Internet Mahal dan Masih Tertinggal, Warga Kuba Akses Internet Pakai Hard Disk

Kemala Putri . January 15, 2019
Internet Mahal dan Masih Tertinggal, Warga Kuba Akses Internet Pakai Hard DiskTeknologi.id - Apa yang terlintas di pikiranmu tentang Kuba, sebuah negara di Benua Amerika yang berada di Gugusan Kepulauan Karibia? Mungkin sosok Fidel Castro tokoh revolusioner Kuba atau Camila Cabello pelantun lagu Havana yang akan langsung terlintas di kepala. Namun, ada hal menarik lain dari Kuba yang membuatnya berbeda dari negara lain, yaitu warga Kuba melakukan akses internet pakai hard disk! Hard disk tersebut dinamai 'el paquete semanal' atau 'paket mingguan', yang merupakan hard disk yang diisi konten media dengan durasi bisa mencapai ribuan jam sebagai cara masyarakat Kuba untuk menikmati internet namun dengan cara offline.

Baca juga: Makin Hari Makin Murah, Benarkah di Masa Depan Internet Bakal Gratis?

"Dengan el paquete, kamu bisa menentukan apa yang ingin ditonton dan kapan melakukannya," ujar Alberto Jorge, salah satu warga Kuba yang menjadi pemasok dari el paquete semanal. Biasanya, ia memberikan hard drive dengan kapasitas 1 TB untuk satu rumah. Nantinya, pemilik rumah bisa memindahkan file yang mereka inginkan.
Hasil gambar untuk el paquete semanal
Hard disk el paquete semanal diisi berbagai konten media. Credit: Cubanet
Ada hasil scan dari sejumlah majalah dengan format pdf hingga aplikasi yang bisa dipasang pada ponsel mereka di dalam hard disk tersebut. Lalu, selang satu hari, Jorge akan menagih kembali hard drive tersebut. Ia mematok harga USD 2, atau sekitar Rp 28 ribu, untuk jasa yang ditawarkannya itu. Cerita tak kalah menarik datang dari orang-orang yang menjadi penikmat el paquete semanal. Salah satunya Elena Llera. Perempuan berusia 52 tahun memesan layanan tersebut untuk menikmati tayangan opera sabun asal Turki berjudul The Bride of Istanbul. Padahal, ia memiliki akses ke WiFi publik dengan jarak hanya 100 meter dari tempat tinggalnya. Walau begitu, ia hanya tersambung ke WiFi dua kali seminggu untuk melakukan video call dengan bibinya di Miami, Amerika Serikat.

Baca juga: Awas! Internet Super Cepat Ternyata Berbahaya Bagi Kesehatan

Hal tersebut dipilihnya lantaran mahalnya biaya menggunakan internet lewat WiFi publik itu. Tarifnya setara USD 1, atau sekitar Rp 14 ribu, per jam, yang kurang lebih sama dengan pendapatan harian dari Elena. "Jika bisa, saya akan menggunakan internet dengan segala kegunaannya, untuk belajar mengenai politik dan kultur. Tapi saya tidak bisa. Itu sangat mahal," ujarnya. Lain lagi dengan Alejandro Pol. Pria berusia 28 tahun menggunakan el paquete semanal untuk membaca ulasan mengenai iPhone terbaru.
Hasil gambar untuk el paquete semanal
Jasa internet hard disk el paquete semanal dihargai USD 2, atau sekitar Rp 28 ribu. Credit: Cubanet
"Kami tahu bukan seperti ini cara kerja di dunia kapitalis, tapi ini cara yang kami punya untuk tetap terhubung," katanya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa (15/1/2018). Kondisi internet di Kuba memang bisa dibilang memprihatinkan. Pemerintahnya bahkan baru melakukan deklarasi jaringan 3G pada pertengahan tahun lalu.

Baca juga: Kuba Menawarkan Akses Internet 3G Kepada Warga

Selain itu, pada Desember 2018, ada perusahaan telekomunikasi bernama Empresa de Telecomunicaciones de Cuba SA (ETECSA) yang mengumumkan bahwa warga Kuba akan bisa mengakses internet di ponsel mereka. Sayangnya, harganya masih dikeluhkan terlalu mahal bagi kebanyakan orang. Kuba memang masih sangat tertinggal dalam akses internet karena masalah pendanaan, embargo perdagangan, dan penyensoran. Sampai 2013 pun, sebagian besar koneksi internet untuk umum hanya tersedia melalui hotel-hotel yang ada di sana. (DWK)
author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar