
Foto: Mashable Indonesia
Teknologi.id - Setelah mendominasi sektor kecerdasan buatan melalui ChatGPT, OpenAI kini mengarahkan fokusnya ke ranah media sosial. Platform yang sedang dikembangkan ini disebut akan berbeda dari media sosial pada umumnya karena dirancang hanya untuk pengguna manusia, tanpa kehadiran akun bot. Langkah ini dianggap sebagai upaya membangun ekosistem digital yang lebih sehat dan terpercaya, di tengah maraknya akun otomatis yang menyebarkan hoaks, spam, hingga manipulasi opini publik.
Mengapa Bot Menjadi Masalah Serius?
Hampir 49 persen lalu lintas internet global pada 2024 dihasilkan oleh bot, dengan sekitar 30 persen di antaranya dikategorikan berbahaya. Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh bot terhadap interaksi digital. Kehadiran bot tidak hanya mengganggu percakapan, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap media sosial. OpenAI melihat celah ini sebagai peluang untuk menghadirkan solusi yang lebih sehat.
Baca juga: Artificial Generate Intelligence Makin Dominan Di Internet, Kenapa Bisa Begitu?
Proof of Personhood, Konsep Baru dalam Verifikasi Identitas
Di inti proyek ini terdapat konsep proof of personhood, yakni sistem verifikasi identitas berbasis biometrik. Pengguna akan diminta memberikan bukti identitas melalui pemindaian wajah atau iris mata menggunakan teknologi seperti Face ID dan World Orb. World Orb sendiri merupakan perangkat seukuran melon yang dapat memindai bola mata dan menghasilkan ID unik yang tidak bisa dipalsukan. Teknologi ini dikembangkan oleh Tools for Humanity, perusahaan yang didirikan oleh Sam Altman, CEO OpenAI.
Privasi dan Risiko Data Biometrik
Meski konsep ini terdengar menjanjikan, penggunaan biometrik menimbulkan kekhawatiran besar. Data biometrik bersifat permanen dan tidak bisa diubah. Jika jatuh ke tangan yang salah, risiko penyalahgunaan bisa sangat tinggi. Para pegiat privasi menyoroti bahwa verifikasi berbasis iris mata atau wajah dapat membuka celah baru bagi kebocoran data yang lebih berbahaya dibandingkan verifikasi berbasis email atau nomor telepon.
Tim Kecil dengan Ambisi Besar
Proyek media sosial ini masih dalam tahap awal dan dikembangkan oleh tim kecil beranggotakan kurang dari sepuluh orang. Meski skalanya terbatas, ambisi yang dibawa sangat besar. Sumber internal menyebutkan bahwa platform ini tidak hanya akan menghadirkan interaksi manusia yang lebih autentik, tetapi juga memungkinkan pengguna memanfaatkan AI untuk membuat konten berupa video atau gambar. Hal ini menunjukkan bahwa OpenAI ingin menggabungkan kekuatan AI dengan ruang sosial yang bebas dari manipulasi bot.
Sam Altman dan Kekhawatiran tentang Internet yang Dipenuhi Bot
Sam Altman, yang dikenal sebagai pengguna setia Twitter/X sejak 2008, pernah menyinggung teori konspirasi dead internet theory. Teori ini menyebutkan bahwa internet sudah mati dan sebagian besar konten yang beredar dibuat oleh bot AI. Altman memang tidak sepenuhnya percaya teori tersebut, tetapi ia mengakui bahwa semakin banyak akun di Twitter yang dijalankan oleh model bahasa besar (LLM). Pernyataan ini memperkuat alasan mengapa OpenAI serius menggarap media sosial bebas bot.
Baca juga: Teknologi BraindBody LLM Kini Makin Dikembangkan, Apa Akan Berpengaruh Langsung Pada Kemajuan Zaman?
Dampak Sosial dan Etika dari Media Sosial Bebas Bot
Dengan menghilangkan akun otomatis sejak tahap pendaftaran, interaksi di platform ini berpotensi lebih autentik dan jujur. Hal ini dapat mengurangi penyebaran hoaks, propaganda politik, hingga penipuan digital. Meski begitu, pertanyaan etis tetap muncul, apakah masyarakat siap menyerahkan data biometrik demi ruang digital yang lebih aman. Keberhasilan proyek ini bergantung pada komitmen kuat terhadap perlindungan privasi dan transparansi penggunaan data.
Potensi Baru dalam Media Sosial
Jika benar terealisasi, media sosial buatan OpenAI berpotensi menjadi pesaing serius bagi platform besar seperti Facebook, Instagram, atau X. Lebih dari itu, platform ini bisa menjadi cara baru dalam berinteraksi di dunia maya. Bayangkan sebuah ruang digital tanpa akun palsu, tanpa spam, dan dengan identitas manusia yang terverifikasi. Interaksi yang terjadi akan lebih jujur, lebih autentik, dan berpotensi mengembalikan kepercayaan publik terhadap media sosial.
Antara Harapan dan Tantangan
Langkah OpenAI menghadirkan media sosial bebas bot adalah ambisi besar yang bisa mengubah wajah internet. Di satu sisi, konsep ini menjanjikan ekosistem digital yang lebih sehat dan aman. Di sisi lain, tantangan privasi dan keamanan data biometrik tidak bisa diabaikan. Pertanyaan besar yang tersisa adalah "apakah masyarakat siap menerima verifikasi biometrik sebagai syarat berinteraksi di dunia maya". Jika berhasil, OpenAI bukan hanya menghadirkan platform baru, tetapi juga membuka babak baru dalam sejarah media sosial.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(dim/sa)