
Foto: ASEAN Briefing
Teknologi.id — Perusahaan otomotif asal China, Beijing Automotive Group (BAIC), mengembangkan baterai jenis baru untuk kendaraan listrik berbasis sodium-ion. Teknologi ini diklaim mampu memangkas waktu pengisian daya secara signifikan, dari sekitar 30 menit menjadi hanya sekitar 11 menit.
Pengisian cepat ini menjadi salah satu keunggulan utama dibandingkan baterai konvensional yang digunakan pada mobil listrik saat ini. Dengan waktu tunggu yang lebih singkat, teknologi ini berpotensi meningkatkan kenyamanan pengguna, terutama saat mengisi daya di perjalanan.
Didukung Teknologi Pengisian Cepat 4C

Foto: Pexels
Kecepatan pengisian tersebut didukung oleh teknologi fast charging dengan arsitektur 4C. Secara sederhana, teknologi ini memungkinkan baterai diisi hingga empat kali lebih cepat dibandingkan metode pengisian standar.
Dengan kemampuan tersebut, pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama saat mengisi daya kendaraan. Hal ini dinilai dapat membuat penggunaan mobil listrik menjadi lebih praktis dalam aktivitas sehari-hari.
Tetap Stabil di Suhu Ekstrem
Selain kecepatan, baterai sodium-ion buatan BAIC juga diklaim memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu ekstrem. Baterai ini dapat digunakan dalam rentang suhu mulai dari -40 derajat Celsius hingga 60 derajat Celsius.
Pada kondisi suhu sangat dingin, sekitar -20 derajat Celsius, baterai ini masih mampu mempertahankan hingga 92 persen kapasitas dayanya. Angka ini menunjukkan penurunan performa yang relatif kecil dibandingkan baterai lithium yang umum digunakan saat ini.
Dalam pengujian internal, baterai ini juga disebut tetap aman dan stabil pada suhu tinggi hingga sekitar 200 derajat Celsius.
Baca juga: Ilmuwan China Ciptakan Baterai Mobil Listrik dari Plastik, Setara Lithium-Ion
Kepadatan Energi Masih Lebih Rendah
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, baterai sodium-ion ini masih memiliki keterbatasan pada aspek kepadatan energi. Dari hasil pengujian, prototipe baterai BAIC memiliki kepadatan energi sekitar 170 Wh/kg.
Angka tersebut masih berada di bawah baterai lithium modern yang umumnya memiliki kepadatan energi di kisaran 200 hingga 300 Wh/kg. Artinya, untuk ukuran yang sama, baterai lithium masih mampu menyimpan energi lebih banyak.
Sebagai perbandingan, baterai sodium-ion milik CATL disebut memiliki kepadatan energi hingga 175 Wh/kg dan akan digunakan pada mobil listrik Nevo A06.
Baca juga: Cara Aman Isi Daya Mobil Listrik di Rumah: Hindari Risiko dengan Langkah Tepat
Masih Tahap Pengembangan
BAIC menyebut teknologi ini masih berada dalam tahap pengembangan. Meski begitu, proses validasi untuk kebutuhan produksi massal disebut telah selesai dilakukan.
Perusahaan juga tengah mengembangkan teknologi lanjutan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan energi serta daya tahan baterai dalam penggunaan jangka panjang. Hingga saat ini, BAIC diketahui telah mengajukan sekitar 20 paten yang mencakup berbagai aspek, mulai dari desain hingga proses produksi.
Potensi Hadir di Pasar China
Meski belum ada jadwal resmi peluncuran, sejumlah laporan menyebut mobil listrik pertama yang menggunakan baterai sodium-ion ini diperkirakan akan meluncur di pasar China pada pertengahan 2026, sekitar bulan Juni hingga Juli.
Jika teknologi ini berhasil dikembangkan lebih lanjut, baterai sodium-ion berpotensi menjadi salah satu alternatif baru dalam industri kendaraan listrik, terutama dalam hal efisiensi waktu pengisian dan ketahanan terhadap berbagai kondisi suhu
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)