
Foto: Shutterstock
Teknologi.id – Data Sensor Tower sepanjang tahun 2025 mengungkapkan fakta mencengangkan: Indonesia menempati peringkat nomor satu di Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran tiga besar dunia sebagai negara dengan masyarakat yang paling kecanduan layar ponsel.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan pergeseran gaya hidup digital yang masif. Di saat negara-negara tetangga masih tertinggal, jemari warga Indonesia seolah tak pernah berhenti menggulir (scrolling) layar, dari pagi buta hingga larut malam.
Mengalahkan Amerika, Hanya Kalah dari India
Menurut data dari firma riset pasar Sensor Tower, sepanjang tahun 2025, total waktu yang dihabiskan warga Indonesia di depan layar ponsel (baik Android maupun iOS) mencapai angka fantastis: 414 miliar jam.
Dalam peta persaingan global, posisi Indonesia sangat dominan:
India: Menduduki peringkat pertama sebagai "raja" dunia dengan total durasi penggunaan mencapai 1,2 triliun jam.
Indonesia: Berada di posisi kedua (atau ketiga dalam beberapa metrik spesifik), namun secara konsisten mengungguli negara-negara maju.
Amerika Serikat: Negeri Paman Sam justru berada di bawah Indonesia dengan total durasi 385 miliar jam.
Di kawasan Asia Tenggara sendiri, Indonesia tidak terkejar. Filipina dan Vietnam yang biasanya kompetitif, hanya mampu duduk di peringkat ke-8 dan ke-11 secara global. Sementara itu, negara tetangga lain seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand bahkan tidak masuk dalam daftar "Top 20" penggunaan durasi layar terekstrem ini.
Baca juga: Kenali Kecanduan Gadget dengan Tanda-tanda Berikut Ini!
Apa yang Dilakukan Warga RI Selama Ratusan Miliar Jam?
Pertanyaan besarnya adalah: apa yang sebenarnya diakses oleh jutaan orang Indonesia dalam durasi selama itu? Jawabannya bukan sekadar komunikasi, melainkan hiburan tanpa henti.
Laporan tersebut merinci bahwa Media Sosial adalah penyedot waktu terbesar. Aplikasi video pendek TikTok masih menjadi juara bertahan yang paling banyak menyita perhatian pengguna di Tanah Air.
Namun, ada tren baru yang mengejutkan di tahun 2025: meroketnya popularitas Aplikasi Drama Pendek (Short Drama). Salah satu aplikasi di kategori ini, Melolo, mencatatkan lonjakan unduhan hingga 329%. Ini menandakan adanya pergeseran selera hiburan masyarakat, dari konten video acak ke narasi drama berseri yang durasinya singkat namun adiktif.
Selain hiburan, kategori lain yang menjadi "langganan" klik warga +62 meliputi:
Aplikasi Utilitas (alat bantu produktivitas).
Perbankan & Dompet Digital (E-wallet).
Pinjaman Online (Pinjol).
Layanan Streaming OTT (Over-The-Top).
E-commerce (Belanja online).
Baca juga: Ngeri! Inilah Prediksi Wajah Manusia Tahun 2050 Akibat Mager dan Kecanduan Gadget
Ironi Negara Maju vs Negara Berkembang
Ada fakta menarik ketika membandingkan data Indonesia dengan China. Meski China dikenal sebagai produsen aplikasi raksasa (termasuk induk TikTok), warga negaranya ternyata "tidak secandu" warga Indonesia. China hanya menempati peringkat ke-9 global dengan total durasi 148 miliar jam (khusus data pengguna iOS).
Secara global, kecanduan internet mobile memang terus tumbuh. Dunia menghabiskan total 5,3 triliun jam di depan layar ponsel sepanjang 2025, naik 3,8% dari tahun sebelumnya. Rata-rata manusia modern kini menghabiskan sekitar 3,6 jam setiap hari hanya untuk menatap layar kecil di genggaman mereka.
Bagi Indonesia, predikat "Juara Asia Tenggara" ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini menunjukkan potensi ekonomi digital yang luar biasa besar dan literasi teknologi yang tinggi. Namun di sisi lain, angka 414 miliar jam adalah peringatan keras tentang produktivitas nyata yang mungkin tergerus oleh maya, serta tantangan kesehatan mental dan fisik yang mengintai di balik layar yang menyala.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar