Startup Ini Akan Jual Cahaya Matahari ke Bumi Pakai 50.000 Cermin

Irmanon Riandina . March 17, 2026


Foto: Youtube Ric Burton

Teknologi.id - Sebuah ide yang terdengar seperti fiksi ilmiah kini mulai diwujudkan oleh sebuah perusahaan rintisan asal California, Amerika Serikat. Startup bernama Reflect Orbital tengah mengembangkan teknologi yang memungkinkan cahaya Matahari “dijual” ke Bumi menggunakan cermin raksasa yang ditempatkan di luar angkasa.

Konsepnya cukup unik. Perusahaan ini berencana menempatkan puluhan ribu cermin besar pada satelit yang mengorbit Bumi. Cermin tersebut nantinya akan memantulkan sinar Matahari ke area tertentu di permukaan Bumi, sehingga wilayah yang gelap bisa mendapatkan tambahan cahaya alami meskipun sedang malam hari.

Untuk tahap awal, Reflect Orbital sudah mengajukan rencana peluncuran satelit prototipe bernama Earendil-1. Satelit ini akan digunakan sebagai uji coba teknologi sebelum perusahaan benar-benar membangun jaringan satelit dalam jumlah besar.

Baca juga: Jeff Bezos Ingatkan Gen Z: Jangan Buru-Buru Bikin Startup Kalau Mau Sukses

Cara Kerja Teknologinya

Secara teori, sistem ini tidak terlalu rumit. Satelit yang membawa cermin raksasa akan berada di orbit tertentu dan diarahkan sedemikian rupa agar dapat memantulkan sinar Matahari ke lokasi yang telah ditentukan di Bumi. Reflect Orbital bahkan memiliki rencana ambisius untuk meluncurkan hingga 50.000 cermin yang dipasang pada satelit. Dengan jumlah tersebut, perusahaan berharap dapat menyediakan layanan pencahayaan untuk berbagai kebutuhan.

Menurut klaim perusahaan, satu cermin satelit dapat menerangi area seluas sekitar 5 kilometer. Intensitas cahaya yang dihasilkan diperkirakan berada di kisaran 0,8 hingga 2,3 lux. Sebagai gambaran, cahaya Bulan di malam yang cerah biasanya hanya menghasilkan pencahayaan sekitar 0,05 hingga 0,3 lux. Artinya, cahaya yang dipantulkan oleh cermin satelit ini berpotensi jauh lebih terang dibandingkan cahaya alami Bulan.

Digunakan untuk Banyak Sektor

Reflect Orbital menyebutkan bahwa teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan praktis. Salah satunya adalah membantu operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah bencana yang minim pencahayaan. Selain itu, pencahayaan tambahan juga bisa digunakan untuk memperpanjang jam kerja di area industri seperti pertambangan atau konstruksi. Dengan adanya cahaya tambahan dari luar angkasa, aktivitas di lapangan tidak harus berhenti saat malam tiba.

Di sektor pertanian, teknologi ini bahkan disebut berpotensi membantu meningkatkan produktivitas tanaman dengan memberikan pencahayaan tambahan pada waktu tertentu. Perusahaan juga menyebut sistem ini dapat menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan lampu kota yang berlebihan, sehingga diharapkan dapat menekan polusi cahaya yang berasal dari lampu buatan.

Di sisi lain, teknologi ini juga disebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk operasi pertahanan dan pengawasan wilayah.

Tidak Gratis, Harga Bisa Puluhan Juta per Jam

Meski terdengar futuristik, layanan cahaya dari luar angkasa ini tentu tidak diberikan secara cuma-cuma. Reflect Orbital menetapkan tarif sekitar USD 5.000 atau setara kurang lebih Rp85 juta per jam untuk cahaya yang dipantulkan oleh satu cermin satelit. Harga tersebut kemungkinan akan disesuaikan tergantung kebutuhan pencahayaan dan lokasi yang dituju. Konsep bisnis ini pada dasarnya mirip dengan layanan satelit lainnya, di mana pelanggan dapat “memesan” layanan sesuai kebutuhan waktu dan area tertentu.

Baca juga: Bukan Sihir! Startup Jepang Ini Ubah Selembar Kain Jadi Speaker Aktif

Tuai Kritik dari Komunitas Astronomi

Walau terdengar inovatif, rencana ini juga memicu kekhawatiran dari kalangan ilmuwan, khususnya para astronom. Organisasi DarkSky International menyampaikan bahwa sistem seperti ini berpotensi menimbulkan gangguan serius terhadap penelitian astronomi. Cahaya yang dipantulkan dari satelit dapat menciptakan gangguan pada pengamatan teleskop yang digunakan untuk mempelajari objek di luar angkasa.

Selain itu, jumlah satelit yang sangat besar juga dikhawatirkan memperparah masalah sampah antariksa di orbit Bumi. Semakin banyak objek yang mengorbit, semakin besar pula risiko tabrakan antar satelit atau puing-puing luar angkasa. Para astronom bahkan menilai sistem ini bisa menimbulkan berbagai risiko baru, mulai dari dampak ekologis hingga keselamatan di tingkat global.

Masih Menunggu Persetujuan

Saat ini, Reflect Orbital masih menunggu persetujuan dari Federal Communications Commission sebelum dapat meluncurkan satelit uji coba mereka. Jika mendapatkan izin, perusahaan berencana meluncurkan prototipe satelitnya dalam waktu dekat sebagai langkah awal untuk membuktikan bahwa teknologi pemantul cahaya Matahari dari luar angkasa benar-benar bisa diwujudkan. Meski masih berada pada tahap awal pengembangan, ide menjual cahaya Matahari ini menunjukkan bagaimana inovasi teknologi luar angkasa terus berkembang dengan konsep-konsep yang semakin tidak terduga.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(ir/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar