari. Secara keseluruhan, rata-rata manusia kehilangan sekitar 338 kata per hari setiap tahunnya. Jika pola ini terus berlangsung, para peneliti memperkirakan jumlah kata yang diucapkan manusia saat ini mungkin sudah berada di bawah 10.000 kata per hari.

Fenomena ini dinilai tidak lepas dari kebiasaan generasi muda yang sangat dekat dengan smartphone dan media sosial. Banyak komunikasi kini berlangsung lewat chat singkat, emoji, hingga video pendek yang tidak membutuhkan percakapan panjang secara langsung.

Dampak Psikologis Mulai Dikhawatirkan

Menurunnya intensitas percakapan langsung ternyata tidak hanya berdampak pada cara manusia berkomunikasi, tetapi juga kesehatan mental dan sosial. The Wall Street Journal menyoroti kekhawatiran bahwa berkurangnya interaksi tatap muka dapat meningkatkan rasa kesepian di masyarakat modern. Selain itu, minimnya komunikasi langsung juga dianggap membuat sebagian orang lebih mudah terjebak dalam informasi palsu atau teori konspirasi di internet.

Peneliti juga menyebut manusia perlahan mulai kehilangan keterampilan percakapan dasar. Misalnya kemampuan mendengarkan lawan bicara, menjaga etika dalam berdiskusi, hingga memahami ekspresi dan emosi orang lain saat berbicara secara langsung. Jika kondisi ini terus terjadi dalam jangka panjang, hubungan sosial antarmanusia dikhawatirkan menjadi semakin renggang meskipun teknologi komunikasi semakin maju.

Baca juga: Studi: AI Ternyata “Penjilat”, Sering Setuju Meski Kamu Salah

Kebiasaan Sederhana Bisa Jadi Solusi

Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menilai kondisi ini masih bisa diperbaiki melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Profesor linguistik Valerie Fridland menyarankan masyarakat untuk mulai kembali membiasakan komunikasi verbal secara langsung. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan misalnya lebih sering mengobrol dengan keluarga di rumah, menelepon kerabat dibanding hanya mengirim pesan singkat, atau mengurangi penggunaan smartphone untuk sementara waktu di tengah aktivitas harian.

Orang tua juga dianjurkan lebih sering mengajak anak-anak berbicara sejak dini agar kemampuan komunikasi mereka berkembang dengan baik. Di tengah dunia yang semakin digital, kemampuan berbicara dan berinteraksi secara langsung ternyata tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Teknologi memang mempermudah komunikasi, tetapi percakapan nyata tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar gadget.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(ir/sa)


Share :