Mau Mining Bitcoin? Kenali Fungsi Hash Dahulu

Fabian Pratama Kusumah . October 05, 2021

Foto: Ripple Coin News

Teknologi.id - Jika mata uang biasanya diterbitkan oleh bank sentral, Bitcoin biasanya diterbitkan melalui block reward kepada penambang (miners) saat mereka memecahkan sebuah blok.

Untuk menjalankan praktiknya, penambang akan menggunakan hardware dan software khusus agar dapat memecahkan permasalahan komputasional kompleks hingga menghasilkan output 64 karakter yang susunannya terlihat acak.

Output inilah yang dinamakan hash. Apa itu hash? Melansir dari Bitocto, secara garis besar, istilah tersebut merujuk pada proses matematis atau fungsi yang terdiri atas data berbagai ukuran yang disimpan ke dalam serangkaian operasi.

Ukuran data-data tersebut bersifat tetap dan penting, terutama kalau berkaitan dengan transaksi dalam jumlah besar.

Bagaimana dengan fungsi hash? Dalam ilmu kriptografi, hash adalah algoritma yang dipakai untuk mengubah informasi.

Data yang dimasukkan nantinya diolah menjadi angka, huruf, atau karakter lain menjadi karakter terenkripsi tanpa mengubah ukuran.

Data yang terenkripsi lewat fungsi hash tak bisa lagi Anda kembalikan. Hal ini pula yang membuat algoritma tersebut dikenal sebagai One Way Function atau encryption satu arah.

Hash rate yang tinggi menyulitkan koordinasi logistik jumlah komputer yang dibutuhkan untuk melakukan serangan tersebut, dengan asumsi tidak ada satu entitas yang mengendalikan atau menguasai mayoritas hash rate dari jaringan Bitcoin.

Hash rate diukur menggunakan satuan hash per second, atau disingkat H/s. Saat ini, hash rate jaringan Bitcoin adalah sebesar 74 EH/s.

Seiring bertumbuhnya jaringan Bitcoin sehingga mampu melakukan lebih banyak hash per detik, meningkat pula hash rate-nya.

Selain itu, hash rate jaringan blockchain juga umum ditulis menggunakan ukuran kH/s (seribu hash per detik), MH/s (satu juta hash per detik), GH/s (satu miliar hash per detik), TH/s (satu triliun hash per detik), PH/s (satu quadrillion hash per detik) dan ZH/s (satu sextillion hash per detik).

Dalam Bitcoin, penambang menggunakan SHA-256 Cryptographic Hash Algorithm. Data yang diinput oleh para penambang tersebut ke dalam fungsi hash SHA-256.

Yang meliputi seluruh transaksi terkini yang dapat masuk dalam limit ukuran block, hasil hash block terdahulu, dan juga nonce.

Baca juga: WhatsApp, Instagram, dan Facebook Down, ini Sebabnya

Nonce merupakan nilai acak yang diubah oleh para penambang pada tiap percobaan hash untuk mendapatkan hasil baru.

Sedikit saja perubahan pada input akan mengakibatkan perubahan output yang sama sekali berbeda.

Penambang Bitcoin mencari output dengan jumlah angka nol tertentu. Kini, para penambang Bitcoin harus menemukan hash yang diawali dengan sembilan belas angka nol.

Untuk mendapatkan angka tersebut, diperlukan banyak sekali percobaan. Ketika hash tersebut ditemukan, block akan ditutup dan ditambahkan ke dalam blockchain.

Setelah sukses menambang sebuah block, penambang akan diberi imbal balas dengan Bitcoin baru dan biaya transaksi.

(fpk)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar