Krisis 2028 Menghantui, Apa Jadinya Jika AI Mengambil Alih Pekerjaan Kita?

Algis Akbar . February 25, 2026


Foto: citriniresearch.com

Teknologi.id – Bayangkan kita berada pada bulan Juni 2028. Di layar bursa saham, angka-angka merah menyala menandakan kehancuran. Tingkat pengangguran global meroket hingga 10,2 persen, sementara indeks S&P 500 anjlok 38 persen dari puncaknya. Fenomena ini bukanlah naskah film distopia, melainkan sebuah eksperimen pemikiran bertajuk "The 2028 Global Intelligence Crisis" yang disusun oleh firma riset investasi Citrini Research bersama analis Alap Shah.

Laporan ini menyoroti sebuah risiko ekstrem: apa yang terjadi jika kecerdasan buatan (AI) berkembang terlalu cepat melampaui kemampuan sistem ekonomi untuk beradaptasi? Skenario ini menjadi pengingat bahwa efisiensi tanpa batas yang ditawarkan teknologi bisa menjadi bumerang bagi fondasi ekonomi manusia itu sendiri. Dunia kini dipaksa merenungkan kembali arti produktivitas ketika manusia mulai dianggap "usang" di berbagai lini pekerjaan.

Pesta Pora Wall Street dan Munculnya "PDB Hantu"


Foto: chatgp

Krisis ini diprediksi bermula dari euforia buta pada tahun 2026. Saat itu, sektor teknologi menjadi mesin utama penggerak pasar saham, dengan indeks Nasdaq menembus angka 30.000. Perusahaan-perusahaan besar mulai melakukan PHK massal terhadap pekerja kerah putih (white-collar) karena fungsi mereka telah digantikan oleh agen AI yang jauh lebih efisien. Logika bisnis terlihat sempurna di atas kertas karena pemangkasan biaya operasional berarti margin keuntungan yang meledak bagi para pemegang saham.

Namun, di balik angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh pesat, muncul fenomena yang disebut "Ghost GDP" atau PDB Hantu. Ini adalah situasi di mana output produksi tercatat sangat tinggi dalam neraca nasional, namun uangnya tidak berputar di ekonomi riil.

  • Mesin Tidak Belanja: AI tidak membeli beras, membayar biaya sekolah, atau menikmati makan malam di restoran mewah.
  • Basis Konsumen Menyusut: 70 persen penyokong ekonomi adalah konsumsi manusia. Ketika pekerja kehilangan gaji, daya beli menguap, dan roda ekonomi perlahan mati suri.

Baca juga: Artificial General Intelligence: Ancaman, Peluang, atau Lawan Baru Manusia?

Lingkaran Setan Efisiensi Perusahaan

Citrini Research menggambarkan krisis ini sebagai lingkaran setan yang tidak memiliki rem alami. Ketika kemampuan AI meningkat, perusahaan memangkas pekerja untuk efisiensi. Para pengangguran baru ini kemudian berhenti belanja, yang pada gilirannya menekan pendapatan perusahaan ritel. Untuk mempertahankan margin, perusahaan tersebut kembali memangkas pekerja dan berinvestasi lebih besar pada AI.

Berbeda dengan resesi biasa yang bisa diatasi dengan menurunkan suku bunga, krisis 2028 bersifat struktural. Nilai ekonomi kecerdasan manusia menurun drastis. Profesi berbasis pengetahuan seperti programmer, analis, hingga manajer produk menjadi yang paling rentan. Dampaknya bersifat domino; ketika kelas menengah berhenti membeli rumah atau mengganti mobil, industri manufaktur dan properti pun ikut terseret ke jurang resesi.

Kematian Industri dan Krisis Perbankan

Kehancuran tidak berhenti di sektor tenaga kerja, tetapi merembet ke model bisnis berbasis friksi. Agen AI pribadi milik konsumen kini mampu mengambil alih proses keputusan belanja:

  • Perbankan: AI akan memproses transaksi secara cerdas untuk menghindari biaya gesek kartu kredit (interchange fees), mematikan urat nadi pendapatan bank.
  • Sektor Jasa: Raksasa platform pemesanan perjalanan dan agen real estate menjadi tidak relevan karena AI mampu menegosiasikan harga termurah secara langsung tanpa perantara.
  • Layanan TI Global: Negara seperti India yang mengandalkan ekspor jasa TI terancam hancur karena biaya marginal agen AI menyusut drastis hingga hanya setara dengan biaya listrik.

Baca juga: Korea Selatan Gunakan AI Ungkap Wajah Baru Anak Hilang yang Dicari Puluhan Tahun

Tantangan bagi Jaring Pengaman Sosial

Puncak krisis pada tahun 2028 diperkirakan akan membuat pendapatan negara dari pajak penghasilan merosot tajam. Di saat dompet negara menipis, beban subsidi untuk menanggung jutaan penganggur justru meledak. Muncul wacana mengenai pajak komputasi AI sebagai upaya terakhir untuk menciptakan jaring pengaman baru bagi peradaban finansial modern yang sedang di ambang keruntuhan.

Paradoks "melakukan lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit" ternyata memiliki sisi gelap yang mengerikan jika tidak diantisipasi sejak dini. Krisis 2028 memang masih berupa skenario di atas kertas, namun ia menjadi tamparan keras bagi para pembuat kebijakan untuk segera menyesuaikan struktur sosial sebelum manusia benar-benar kehilangan nilai ekonomisnya. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan harkat ekonomi manusia akan menjadi ujian terbesar bagi stabilitas global di masa depan yang tidak terlalu jauh ini. Laporan resminya dapat dibaca di Citrini Research.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(AA/ZA)

Share :