Cuma Sisa 18 Bulan? Bos Microsoft AI Sebut Pekerjaan Kantoran Akan Digantikan Robot

Wildan Nur Alif Kurniawan . February 20, 2026


Foto: Youtube/TED

Teknologi.id – Lanskap dunia kerja global kini tengah berada di ambang transformasi radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Gelombang pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang makin masif tak lagi sekadar menjadi wacana teknologi, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas karier jutaan pekerja profesional. Peringatan keras baru-baru ini datang dari para petinggi perusahaan teknologi raksasa, yang menilai bahwa otomatisasi akan segera mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia, khususnya di sektor perkantoran atau yang lazim dikenal dengan istilah white-collar.

Peringatan Keras dari CEO Microsoft AI

Puncak dari peringatan mengenai masa depan dunia kerja ini disuarakan oleh CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis, Suleyman memprediksi skenario yang cukup mengejutkan: sebagian besar pekerjaan kantoran akan mengalami otomatisasi secara penuh hanya dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. Pernyataan ini menjadi alarm darurat yang berbunyi nyaring bagi para profesional yang selama ini merasa posisi mereka aman dari disrupsi teknologi.

Menurut pandangan Suleyman, perkembangan model kecerdasan buatan saat ini telah mencapai sebuah titik kritis. AI masa kini tidak lagi sekadar alat bantu komputasi dasar, melainkan sudah berada di ambang batas kemampuan yang setara dengan kecerdasan kognitif manusia untuk menyelesaikan hampir seluruh tugas profesional sehari-hari dengan efisiensi tinggi.

"Pekerjaan white collar seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga marketing, sebagian besar tugasnya akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12-18 bulan," ujar Suleyman, sebagaimana dikutip dari publikasi Futurism pada Kamis (19/2/2026).

Baca juga: Stop Coding! CEO Nvidia Jensen Huang Sebut AI Bikin Programmer Tak Perlu Kode Lagi

Ancaman Nyata bagi Beragam Profesi Keahlian Tinggi


Foto: Getty Images

Spesifikasi profesi yang disebutkan oleh Suleyman dalam prediksinya menunjukkan bahwa jangkauan kemampuan AI kini luar biasa luas. Teknologi ini tidak hanya menyasar pekerjaan administratif yang bersifat repetitif dan membosankan, tetapi juga mulai menggerus pekerjaan-pekerjaan yang secara tradisional membutuhkan analisis mendalam, sintesis data yang rumit, dan pengambilan keputusan strategis.

Sebagai contoh nyata, profesi pengacara dan akuntan yang secara historis selalu dianggap sebagai pekerjaan berkeahlian tinggi dan prestisius, kini berada di garis depan kerentanan. Sistem AI modern terbukti mampu memproses jutaan dokumen legal, preseden hukum, dan laporan keuangan rumit hanya dalam hitungan detik—dengan tingkat akurasi yang kerap kali melampaui ketelitian manusia. Demikian pula halnya dengan peran manajer proyek dan tenaga pemasaran (marketing), di mana algoritma mutakhir saat ini dapat dengan mudah merancang strategi, mengelola jadwal operasional tim, hingga menganalisis tren pasar konsumen secara otonom.

Baca juga: Revolusi Nvidia! Teknik DMS Bikin AI Lebih Cepat dan Hemat Biaya Infrastruktur

Konsensus Para Petinggi Industri Teknologi

Kekhawatiran mengenai invasi masif kecerdasan buatan di dunia kerja perkantoran rupanya bukanlah pandangan tunggal dari kubu Microsoft semata. Sejumlah tokoh sentral yang menjadi penggerak utama di industri kecerdasan buatan juga menyuarakan peringatan yang senada mengenai masa depan pasar tenaga kerja global yang tampak kian tidak pasti.

CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya telah memproyeksikan skenario ekonomi yang tak kalah mengkhawatirkan. Ia secara terbuka menyebutkan bahwa teknologi AI berpotensi besar untuk menghapus hingga 50 persen pekerjaan kelas pekerja kantoran di tingkat pemula (entry-level). Kondisi ini mengisyaratkan bahwa para lulusan baru perguruan tinggi (fresh graduates) akan menghadapi tantangan terberat untuk bisa menembus kerasnya pasar kerja di masa mendatang, mengingat tugas-tugas dasar analitis akan diambil alih oleh mesin cerdas.

Sejalan dengan hal tersebut, tokoh fenomenal di balik kepopuleran ChatGPT, yakni CEO OpenAI Sam Altman, juga menegaskan sikapnya. Altman menyatakan bahwa keberadaan AI pada akhirnya bisa menghancurkan kategori pekerjaan tertentu secara permanen dari ekosistem industri. Kesepakatan pandangan dari para pemimpin ekosistem AI ini menegaskan satu hal: otomatisasi besar-besaran bukan lagi sekadar kemungkinan teoretis, melainkan kepastian yang sedang berjalan.

Bukan Lagi Masalah 'Apakah', Melainkan 'Seberapa Cepat'

Berbagai peringatan keras dari tokoh-tokoh sentral teknologi ini mau tidak mau mengubah paradigma publik dan pemerintah mengenai ancaman kecerdasan buatan. Pertanyaan fundamental yang saat ini dihadapi oleh pembuat kebijakan dan masyarakat global bukan lagi mengenai apakah AI akan benar-benar mengubah lanskap dunia kerja. Realitas di lapangan membuktikan bahwa kita telah melampaui fase perdebatan tersebut.

Fokus pertanyaan krusial saat ini telah beralih pada seberapa cepat transisi drastis ini akan benar-benar terjadi secara menyeluruh, dan seberapa besar dampak destruktif maupun konstruktifnya terhadap jutaan nasib pekerja profesional di seluruh belahan dunia. Tenggat waktu 18 bulan yang dilemparkan oleh pihak Microsoft AI tidak pelak memberikan tekanan struktural bagi setiap elemen perusahaan maupun tenaga kerja individu untuk segera beradaptasi agar tidak tertinggal oleh pesatnya laju inovasi mesin.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News


(WN/ZA)

Share :