
Foto: Wikimedia/ Greg Willis
Teknologi.id - Dunia paleontologi baru saja mendapatkan suntikan teknologi mutakhir dalam upaya mengungkap misteri kehidupan purba di Bumi. Sejumlah peneliti internasional, yang sebagian besar berasal dari University of Edinburgh, Skotlandia, resmi memperkenalkan DinoTracker. Ini merupakan sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mengidentifikasi jejak kaki (footprint) dinosaurus yang terbentuk puluhan juta tahun silam. Penemuan inovatif ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah bergengsi, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
DinoTracker bukanlah aplikasi mobile yang dapat diunduh secara bebas di Google Play Store atau Apple App Store. Software ini tersedia sebagai aplikasi berbasis web dengan kode sumber terbuka (open-source) yang dapat diakses melalui platform GitHub. Fokus utamanya saat ini adalah untuk kebutuhan riset mendalam serta alat edukasi bagi para akademisi. Steve Brusatte, salah satu ahli paleontologi terkemuka yang terlibat dalam proyek ini, menjelaskan bahwa teknologi AI digunakan untuk memberikan perspektif yang lebih objektif dalam menganalisis temuan lapangan.
Menjawab Tantangan Identifikasi Jejak Dinosaurus
Selama berabad-abad, mengidentifikasi spesies dinosaurus hanya berdasarkan jejak kaki sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang sangat spekulatif. Brusatte mengibaratkan proses ini seperti mencoba mencocokkan sepatu "Cinderella" dengan pemiliknya yang telah lama hilang. Kesulitannya terletak pada fakta bahwa bentuk jejak kaki tidak hanya dipengaruhi oleh anatomi kaki dinosaurus itu sendiri, tetapi juga oleh kondisi lingkungan saat jejak itu dibuat, seperti kelembapan pasir, tekstur lumpur, hingga cara dinosaurus tersebut melangkah.
Lebih menantang lagi, para ilmuwan hampir tidak pernah menemukan fosil tulang dinosaurus tepat di samping jejak kaki yang ditinggalkannya. Hal ini membuat proses identifikasi selama ini sangat bergantung pada interpretasi manusia yang rentan terhadap bias atau kekeliruan. Dengan hadirnya DinoTracker, para peneliti berharap dapat meminimalisir kesalahan manusia tersebut melalui analisis data yang lebih presisi dan sistematis.
Baca juga: AstraZeneca Pakai AI untuk Percepat Uji Klinis dan Temukan Obat Lebih Cepat
AI Belajar Tanpa Campur Tangan Manusia

Foto: GitHub
Salah satu keunggulan utama DinoTracker terletak pada metode pelatihan algoritma yang digunakan. Berbeda dengan sistem AI konvensional yang dilatih menggunakan data yang sudah diberi label oleh manusia, tim peneliti DinoTracker memilih pendekatan yang lebih jelas. Mereka memasukkan sekitar 2.000 siluet jejak kaki dinosaurus tanpa label apa pun ke dalam sistem. Tujuannya adalah agar AI dapat belajar mengidentifikasi pola secara mandiri tanpa terpengaruh oleh asumsi awal dari para ahli.
Dari proses pembelajaran mandiri tersebut, sistem AI berhasil mengidentifikasi delapan fitur utama yang paling relevan dalam membedakan antar-jejak. Fitur-fitur tersebut mencakup sebaran jari kaki, posisi tumit, hingga luas kontak kaki dengan permukaan tanah. Berdasarkan uji internal, tingkat akurasi DinoTracker dalam mengklasifikasikan jejak kaki mencapai 90 persen, sebuah angka yang dinilai selaras dengan analisis pakar manusia namun dikerjakan dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Tetap Membutuhkan Verifikasi Ahli
Bagi pengguna yang ingin menjalankan sistem ini melalui repositori GitHub, mereka dapat mengunggah siluet jejak kaki untuk dianalisis. Sistem kemudian akan membandingkan data tersebut dan menampilkan tujuh jejak kaki lain yang memiliki kemiripan paling tinggi. Menariknya, pengguna juga diberikan fitur untuk memodifikasi bentuk jejak yang diunggah guna memahami bagaimana perubahan fitur kecil dapat memengaruhi hasil klasifikasi akhir secara keseluruhan.
Meskipun canggih, tim peneliti menegaskan bahwa DinoTracker bukanlah pengganti peran manusia. Hasil analisis AI tetap harus diverifikasi secara manual oleh para ahli dengan mempertimbangkan variabel tambahan seperti usia geologis fosil serta jenis material batuan tempat jejak ditemukan.
Baca juga: Canggih! AI SleepFM Mampu Prediksi Risiko 130 Penyakit Cuma Lewat Tidur
Pandangan kritis juga datang dari Jens Lallensack dari Humboldt University of Berlin.
“Jejak yang terlihat mirip burung belum tentu bisa dijadikan bukti kemunculan burung lebih awal,” kata Lallensack.
Ia mengingatkan bahwa jejak yang tampak seperti burung pada periode Trias belum tentu membuktikan keberadaan burung purba, melainkan bisa jadi merupakan efek dari dinosaurus theropoda yang tenggelam di tanah lunak.
Pemanfaatan DinoTracker menandai babak baru dalam integrasi teknologi digital dan ilmu sejarah Bumi. Meski masih memiliki keterbatasan dan terus dalam tahap validasi ilmiah, aplikasi ini membuka peluang besar untuk memetakan kembali persebaran spesies dinosaurus di masa lalu dengan lebih akurat. Ke depannya, belum dapat dipastikan apakah sistem ini akan diadaptasi menjadi aplikasi ponsel untuk publik luas, namun kehadirannya telah memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu paleontologi modern.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar