
Foto: Freepik
Teknologi.id – Penggunaan media sosial pada anak usia dini kembali menjadi sorotan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Adolescence mengungkap adanya keterkaitan antara intensitas penggunaan media sosial dengan kemampuan membaca pada anak di bawah usia 16 tahun.
Penelitian tersebut menemukan bahwa anak-anak yang secara rutin menghabiskan waktu di media sosial cenderung mengalami kesulitan dalam mengenali serta mengucapkan kata secara utuh. Temuan ini menjadi perhatian, mengingat kemampuan membaca merupakan fondasi penting dalam perkembangan kognitif.
Dampak pada Kemampuan Verbal dan Waktu Membaca
Studi yang melibatkan lebih dari 10.000 anak berusia 10 tahun dan dilakukan selama enam tahun ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berpotensi menggeser waktu anak dari aktivitas penting lainnya.
Anak-anak yang lebih sering terpapar media sosial dilaporkan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk membaca buku maupun berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sosialnya. Kondisi ini kemudian dikaitkan dengan penurunan kemampuan verbal serta pemahaman bahasa secara umum.
Selain itu, paparan bahasa alternatif seperti singkatan atau gaya komunikasi tidak baku yang umum digunakan di media sosial juga dinilai turut memengaruhi cara anak memahami dan menggunakan bahasa.
Tidak Sepenuhnya Negatif

Foto: Troomi
Meski demikian, penelitian ini tidak serta-merta menyimpulkan bahwa media sosial hanya membawa dampak buruk. Anak-anak yang aktif menggunakan media sosial juga ditemukan memiliki kemampuan pengolahan informasi yang lebih baik.
Di sisi lain, akses terhadap berbagai sumber informasi yang luas menjadi salah satu keuntungan yang diperoleh dari penggunaan platform digital tersebut.
Baca juga: Pemerintah RI Batasi Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Ini Respons YouTube
Perlu Keseimbangan dalam Akses Informasi
Sebagai langkah untuk meminimalkan dampak negatif, para peneliti menekankan pentingnya keseimbangan dalam konsumsi informasi anak. Media sosial sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber bacaan.
Anak didorong untuk tetap mengakses bahan bacaan lain di luar platform digital, seperti buku atau sumber edukatif lainnya. Pendekatan ini dinilai dapat membantu menjaga kemampuan bahasa sekaligus mengurangi dampak dari paparan gaya komunikasi yang tidak baku.
Baca juga: Patuhi PP Tunas, Roblox Batasi Akses Anak dengan Mode Offline di Indonesia
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Dalam konteks ini, peran orang tua dan lingkungan menjadi krusial dalam mengarahkan pola konsumsi media anak. Pengawasan serta dorongan untuk membaca secara aktif dinilai menjadi kunci dalam menjaga perkembangan kemampuan literasi.
Studi ini sekaligus menegaskan bahwa penggunaan teknologi pada anak memerlukan pengelolaan yang tepat. Tanpa keseimbangan, manfaat yang ditawarkan dapat berubah menjadi tantangan bagi perkembangan kemampuan dasar seperti membaca.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar