Merek HP China Tertinggal, Apple dan Samsung Makin Dominan di Pasar Global

⁠Adimas Herviana . January 22, 2026


Foto: Marketeers

Teknologi.id - Ketertinggalan Merek HP China di Tengah Dominasi Apple dan Samsung. Industri smartphone global pada 2025 memperlihatkan pergeseran besar. Merek-merek asal Tiongkok seperti Oppo, Xiaomi, dan Vivo mulai tertinggal dari dua kontender utama, Apple dan Samsung, yang justru mencatatkan pertumbuhan positif. Ketertinggalan ini terlihat dari stagnasi pangsa pasar Xiaomi, pertumbuhan tipis Vivo, serta penurunan distribusi Oppo yang mencapai minus 4 persen. Sementara itu, Apple berhasil mencatatkan lonjakan pengiriman hingga 10 persen dengan pangsa pasar 20 persen, dan Samsung mempertahankan posisi kedua dengan pangsa 19 persen serta pertumbuhan 5 persen. 

Apple Melompat ke Puncak Pasar Premium

Apple berhasil merebut posisi teratas berkat peluncuran iPhone 17 yang membawa inovasi lebih kuat dibandingkan seri sebelumnya. Portofolio produk yang lebih beragam serta ekspansi ke negara berkembang menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan permintaan. Keberhasilan ini sekaligus memperlihatkan bahwa strategi Apple dalam menghadirkan perangkat premium tetap relevan di tengah persaingan global. 

Baca Juga: iPhone 18 Disiapkan Lebih Matang, Apa Saja Perubahannya?

Samsung Bertahan dengan Inovasi Lipat dan Multi-Segmen 

Samsung menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 19 persen. Pertumbuhan 5 persen dicapai melalui diversifikasi produk, mulai dari seri premium Galaxy S hingga lini lipat Galaxy Z. Strategi ini membuat Samsung tetap kompetitif dan mampu menjaga basis konsumen di berbagai segmen pasar. Keberhasilan mempertahankan momentum menunjukkan bahwa inovasi perangkat lipat menjadi salah satu kunci daya saing Samsung di pasar global. 

Xiaomi Stagnan di Tengah Tekanan Pasar

Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 13 persen, turun dari 14 persen pada tahun sebelumnya. Strategi harga kompetitif yang selama ini menjadi kekuatan utama mulai kehilangan daya tarik karena konsumen global semakin beralih ke perangkat premium dengan fitur lebih canggih. Stagnasi ini memperlihatkan bahwa Xiaomi perlu memperkuat inovasi agar tidak semakin tertinggal. 

Vivo Bertahan Tanpa Perluasan Signifikan

Vivo mencatat pertumbuhan tipis 3 persen dengan pangsa pasar tetap 8 persen. Angka ini sama dengan capaian tahun sebelumnya, menandakan bahwa perusahaan masih berjuang untuk memperluas pengaruhnya di luar pasar domestik. Konsistensi ini memang menjaga posisi Vivo, tetapi tanpa ekspansi signifikan, sulit bagi perusahaan untuk menyaingi Apple dan Samsung. 

Oppo Mengalami Penurunan Tajam

Oppo mencatatkan kinerja paling buruk dengan pertumbuhan minus 4 persen secara tahunan. Penurunan distribusi ini terjadi ketika merek lain masih mencatatkan pertumbuhan positif. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Oppo menghadapi kesulitan mempertahankan daya saing, terutama di pasar internasional yang semakin kompetitif.

Pasar Global Mulai Stabil dengan Dorongan 5G

Secara keseluruhan, pasar smartphone global tumbuh 2 persen pada 2025. Pertumbuhan ini menandai stabilisasi setelah periode panjang yang tertekan akibat pandemi. Faktor pendorong utama adalah strategi pemasaran yang lebih efektif, adopsi teknologi 5G di negara berkembang, serta opsi pembiayaan yang memudahkan konsumen membeli perangkat premium. Tren ini memperlihatkan pergeseran konsumen menuju perangkat kelas atas dengan fitur lebih canggih. 

Tantangan Geopolitik dan Adaptasi Industri

Produsen smartphone sempat menghadapi tekanan akibat kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump pada awal 2025. Meski sempat menekan distribusi, dampaknya mereda seiring dengan strategi pabrikan yang menyesuaikan rantai pasok dan dinamika geopolitik yang lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa industri smartphone memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap perubahan kebijakan global. 

Pertumbuhan Tidak Merata di Kawasan Dunia

Pertumbuhan smartphone global tidak terjadi secara merata. Negara-negara seperti Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan sejumlah kawasan Asia mencatatkan peningkatan signifikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar berkembang menjadi motor utama pertumbuhan industri, sementara pasar matang seperti Amerika Serikat dan Eropa cenderung lebih stabil. 

Baca Juga: Produk Xiaomi Akan Naik Harga? Kenapa Bisa?

Persaingan Smartphone 2026 Pertarungan Inovasi Bukan Sekadar Harga

Industri smartphone memasuki fase krusial. Apple dan Samsung memperlihatkan bahwa keberhasilan ditentukan oleh inovasi berkelanjutan, mulai dari perangkat premium hingga teknologi lipat. Sementara itu, merek asal Tiongkok seperti Xiaomi, Vivo, dan Oppo menghadapi stagnasi dan penurunan karena masih bergantung pada strategi harga.

Memasuki 2026, konsumen semakin menuntut fitur canggih, integrasi kecerdasan buatan, serta ekosistem digital yang mendukung produktivitas. Persaingan tidak lagi sekadar soal harga, melainkan kemampuan menghadirkan teknologi relevan yang memberi nilai lebih. Produsen yang gagal beradaptasi akan semakin tertinggal, sementara mereka yang berani berinovasi memiliki peluang menantang dominasi dua raksasa industri.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(dim/sa)


Share :