
Foto: Freepik
Teknologi.id - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan hebat dan mencatatkan penurunan tajam dalam sepekan terakhir. Aset kripto terbesar di dunia ini bahkan harus rela keluar dari jajaran 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global. Berdasarkan pantauan pada Senin (2/2/2026) pagi, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS per keping, atau sekitar Rp1,3 miliar dengan asumsi kurs Rp16.777 per dollar AS.
Bitcoin Keluar dari Jajaran 10 Besar Aset Dunia

Foto: 8marketcap
Menurut data Infinite Marketcap, anjloknya harga Bitcoin berdampak langsung pada penyusutan kapitalisasi pasarnya ke kisaran 1,55 triliun dollar AS. Dengan valuasi tersebut, Bitcoin kini turun ke peringkat ke-14 aset terbesar dunia, berada di bawah sejumlah aset raksasa seperti saham Tesla hingga perusahaan energi Saudi Aramco.
Padahal, hanya beberapa bulan sebelumnya, Bitcoin sempat menunjukkan performa luar biasa. Pada Oktober 2025, aset kripto ini mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa di atas 126.000 dollar AS per keping, dengan valuasi mendekati 2,5 triliun dollar AS. Saat itu, Bitcoin bahkan sempat masuk lima besar aset global dan mengungguli perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon.
Baca juga: Gawat! Hacker ShinyHunters Klaim Curi Data Pornhub, Minta Tebusan Bitcoin
Namun, sentimen pasar kini berubah drastis. Dalam kurun waktu satu pekan, harga Bitcoin tercatat merosot lebih dari 11 persen, dari level sekitar 90.000 dollar AS ke bawah 78.000 dollar AS. Ini menjadi posisi harga terendah Bitcoin sejak April 2025 dan menandakan tekanan jual yang semakin kuat di pasar kripto.
Kondisi tersebut memicu sentimen bearish di kalangan investor. Banyak pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Alhasil, Bitcoin yang sebelumnya cukup lama bertahan di jajaran 10 besar aset dunia kini terus melorot.
Tak Hanya Bitcoin, Ethereum Juga Alami Tekanan
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Ethereum (ETH), kripto terbesar kedua di dunia, juga mengalami koreksi tajam. Dalam sepekan terakhir, harga ETH turun sekitar 14,5 persen, sehingga kapitalisasi pasarnya menyusut ke kisaran 300 miliar dollar AS. Dampaknya, Ethereum kini berada di sekitar peringkat ke-68 aset terbesar dunia, turun jauh dari posisi 50 besar dan kalah nilai dari sejumlah perusahaan global seperti Coca-Cola, Cisco, hingga Caterpillar.
Baca juga: Jangan Salah! Ini Perbedaan Bitcoin dan Blockchain yang Wajib Kamu Pahami
Penguatan Dollar AS Tekan Pasar Kripto
Sejumlah faktor menjadi pemicu utama tekanan di pasar kripto. Salah satunya adalah penguatan dollar AS yang cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan ini dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk munculnya figur Federal Reserve yang dinilai cenderung hawkish dan berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, suku bunga riil berpeluang meningkat. Situasi ini biasanya tidak ramah bagi aset berisiko seperti kripto, karena investor lebih tertarik menyimpan dana dalam bentuk dollar AS atau obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih stabil. Akibatnya, arus dana keluar dari pasar kripto pun sulit dihindari.
Faktor eksternal lainnya datang dari ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Pernyataan keras dari pihak militer Iran terkait potensi serangan terhadap Israel, ditambah sinyal ancaman dari Amerika Serikat, memperbesar ketidakpastian global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menghindari aset spekulatif dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman.
Analis Needham, John Todaro, menilai minat investor ritel terhadap Bitcoin saat ini berada pada titik yang sangat rendah. Ia menyebut kondisi tersebut mencerminkan sikap apatis dari investor ritel. Menurutnya, volume perdagangan Bitcoin berpotensi tetap lesu setidaknya dalam satu hingga dua kuartal ke depan, sembari pasar menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan stabilitas global.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)

Tinggalkan Komentar