Jam Kiamat Disetel Ulang, Apa Efeknya Bagi Bumi?

Fabian Pratama Kusumah . January 21, 2022

Foto: CNN

Teknologi.id – Pada 1947 atau 75 tahun yang lalu, sebuah jam diciptakan bernama Jam Kiamat atau Doomsday Clock.

Hingga saat ini, jam itu menjadi pengukur aktivitas masyarakat dunia selama bertahun-tahun.

Jam itu didesain seorang artis asal Amerika Serikat (AS), Martyl Langsdorf. Saat itu perang dingin sedang berlangsung dan para ilmuwan ingin memperingatkan orang AS soal bahaya konfrontasi nuklir dari Uni Soviet.

Meski pada awalnya mengukur ancaman nuklir, namun pada 2007 berkembang dengan memasukkan perubahan iklim jadi salah satu perhitungan Jam Kiamat.

Waktu pada Jam Kiamat ditetapkan oleh para ahli di Dewan Sains dan Keamanan Buletin tiap tahunnya. Mereka akan berkonsultasi dengan Dewan Sponsor mencakup 11 peraih Nobel.

Tujuan Jam Kiamat

Rachel Bronson, Presiden dan CEO Buletin Atomic Scientists menyebut tak berharap jam mencapai tengah malam. Sebab berarti ada hal yang bisa memusnahkan umat manusia.

"Itu berarti ada semacam pertukaran nuklir atau bencana perubahan iklim yang memusnahkan umat manusia. Jadi kami tidak pernah benar-benar ingin sampai di sana dan kami tidak akan tahu kapan kami melakukannya," kata Bronson dikutip dari CNBC Indonesia.

Perubahan Jam

Baca juga: Ilmuwan Prediksi Kiamat Bisa Terjadi 10 Tahun Lagi, ini Sebabnya

Selama bertahun-tahun jam kiamat kerap bergerak maju ataupun mundur. Ini bergantung pada aktivitas yang terjadi di dunia saat itu.

Untuk tiga tahun berturut-turut, Doomsday Clock atau Jam Kiamat masih menunjukkan waktu yang sama.

Panel ahli dalam Buletin Ilmuwan Atom memutuskan jam itu terhenti di angka 100 detik sebelum tengah malam pada 2022.

Jam kiamat disetel ulang pada kemarin malam pukul 22.00 WIB. Tahun 2020 menjadi tahun dengan jarum jam paling dekat ke tengah malam, dengan hanya berjarak 100 detik.

(fpk)

Share :