Tan Glant Soroti Risiko Over-Leverage di Tengah Lonjakan Pembiayaan Paylater

Anindita . November 02, 2026


Kemudahan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pembiayaan. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan baru bagi industri keuangan: bagaimana memastikan debitur tidak mengambil fasilitas kredit melebihi kemampuan bayarnya?

Temuan PT PEFINDO Biro Kredit (IdScore) menunjukkan bahwa persoalan ini perlu mendapat perhatian. Dalam media gathering pada 28 April 2026, Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, mengungkapkan bahwa rata-rata debitur memiliki tujuh fasilitas kredit aktif di berbagai lembaga jasa keuangan. Bahkan, ditemukan kasus ekstrem dengan lebih dari 1.000 fasilitas kredit aktif. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko over-leverage apabila tidak dikelola secara hati-hati.

Pertumbuhan Paylater dan Risiko di Baliknya

Temuan tersebut hadir di tengah pertumbuhan pembiayaan BNPL yang masih tinggi. Berdasarkan data IdScore per Mei 2026, outstanding pembiayaan BNPL mencapai Rp48,5 triliun, tumbuh 23,72% secara tahunan. Jumlah tersebut berasal dari 82,3 juta fasilitas pembiayaan yang dimiliki oleh 26,8 juta debitur. Jumlah debiturnya sendiri meningkat 44,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, IdScore mencatat rasio Non-Performing Financing (NPF) BNPL sebesar 3,11% pada Mei 2026, menjadi level tertinggi secara tahunan pada periode tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pembiayaan perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko dan pemantauan kualitas pembayaran.

Perlu dicatat, angka tujuh fasilitas aktif dan kasus lebih dari 1.000 merupakan temuan mengenai kepemilikan fasilitas kredit debitur di berbagai lembaga jasa keuangan. Angka tersebut tidak berarti seluruh fasilitas yang dimiliki merupakan produk paylater. Namun, temuan ini memperlihatkan pentingnya melihat total eksposur kredit seseorang, bukan hanya pembiayaan dari satu penyedia.

Peran Data dan Teknologi dalam Pengelolaan Risiko Kredit


Dalam menghadapi kompleksitas tersebut, ketersediaan data kredit yang terintegrasi menjadi salah satu elemen penting. Lembaga keuangan perlu memiliki gambaran yang lebih menyeluruh mengenai riwayat dan kewajiban kredit calon debitur agar penilaian kemampuan bayar tidak hanya bertumpu pada informasi dari satu sumber.

Di sinilah peran biro kredit seperti IdScore menjadi relevan. Sebagai lembaga pengelola informasi perkreditan, IdScore menyediakan data dan solusi analisis yang dapat dimanfaatkan lembaga keuangan untuk mendukung proses penilaian risiko, termasuk melalui credit scoring, fraud detection, dan portfolio monitoring.

Salah satu pengembangan teknologi IdScore adalah EAGLE, core system yang diperkenalkan pada November 2025. Sistem ini dirancang untuk mengelola, memproses, menyajikan, dan mendistribusikan data kredit maupun data lainnya. EAGLE juga mendukung proses credit scoring dalam hitungan detik, sehingga dapat membantu mempercepat ketersediaan informasi bagi lembaga keuangan dalam melakukan analisis risiko.

Pengembangan sistem tersebut menunjukkan bagaimana infrastruktur teknologi dan pengolahan data berperan dalam mendukung pengambilan keputusan kredit. Meski demikian, hasil analisis tetap perlu digunakan bersama evaluasi kemampuan bayar, kebijakan risiko, dan pertimbangan profesional dari masing-masing lembaga keuangan.

Regulasi dan Prinsip Responsible Lending

Penguatan pengelolaan risiko BNPL juga menjadi perhatian regulator. Pada Desember 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan POJK Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Buy Now Pay Later.

Regulasi tersebut mengatur penyelenggaraan BNPL oleh bank umum dan perusahaan pembiayaan, termasuk aspek prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, perlindungan data pribadi, keterbukaan informasi, serta mekanisme penagihan dan pelaporan.

Ketentuan ini mempertegas bahwa pertumbuhan layanan pembiayaan digital perlu berjalan seiring dengan tata kelola dan manajemen risiko yang memadai. Bagi penyedia BNPL, penilaian kemampuan bayar dan pemantauan portofolio menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pembiayaan.

Menjaga Pertumbuhan Kredit Tetap Sehat

Temuan IdScore mengenai rata-rata tujuh fasilitas aktif hingga kasus lebih dari 1.000 fasilitas menjadi pengingat bahwa akses pembiayaan yang semakin mudah juga membawa tantangan dalam pengelolaan risiko. Pertumbuhan BNPL tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan nilai pembiayaan dan jumlah pengguna, tetapi juga dari kemampuan industri menjaga kualitas kredit.

Bagi lembaga keuangan, pemanfaatan data yang lebih terintegrasi, sistem credit scoring yang memadai, serta pemantauan eksposur debitur lintas lembaga dapat mendukung keputusan pembiayaan yang lebih terukur.

Melalui pengembangan EAGLE dan solusi informasi perkreditan lainnya, IdScore mengambil bagian dalam penyediaan infrastruktur data untuk mendukung ekosistem pembiayaan. Pada akhirnya, keseimbangan antara inovasi digital, akses kredit, dan prinsip responsible lending menjadi kunci agar pertumbuhan paylater dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.




Share :