Foto: Carnewschina
Teknologi.id - Perkembangan teknologi kendaraan listrik terus melahirkan inovasi tak terduga. Jika selama ini pembaruan baterai identik dengan solid-state atau material berbasis logam baru, kini ilmuwan menghadirkan pendekatan yang benar-benar berbeda.
Alih-alih mengandalkan kobalt atau nikel, tim peneliti asal China justru mengembangkan baterai mobil listrik dari bahan berbasis plastik.
Terobosan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada 18 Februari 2026 dan langsung menarik perhatian global. Baterai berbasis plastik ini dinilai sebagai solusi baru yang lebih ringan, fleksibel, dan berpotensi ramah lingkungan.
Baca juga: Indonesia Kembangkan Baterai Sodium, Solusi Murah untuk Kendaraan Listrik
Baterai Organik Tanpa Logam Berat
Sebuah tim peneliti mengembangkan jenis baterai baru berbasis material organik yang tidak lagi mengandalkan logam berat seperti kobalt dan nikel. Pendekatan ini menjadi langkah penting dalam upaya menciptakan teknologi baterai yang lebih ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.
Riset tersebut dipimpin oleh Xun Yinhua dari Tianjin University bersama Huang Fei dari South China University of Technology.
Sebagai pengganti logam berat, mereka memanfaatkan polimer organik bernama PBFDO sebagai katoda, yaitu komponen utama dalam baterai. Material ini memiliki sifat menyerupai plastik, sehingga membuat struktur baterai menjadi lebih ringan dan fleksibel.
Langkah ini dinilai signifikan karena kobalt dan nikel selama ini dikenal mahal, sulit diperoleh, serta memiliki dampak lingkungan yang cukup besar akibat proses penambangannya. Dengan penggunaan material organik, baterai masa depan berpotensi lebih efisien dan berkelanjutan.
Performa Setara Lithium-Ion

Foto: ArenaEV
Salah satu tantangan utama baterai organik adalah performa yang biasanya kalah dibandingkan baterai konvensional. Namun, penelitian ini justru membalik anggapan tersebut. Dalam pengujian, baterai prototipe tipe pouch yang mereka kembangkan mampu mencapai kepadatan energi hingga 250 Wh/kg. Angka ini setara dengan baterai lithium-ion canggih yang saat ini digunakan pada banyak mobil listrik. Artinya, dari sisi daya simpan energi, baterai berbasis plastik tidak lagi bisa dianggap sebagai alternatif kelas dua. Teknologi ini bahkan berpotensi menjadi pesaing serius bagi baterai yang ada saat ini.
Tahan Suhu Ekstrem dan Lebih Aman
Keunggulan lain dari baterai plastik ini adalah kemampuannya bertahan di suhu ekstrem. Jika baterai konvensional cenderung mengalami penurunan performa di suhu dingin atau berisiko overheat saat panas, baterai organik ini mampu bekerja dalam rentang suhu -70 hingga 80 derajat Celsius.
Selain itu, hasil uji coba juga sangat menjanjikan dari sisi keamanan. Dalam simulasi ekstrem seperti penusukan jarum ke dalam sel baterai, tidak ditemukan asap maupun perubahan bentuk. Temuan ini menjadi keunggulan tersendiri, terutama karena isu kebakaran baterai masih menjadi tantangan utama dalam industri kendaraan listrik.
Fleksibel dan Berpotensi Mengubah Desain Kendaraan
Berkat penggunaan material polimer, baterai ini memiliki tingkat kelenturan yang tidak dimiliki baterai konvensional. Struktur baterainya memungkinkan untuk dilipat, diregangkan, hingga diberi tekanan tanpa mengalami kerusakan.
Kemampuan ini membawa dampak besar bagi pengembangan desain kendaraan di masa depan. Baterai tidak lagi harus berbentuk kaku dan ditempatkan di bagian bawah mobil seperti saat ini.
Sebaliknya, bentuknya bisa disesuaikan dengan struktur kendaraan, bahkan berpotensi menyatu sebagai bagian dari rangka.
Dengan pendekatan ini, produsen mobil memiliki peluang untuk menciptakan desain yang lebih ringan, hemat ruang, sekaligus lebih inovatif.
Baca juga: Tembus 1.000 KM Sekali Cas, Peneliti Korea Selatan Ciptakan Baterai Mikro Silikon
Potensi Lebih Murah dan Ramah Lingkungan
Selain unggul dari sisi teknis, baterai berbasis plastik juga menawarkan kelebihan dari segi produksi. Tidak seperti logam berat yang harus ditambang dari dalam bumi, polimer organik dapat dibuat dari bahan yang lebih umum dan mudah diperoleh.
Jika teknologi ini berhasil diproduksi secara massal, biaya produksi baterai bisa ditekan secara signifikan. Selain itu, ketergantungan terhadap sumber daya alam yang terbatas juga dapat dikurangi.
Meski hasilnya sangat menjanjikan, baterai plastik ini masih berada dalam tahap prototipe. Namun, serangkaian pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa teknologi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
Jika penelitian ini terus berlanjut dan berhasil masuk tahap produksi, bukan tidak mungkin baterai berbahan plastik akan menjadi standar baru dalam industri kendaraan listrik.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa masa depan energi tidak selalu bergantung pada material konvensional. Dengan pendekatan yang lebih kreatif dan berkelanjutan, plastik yang selama ini dianggap masalah lingkunganjustru bisa menjadi bagian dari solusi.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(ir/sa)

Tinggalkan Komentar