Google DeepMind AlphaGenome: AI Canggih yang Mendeteksi Penyebab Penyakit Lewat DNA

Yasmin Najla Alfarisi . January 30, 2026

Foto: Google Deepmind

Teknologi.id -  Google, melalui unit riset AI (Artificial Intelligence/ kecerdasan buatan) mereka, DeepMind, kembali mengguncang dunia sains dengan meluncurkan AlphaGenome. Sistem AI terbaru ini dirancang khusus untuk membantu para ilmuwan mengidentifikasi pemicu genetik utama dari berbagai penyakit kompleks, mulai dari kanker, gangguan jantung, hingga penyakit autoimun. Langkah ini menandai fase baru dalam ekspansi AI global, di mana fokus teknologi bergeser dari sekadar pengolahan data digital menuju wilayah paling fundamental dalam kehidupan manusia: kode genetik atau DNA.

AlphaGenome diperkenalkan sebagai model pembelajaran mendalam (deep learning) yang mampu mempelajari serta mensimulasikan mekanisme genetik yang selama ini sulit ditembus oleh metode penelitian medis konvensional. Berbeda dengan alat AI yang menyasar produktivitas harian, AlphaGenome bergerak di ranah kesehatan dan ilmu hayati, sebuah sektor dengan dampak jangka panjang di seluruh dunia. Teknologi ini memiliki kemampuan luar biasa untuk menganalisis hingga satu juta huruf kode DNA dalam sekali coba, sehingga memungkinkan peneliti untuk membaca bagian genom yang selama ini luput dari pengamatan.

Baca juga: Pacu Jantung Tanpa Baterai, Temuan Baru Ilmuwan China Bisa Bertahan Seumur Hidup

Memahami "Tata Bahasa" dalam Kitab Kehidupan

Dalam peluncurannya pada akhir Januari 2026, Wakil Presiden Riset Google DeepMind, Pushmeet Kohli, menyatakan bahwa penyelesaian peta genom manusia pada tahun 2003 memang telah memberi umat manusia sebuah "kitab kehidupan". Namun, tantangan terbesarnya bukan sekadar memiliki catatan tersebut, melainkan memahami "tata bahasa" di baliknya. Tubuh manusia menyimpan sekitar 3 miliar pasangan nukleotida yang membentuk DNA, tetapi hanya sekitar 2% saja yang berfungsi sebagai pembuat protein.

Sisanya, sekitar 98 persen, dahulu sering dianggap sebagai "DNA sampah" karena fungsinya yang tidak diketahui. Namun, AlphaGenome hadir untuk membuktikan bahwa bagian non-pengkode (non-coding DNA) ini sebenarnya memegang peran koordinasi yang vital. Bagian inilah yang menentukan kapan suatu gen aktif, di jaringan tubuh mana gen tersebut bekerja, dan seberapa kuat tingkat aktivitas biologisnya. Mutasi pada wilayah pengatur inilah yang kini terdeteksi berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental, gangguan autoimun, hingga kanker pada anak.

Cara Kerja dan Pelatihan Data Lintas Spesies


Foto: alphagenomedocs

Untuk membangun sistem yang akurat, DeepMind melatih AlphaGenome menggunakan basis data publik yang mencakup genetika manusia dan tikus. Dengan mempelajari data dari ratusan jenis sel dan jaringan yang berbeda, AlphaGenome mampu memprediksi bagaimana mutasi genetik tertentu mengganggu mekanisme pengendalian gen. Model ini tidak hanya sekadar membaca urutan DNA, tetapi juga memprediksi konsekuensi biologis dari perubahan sekecil apa pun dalam kode genetik tersebut.

Peneliti utama riset ini, Ziga Avsec, menjelaskan bahwa kemampuan menganalisis rangkaian DNA yang sangat panjang sangat penting untuk memahami lingkungan suatu gen secara utuh. Dengan tingkat detail yang tinggi, ilmuwan kini dapat membandingkan rangkaian DNA normal dengan rantaian yang bermutasi secara langsung. Hal ini membuka jalan bagi pengembangan terapi gen yang lebih akurat, termasuk perancangan urutan DNA baru yang dapat mengaktifkan gen tertentu hanya pada sel-sel yang disasar, seperti sel hati atau sel saraf.

Baca juga: AI DinoTracker Bisa Identifikasi Jejak Kaki Dinosaurus dengan Akurasi 90%

Dampak Klinis dan Catatan dari Komunitas Ilmiah

Di tingkat klinis, kehadiran AlphaGenome mulai dirasakan sebagai "perubahan besar". Marc Mansour, profesor klinis dari University College London (UCL), menyebutkan bahwa teknologi ini sangat membantu dalam menemukan penggerak genetik pada kanker anak yang selama ini terhambat oleh kompleksitas genom.

Gareth Hawkes, ahli genetika statistik dari University of Exeter, juga menambahkan bahwa kemampuan AlphaGenome merupakan lompatan besar bagi dunia sains.

"Genom non-coding mencakup 98% dari 3 miliar pasangan basa genom kita. Kita cukup memahami 2 persen sisanya, tetapi fakta bahwa kini ada AlphaGenome yang dapat memprediksi apa yang dilakukan 2,94 miliar pasangan basa lainnya merupakan langkah maju besar bagi kami," ujarnya.

Meski demikian, komunitas ilmiah tetap memberikan catatan penting. Ben Lehner dari Universitas Cambridge mengingatkan bahwa AlphaGenome masih sangat bergantung pada kualitas data pelatihan, sementara Robert Goldstone dari Francis Crick Institute memperingatkan bahwa AI ini bukanlah "solusi ajaib" karena ekspresi gen juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang tidak dapat diamati oleh model. Saat ini, AlphaGenome telah tersedia secara gratis untuk penggunaan non-komersial dan telah diuji oleh lebih dari 3.000 ilmuwan di 160 negara, menegaskan ambisi Google untuk membentuk masa depan kesehatan global melalui kecerdasan buatan.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(yna/sa)


author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar