
Foto: Kompas.coom
Teknologi.id - Privasi Digital sebagai Kepentingan Utama, Privasi data pribadi merupakan salah satu isu paling penting dalam penggunaan layanan digital. Gmail, sebagai salah satu platform surat elektronik terbesar di dunia, menyimpan jutaan pesan yang berisi informasi sensitif.
Ketika fitur berbasis kecerdasan buatan diaktifkan secara default, muncul kekhawatiran bahwa data pribadi pengguna dapat diakses tanpa persetujuan eksplisit. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana perusahaan teknologi menjaga transparansi dan memberikan kendali penuh kepada pengguna atas data mereka.
Peringatan Davey Jones dan Isu Privasi Gmail

Foto: Tangkapan Layar/Adimas Herviana/Akun X @eevblog
Dalam unggahan yang menjadi viral di platform X, Davey Jones menyoroti pengaturan Smart Features Gmail yang secara otomatis aktif. Menurutnya, kondisi ini menyerupai “digital Trojan Horse” karena membuka peluang Gmail mengakses pesan pribadi dan lampiran untuk mendukung kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa pengguna harus menonaktifkan fitur tersebut secara manual melalui dua lokasi berbeda di menu pengaturan.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan dari Yahoo News dan Pune Mirror, pengaturan default Gmail memungkinkan Google menggunakan konten email dan lampiran untuk mendukung fitur pintar berbasis AI, seperti smart compose, kategori kotak masuk otomatis, hingga rekomendasi dari Google Assistant. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa mereka telah “opted in by default” atau otomatis diikutsertakan dalam pengaturan tersebut.
Baca Juga: Gmail Tampil dengan Fitur Baru, Bisa Ubah Langsung Alamat
Mengapa Disebut “Digital Trojan Horse”
Istilah “digital Trojan Horse” yang digunakan Davey Jones menggambarkan kondisi di mana fitur yang tampak membantu justru berpotensi menjadi pintu masuk bagi akses data pribadi. Menurutnya, pengguna tidak diberi pilihan eksplisit sejak awal, melainkan harus secara aktif mencari dan menonaktifkan pengaturan yang tersembunyi di dalam menu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai transparansi dan persetujuan pengguna dalam penggunaan layanan berbasis AI.
Reaksi Publik dan Dampak Praktis
Unggahan Davey Jones memicu diskusi luas di kalangan pengguna Gmail. Sebagian merasa khawatir karena fitur yang dianggap membantu ternyata terkait dengan pemrosesan data pribadi. Ada pula yang kecewa karena menonaktifkan Smart Features membuat Gmail kehilangan fungsi penting, seperti pemisahan kotak masuk promosi dan sosial, pemeriksaan ejaan, serta smart compose. Kondisi ini menimbulkan dilema antara kenyamanan penggunaan dan perlindungan privasi.
Cara Menonaktifkan Fitur Pintar Gmail
Pengguna dapat menonaktifkan fitur pintar melalui langkah berikut:

Foto: Downloadsource.net
1. Pengguna desktop dan laptop

Foto: Google Workspace
- Buka menu “See all settings”
- Masuk ke bagian “Smart features” dan hapus tanda centang pada opsi “Turn on smart features in Gmail, Chat, and Meet”
- Pilih “Manage Workplace smart feature settings” untuk menyesuaikan fitur yang terhubung dengan Google Workspace.
2. Pengguna ponsel
- Buka menu pengaturan di bagian bawah kotak masuk.
- Pilih “data privacy” lalu nonaktifkan “Smart features”
- Masuk ke “Google Workspace smart features” untuk menyesuaikan pengaturan pada layanan Workspace.
Dampak dan Konsekuensi
Menonaktifkan fitur pintar memang dapat melindungi privasi, tetapi konsekuensinya adalah hilangnya sejumlah fungsi yang selama ini membantu pengguna. Fitur seperti smart compose, kategori kotak masuk yang memisahkan email promosi dan sosial, serta pemeriksaan ejaan dan tata bahasa akan ikut terhenti. Kondisi ini menimbulkan dilema antara kenyamanan penggunaan dan perlindungan data pribadi.
Sebagian pengguna bahkan mempertanyakan mengapa kategori email yang sebelumnya dapat diakses tanpa integrasi AI kini hanya tersedia jika fitur Gemini tetap aktif. Pertanyaan ini memperlihatkan adanya ketidakjelasan dalam kebijakan yang diterapkan.
Baca Juga: Lupa Judul Lagu, Coba Pakai Cara Ini!
Gugatan Hukum dan Tanggapan Google
Isu privasi Gmail semakin menguat setelah adanya gugatan hukum dari seorang warga Illinois yang menuduh Google mengaktifkan Gemini secara otomatis pada Gmail, Chat, dan Meet. Gugatan tersebut menyoroti bahwa pengguna harus menonaktifkan pengaturan privasi secara manual meski tidak pernah menyetujui pelacakan tersebut.
Google menanggapi dengan menyatakan bahwa laporan yang beredar menyesatkan. Mereka menegaskan bahwa konten Gmail tidak digunakan untuk melatih model Gemini dan menekankan komitmen terhadap transparansi dalam setiap pembaruan layanan.
Polemik mengenai fitur pintar Gmail memperlihatkan adanya ketegangan antara kenyamanan penggunaan dan perlindungan privasi. Peringatan Davey Jones menjadi relevan karena menyoroti aspek yang sering luput dari perhatian pengguna, yakni pengaturan default yang dapat memengaruhi keamanan data pribadi. Situasi ini menegaskan pentingnya kesadaran digital agar setiap individu memahami layanan yang digunakan, menimbang manfaat fitur berbasis AI, sekaligus memastikan kontrol atas informasi pribadi tetap berada di tangan pengguna.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(dim/sa)

Tinggalkan Komentar