Viral! Robot Humanoid G1 Salah Tendang Instruktur, Reaksinya Bikin Warganet Takjub

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 06, 2026

Foto: x/@rohanpaul_ai

Teknologi.id 
– Sebuah rekaman video yang memperlihatkan interaksi antara manusia dan mesin mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial global. Bukan karena pamer kemajuan teknologi yang kaku, video ini justru viral karena memperlihatkan sebuah insiden "manusiawi" yang dilakukan oleh sebuah robot humanoid. Kejadian unik ini melibatkan robot humanoid model G1 besutan Unitree, sebuah perusahaan teknologi robotik terkemuka asal China, yang secara tidak sengaja menendang instrukturnya sendiri dan secara mengejutkan menunjukkan reaksi yang menyerupai rasa sakit.

Insiden tersebut terjadi dalam sebuah sesi pelatihan tingkat lanjut di laboratorium Unitree. Robot G1 sedang menjalani latihan motion-capture, sebuah proses di mana robot mempelajari dan meniru gerakan manusia secara real-time. Dalam sesi ini, seorang instruktur manusia menggunakan setelan khusus (motion-capture suit) yang dilengkapi dengan berbagai sensor gerak presisi tinggi. Setiap gerakan yang dilakukan oleh instruktur tersebut seharusnya ditransmisikan secara instan ke sistem kendali robot untuk ditiru sesempurna mungkin.

Kronologi Kejadian: Dari Latihan Bela Diri ke Insiden Viral



Pada awalnya, sesi latihan berjalan sangat lancar dan mengesankan. Robot G1 mampu menirukan rangkaian gerakan kompleks yang diperagakan oleh instrukturnya, mulai dari gerakan tangan, posisi kuda-kuda, hingga serangkaian pukulan teknis. Stabilitas robot terpantau sangat baik, menunjukkan betapa canggihnya keseimbangan dinamis yang dimiliki oleh model G1 di tahun 2026 ini.

Namun, ketegangan terjadi ketika instruktur tersebut mencoba memperagakan sebuah gerakan tendangan berputar. Karena adanya kesalahan pembacaan sensor atau sinkronisasi posisi yang tidak tepat dalam jarak yang terlalu dekat, robot G1 justru salah mengarahkan kakinya. Alih-alih menendang udara di depannya, kaki logam robot tersebut justru mendarat tepat mengenai area sensitif tubuh sang instruktur.

Hantaman tersebut cukup kuat hingga membuat sang instruktur langsung membungkuk kesakitan dan akhirnya jatuh berlutut di lantai sambil memegangi bagian tubuhnya yang terkena tendangan. Di sinilah momen yang paling mengejutkan terjadi: robot G1, yang masih terhubung dalam mode peniruan gerak, seketika ikut membungkukkan tubuhnya ke arah lantai. Gestur robot tersebut terlihat sangat identik dengan posisi tubuh instrukturnya yang sedang menahan sakit, seolah-olah mesin itu sendiri ikut merasakan "penderitaan" yang baru saja ia timbulkan.

Baca juga: Bumi: Robot Humanoid Murah Asal China, Harganya Setara iPhone

Analisis Teknologi: Antara Peniruan Gerak dan "Uncanny Valley"

Momen robot yang ikut "meringis" ini memicu perdebatan luas di internet mengenai apakah robot tersebut mulai memiliki empati. Namun, dari sudut pandang teknis, fenomena tersebut murni merupakan hasil dari sinkronisasi motion-capture yang sangat responsif. Karena robot diprogram untuk mengikuti setiap perubahan koordinat tubuh instrukturnya tanpa henti, maka ketika sang instruktur membungkuk karena sakit, robot G1 secara otomatis menyesuaikan postur tubuhnya dengan kecepatan tinggi agar tetap selaras.

Meskipun demikian, reaksi robot tersebut menciptakan efek uncanny valley yang luar biasa bagi siapa saja yang menontonnya. Kedekatan visual antara rasa sakit manusia dan respons fisik robot yang serupa memberikan kesan seolah-olah mesin tersebut memiliki kesadaran moral atas kesalahannya. Video yang awalnya diunggah di platform Bilibili ini dengan cepat menyebar ke X (Twitter), Reddit, hingga TikTok, dengan ribuan komentar yang menyebutnya sebagai cuplikan film komedi satir atau bahkan awal dari "pemberontakan" robot yang sopan.

Risiko Interaksi Jarak Dekat dan Keamanan Robotika

Di balik sisi humorisnya yang viral, insiden ini memberikan peringatan serius bagi industri robotika di tahun 2026. Kejadian ini membuktikan bahwa interaksi jarak dekat antara manusia dan robot humanoid berkekuatan besar masih menyimpan risiko fisik yang nyata. Meskipun robot G1 dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia dan memiliki sensor penghindar tabrakan, dalam mode pelatihan khusus seperti motion-capture, perlindungan tersebut terkadang bisa terlewati oleh perintah sinkronisasi gerak utama.

Para ahli keamanan robotika menyarankan bahwa di masa depan, sesi pelatihan seperti ini harus dilakukan dengan menggunakan sekat transparan yang kuat atau menerapkan pembatasan jarak minimum melalui sistem geo-fencing virtual. Kekuatan fisik robot humanoid yang terbuat dari logam jauh melampaui ketahanan tubuh manusia, sehingga kesalahan kecil dalam perhitungan jarak dapat berakibat cedera serius bagi operatornya.

Baca juga: Waspada 'Humanoid Bubble'! Sisi Gelap di Balik Mewahnya Industri Robot Masa Depan

Kesimpulan: Mesin yang Belajar Menjadi Manusia

Aksi viral robot G1 ini menjadi pengingat bahwa di tahun 2026, kita semakin dekat dengan era di mana robot bukan lagi mesin kaku di dalam pabrik, melainkan entitas yang mulai mengisi ruang-ruang kehidupan manusia secara berdampingan. Meskipun reaksi "meringis" robot G1 hanyalah algoritma peniruan posisi, peristiwa ini menunjukkan betapa canggihnya sistem respons robotik saat ini yang mampu menirukan bahasa tubuh manusia dengan sangat halus.

Pada akhirnya, video ini tidak hanya menghibur jutaan warganet, tetapi juga memicu diskusi mendalam tentang etika, keamanan, dan bagaimana manusia harus bersikap saat hidup berdampingan dengan asisten robotik yang semakin pintar. Robot G1 mungkin belum bisa merasakan sakit secara fisik, namun secara visual, ia telah berhasil menirukan salah satu aspek paling manusiawi kita: ekspresi saat mengalami kegagalan dan penderitaan.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

Share :