CEO GitHub Simpan 24 terabyte Open Source Code di Dekat Kutub Utara

Teknologi.id . January 02, 2020

GitHub

Foto: bloomberg.com


Teknologi.id - Semakin buruknya efek pemanasan global terhadap perubahan iklim di bumi, membuat kita mau tak mau harus bersiap menghadapi masa depan kehidupan yang suram. Melihat kondisi tersebut, GitHub saat ini diketahui tengah mempersiapkan akhir dunia yang berbeda.

CEO GitHub Nat Friedman ingin memastikan bahwa open source code dari perangkat lunak populer seperti TensorFlow dan Flutter tetap dapat bertahan meski suatu saat bumi dihantam oleh kiamat nuklir atau bencana alam lainnya.

Dalam Universe Developer Conference yang dilaksanakan pada bulan November lalu, GitHub mengumumkan Arctic Code Vault, sebuah proyek baru untuk mengarsipkan perangkat lunak source code planet ini dan memastikannya dapat digunakan di dunia masa depan dan generasi mendatang yang mungkin tidak memiliki mesin atau pengetahuan untuk membacanya. 

Di dalam arsip. Foto: bloomberg.com


Kode untuk semua proyek open source akan disimpan di dalam gulungan film yang dilapisi bubuk besi oksida untuk memberikan ketahanan yang kuat, Gulungan film tersebut dirancang oleh Piql AS, sebuah perusahaan Norwegia yang mengatakan bahwa bahan tersebut dapat bertahan hingga 1000 tahun.

Tampilan luar dari bekas tambang batubara yang menjadi tempat Arktik World Archive. Foto: bloomberg.com


Kode ini akan ditempatkan di sebuah tambang batubara yang dinonaktifkan di kepulauan Svalbard, Norwegia, dekat dengan Kutub Utara dan satu mil dari Gudang Benih Global. Pengarsip percaya bahwa kondisi dingin dan hampir konstan dapat membantu pelestarian.

Setoran data pertama di brankas diantaranya adalah source code untuk sistem operasi Android dan Linux, serta berbagai bahasa pemrograman, platform web, cryptocurrency, dan alat AI. GitHub berencana untuk memiliki semua repositori publik yang aktif disimpan pada Februari 2020.

Baca juga: Sagara Technology Ajak Generasi Muda Jadi Pengusaha Startup Digital

Data akan disimpan berdampingan dengan arsip nasional yang dilestarikan secara digital dari seluruh dunia, termasuk karya seni, musik, terobosan ilmiah, naskah sejarah, dan temuan arkeologi. Jika di masa depan nanti muncul kehidupan baru, semua data ini bisa digunakan untuk membantu membangun kembali masyarakat global. 

Jika tidak, data tersebut setidaknya akan bertindak sebagai kapsul waktu yang berharga. Bagaimanapun, 20 tahun yang lalu open source code adalah hanya sebuah ide, namun sekarang dunia tergantung padanya. Siapa yang tahu akan seperti apa teknologi dalam waktu 1.000 tahun?

(dwk)

Share :