Beyond Digital Banking: Toto Prasetio dan Transformasi Teknologi BNI

Okta Ramji Saputra . November 02, 2026


Transformasi digital perbankan Indonesia telah bergerak jauh melampaui sekadar memindahkan transaksi dari kantor cabang ke aplikasi. Ketika jutaan nasabah semakin bergantung pada layanan digital untuk bertransaksi, tantangan bank pun ikut berubah.

Kemudahan penggunaan tetap menjadi perhatian, tetapi di baliknya terdapat kebutuhan yang tidak kalah penting, mulai dari kemampuan sistem menangani pertumbuhan transaksi, integrasi layanan, keamanan, hingga keandalan infrastruktur.

Di tengah perubahan tersebut, peran pemimpin teknologi menjadi semakin strategis. Salah satu figur yang menarik untuk diperhatikan adalah Toto Prasetio, Direktur Information Technology PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

Pengalaman Panjang di Teknologi Perbankan

Perjalanan Toto Prasetio di bidang teknologi perbankan tidak dimulai di BNI.

Sebelum bergabung dengan BNI, Toto pernah menjabat sebagai Group Head IT Application Support Bank Mandiri pada 2017-2019 dan Senior Executive Vice President Teknologi Informasi Bank Mandiri pada 2019-2022.

Pada 2022, ia bergabung dengan BNI sebagai Direktur Technology & Operations. Saat ini, Toto menjabat sebagai Direktur Information Technology BNI.

Perjalanan tersebut memperlihatkan pengalamannya dalam pengelolaan teknologi pada dua bank besar di Indonesia. Namun, tantangan yang dihadapi pemimpin teknologi perbankan saat ini telah berkembang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Digital banking kini bukan lagi sekadar kanal alternatif. Bagi banyak nasabah, layanan digital telah menjadi salah satu titik utama interaksi mereka dengan bank.

Ketika Skala Digital BNI Terus Membesar

Perubahan tersebut dapat dilihat dari perkembangan dua ekosistem digital utama BNI, yakni wondr by BNI untuk segmen ritel dan BNIdirect untuk segmen bisnis dan korporasi.

Hingga September 2026, BNI mencatat jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58 persen secara tahunan. Nilai transaksinya mencapai Rp1.774 triliun, meningkat 25 persen secara tahunan.

Pada segmen bisnis dan korporasi, BNIdirect mencatat nilai transaksi sekitar Rp9.324 triliun hingga kuartal III 2026. Jumlah penggunanya mencapai sekitar 293 ribu, tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Skala tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan teknologi perbankan modern. Ketika sebuah platform digunakan jutaan pengguna dan menangani transaksi bernilai triliunan rupiah, pengembangan teknologi tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan fitur baru.

Keandalan sistem, skalabilitas, keamanan, dan konsistensi pengalaman pengguna juga menjadi aspek penting dalam menjaga layanan digital.

Dalam konteks tersebut, teknologi tidak lagi hanya menjadi fungsi pendukung bisnis. Teknologi semakin melekat pada bagaimana layanan perbankan diberikan kepada nasabah.

Dari Nasabah Ritel hingga Pelaku UMKM

Transformasi digital BNI juga menjangkau kebutuhan pelaku usaha.

Pada Agustus 2025, BNI meluncurkan BNIdirect bisnis, platform digital yang dirancang untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengelola kebutuhan finansial bisnis.

Saat peluncurannya, Toto Prasetio menjelaskan bahwa BNIdirect bisnis dikembangkan untuk membuat pengelolaan keuangan pelaku UMKM menjadi lebih sederhana, cepat, efisien, dan terintegrasi.

Hal tersebut menunjukkan salah satu tantangan penting dalam pengembangan layanan digital perbankan. Nasabah ritel, pemilik UMKM, hingga perusahaan besar memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.

Karena itu, pengembangan teknologi bukan hanya persoalan menambah kompleksitas sistem, tetapi juga bagaimana kompleksitas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih sederhana bagi pengguna.

Tantangan Teknologi di Balik Layanan Digital

Bagi pengguna, sebuah transaksi digital mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik. Pengguna membuka aplikasi, memilih layanan, melakukan konfirmasi, lalu transaksi selesai.

Namun, pengalaman sederhana tersebut bergantung pada sistem teknologi yang jauh lebih kompleks di belakangnya.

Pada September 2026, BNI mengumumkan optimalisasi sistem dan infrastruktur wondr by BNI sebagai bagian dari upaya peningkatan performa layanan.

Hal ini menunjukkan bahwa peluncuran produk digital bukanlah akhir dari proses pengembangan teknologi.

Setelah sebuah layanan digunakan dalam skala besar, tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tetap dapat berkembang, dipelihara, dan memberikan pengalaman yang konsisten seiring meningkatnya jumlah pengguna dan aktivitas transaksi.

Dengan kata lain, inovasi dapat menarik pengguna untuk mencoba sebuah layanan, tetapi keandalan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan mereka.

Peran Pemimpin Teknologi Ikut Berkembang

Perkembangan digital juga membuat ruang lingkup kepemimpinan teknologi semakin luas.

Dalam industri perbankan, teknologi tidak hanya berkaitan dengan aplikasi atau infrastruktur. Keputusan teknologi juga bersinggungan dengan pengalaman nasabah, keamanan, efisiensi operasional, pengembangan produk, hingga pertumbuhan bisnis.

BNI sendiri terus memperluas ekosistem digitalnya melalui berbagai layanan untuk segmen individu maupun bisnis, termasuk wondr by BNI, BNIdirect, dan layanan digital lainnya.

Posisi tersebut membuat kepemimpinan teknologi semakin relevan dalam perjalanan transformasi sebuah institusi keuangan.

Sebagai Direktur Information Technology BNI, Toto Prasetio berada di tengah lingkungan teknologi perbankan yang terus berkembang, ketika inovasi harus berjalan berdampingan dengan kebutuhan terhadap keamanan, skalabilitas, dan keandalan layanan.

Beyond Digital Banking

Transformasi digital perbankan pada akhirnya bukan sekadar perlombaan menghadirkan sebanyak mungkin aplikasi atau fitur.

Nilai teknologi muncul ketika layanan keuangan menjadi lebih mudah digunakan, mampu berkembang mengikuti kebutuhan pengguna, serta tetap dapat diandalkan ketika skalanya semakin besar.

Perjalanan digital BNI melalui wondr by BNI, BNIdirect, dan pengembangan ekosistem layanan digitalnya menunjukkan bahwa transformasi tersebut masih terus berlangsung.

Ketika digital banking telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari jutaan orang, pertanyaannya bukan lagi apakah bank perlu melakukan transformasi digital.

Pertanyaan yang semakin relevan adalah bagaimana bank dapat terus berinovasi sekaligus mempertahankan keamanan, keandalan, dan kepercayaan pengguna di tengah skala layanan digital yang semakin besar.

Bagi BNI dan jajaran teknologinya, termasuk Toto Prasetio sebagai Direktur Information Technology, tantangan tersebut akan menjadi bagian penting dari perjalanan transformasi digital berikutnya.

Share :